Katakan saya ketinggalan jaman atau apalah. Saya baru tahu kalau Museum Konferensi Asia Afrika punya kegiatan Movie Week tiap hari Selasa. Demi ubur-ubur, ingin lompat-lompat rasanya.
Senang sekali bisa nonton film tanpa tiket, di ruang temaram dengan dukungan audio visual yang oke, disuguhi camilan dan minuman hangat pula. Setelah itu masih ada diskusi tentang film yang telah diputar. PR buat saya, kalau ikut Movie Week lagi jangan lupa bawa gelas sendiri, karena di sana hanya disediakan gelas plastik. Hohho.. belum tau medan sih ya, taunya tasik
Karena baru pertama ikutan juga, selama diskusi saya lebih senang memperhatikan. Film yang tadi saya tonton judulnya “Cinta dalam Sepotong Roti”.
Saya baru tau loh ada film Indonesia yang satu ini. Film peraih penghargaan Film Terbaik FFI 1991 dan 4 piala Citra lain untuk artistic, editing, musik, dan sinematografi ini merupakan salah satu debut Garin Nugroho.

Film ini memiliki tiga tokoh utama, Haris (Adjie Massaid), Mayang (Cut Rizky Theo), dan Topan (Tio Pakusadewo). Alur kisahnya sederhana saja, mereka bertiga teman sejak kecil. Ketika dewasa, Haris menikah dengan Mayang. Namun kemudian, Haris yang memiliki trauma masa kecil karena ibunya, ternyata tidak bisa memuaskan istrinya dalam urusan nafkah batin. Kala itu Topanlah teman yang selalu ada untuk Mayang. Seolah terlambat menyadari, sebenarnya Topan dan Mayang sudah saling menyukai sejak dahulu.
Benarkah sesederhana itu?
Cara Lain Garin
Menurut salah seorang penonton –saya lupa namanya– akang yang “satu era” dengan film ini, film ini dibuat saat jamannya GDN (Gerakan Disiplin Nasional), jamannya P4 (apa sih, lupa, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila?). Film ini dibuat dalam masa kejayaan TVRI, saat semua orang menonton “Dunia dalam Berita” dan “Aneka Ria Safari”. Dengan kata lain, film ini dibuat ketika selera masyarakat belum beragam. Lalu Garin membawakan sesuatu yang tidak biasa; sebuah film syarat simbol.
Lihatlah bagaimana roti selai serikaya disukai oleh Topan dan Mayang. Haris? selai arbei yang disukainya. Roti selai serikaya ini agaknya gambaran keterikatan hati Topan dan Mayang. Lihatlah bagaiman cincin kawin Mayang direkam kamera saat berdua dengan Topan. Seolah itulah tanda harus berhenti, betapapun gejolak hati ingin terus melampaui batas.
Mas Tobing –semoga tidak salah namanya– mengatakan, film era awal 90-an ini dari segi teknis, okelah diakui, ada terasa gambar yang kaku, terutama shoot2 dari atas dengan menggunakan helikopter. Tapi lihatlah bagaimana Garin berkembang di film-film selanjutnya. Sangat lain dengan orang yang bahkan sudah puluhan kali bikin film masih saja sampah. (#dukung p*nj*b* deportasi ke india!!) Inilah film yang bahkan 20 tahun kemudian masih mengundang orang untuk mendiskusikannya, untuk sekedar beradu pandangan tentang “ini oke gak sih?”
Penonton juga menyoroti permasalahan utama dalam film ini: Haris tidak bisa melayani Mayang dalam urusan ranjang. Aslinya, kalau dipikir-pikir ya memang itulah sumber konflik di film ini. Dan aslinya juga, Garin tidak menyajikan permasalahan seks ini dengan vulgar, tapi tetap dewasa.
Film Puitis
Garin tidak memilih Onky Alexander yang lagi ngetop-ngetopnya saat itu. Ingin membawa suasana berbeda, si pendatang baru Adjie Massaid dan Cut Rizky Theo yang dipilihnya sebagai bintang utama bersama Tio Pakusadewo.
Kompensasinya adalah, dalam beberapa adegan yang close-up, Adjie dan Rizky Theo dirasa kurang greget mengolah ekspresi. Tapi kemudian tergantikan oleh gambar-gambar puitis arahan Garin.
Pantai yang indah, langit biru tanpa batas, padang rumput, gunung dan bukit-bukit. Memanjakan mata! Setiap penonton bertanya-tanya, “ini di sebelah mananya Jawa? sebelah mananya Indonesia?” terjawab sudah setelah kata “baluran, banyuwangi” tertangkap mata di bagian Credit Title. Oooh..
Kata Kang Adew, “film ini puitis, bahasanya mungkin terdengar sangat ber-EYD, baku, tapi indah. liat aja berantem juga latarnya pantai yang indah.”
Oh iya, salah satu sumber ke-puitis-an film ini adalah puisi2 karya kakek Sapardi Djoko Damono yang turut muncul di film ini. Salah satunya puisi berjudul “Aku Ingin”.
Tentang Credit Title
Ini bincang-bincang Mas Tobing sih. Menurut saya menarik. Beliau itu pegiat LayarKita, salah satu komunitas yang mempelopori kegiatan Movie Week ini. Bahwa, credit title sebenarnya adalah bagian penting dalam film. PENTING.
Tapi kenyataannya, 21 sudah menyalakan lampu saat credit title masih diputar (kata beliau, blitz ga gitu). Lebih parah lagi, stasiun TV kerap kali memotong bagian credit title sewaktu menayangkan film.
OMG. Padahal orang sampai minjem duit sana-sini buat modal bikin film. Credit title itu hanya sebagian saja dari upaya penghargaan kepada seluruh komponen pembuat film.
Ok, sekian saja, sodara-sodara. Maaf kalau tulisan saya ga stabil.
Can’t wait for the next
Like this:
Be the first to like this post.
hidup anak kecil!!!
“…Namun kemudian, Haris yang memiliki trauma masa kecil karena ibunya (komakahdisini?) ternyata tidak bisa memuaskan istrinya dalam urusan nafkah batin…”
iya ya teh, harusnya ada koma, hihihi.. terima kasih
uhuy…hebat euy langsung bikin tulisan…
heu2,,sebenernya aneh juga ya, kalo biasanya yang kita bahas di markinon adalah pelem2 lingkungan..dan tiba2 kemarin dapet nuansa beda aja dalam nonton bareng..
oya, kenapa di markinon gak pernah ada yang komen tentang tata cahaya dll masalah teknis ya?
hihihi.. iya teh, film tentang masalah rumah tangga, bahasa gambarnya puitis pula.. tapi seneng banget ada komunitas kaya gini di bandung, ada tempat nonton film langka
menurutku sih karena yang datang ke acara ini adalah pecinta film, jadi yang diobrolin juga film secara keseluruhan, termasuk masalah teknis. kalo markinon, yang dateng itu pecinta lingkungan, jadi yang dibahas lebih banyak ke isu yang dibawa si film untuk disikapi bersama, hehehe
saya pernah sekali nonton film ini. sekali!!! dan itupun di tv (karena saya tidak suka bioskop). dulu, pertengahan tahun 90-an. itupun ketinggalan penggalan awal ceritanya. saya nonton tanpa sengaja dan tanpa tahu judul film yg saya tonton saat itu. tapi begitu selintas melihat scen yg ada, saya tahu pasti ini adalah film garin yg sangat saya kagumi. sejak saat itu saya mencoba mencari cd film itu di berbagai tempat, tapi tidak pernah ketemu. search di internet gak pernah ada. sampai sekarang saya masih ingin menikmati kembali film tersebut.
boleh tau bagaimana cara nontoon film ini kembali? di museum asia afrika? apakah film itu diputar atas permintaan kita atau pihak museum yang mengoirganisir?
museum konperensi asia-afrika (mkaa) punya semacam klub menonton gitu, mas bagus. tiap hari selasa siang. film-filmnya ditentukan oleh panitianya. acara nonton ini kerjasama sama komunitas layarkita. film-filmnya beragam, tidak hanya film indonesia, dan dari berbagai genre. kalau kata saya sih film-filmnya selalu yang berkualitas, dan unik.
sepengamatan saya, yang ngatur film segala macam dari pihak layarkita-nya, pihak mkaa hanya menyediakan tempat. layarkita juga muter film di CCF tiap senin sore. kalau ga salah, layarkita juga punya rekanan distributor film (jive apa ya, lupa), mungkin dari situlah dvd-dvd film yang dputer berasal. coba tanya mas tobing (dari layarkita) deh, atau join grup layarkita di fb. soalnya saya juga ga tau banyak