langit berawan

“kenapa kau menghalangi manusia untuk melihat matahari?”

“aku hanya ingin berada dekat-dekat matahari”

“untuk apa?”

“aku mau mengerti mau matahari”

“bukankah kau sudah mengerti?”

“tadinya kupikir semudah itu, tapi ternyata tidak”

“tapi kau membuatku tak biru lagi”

“itu bagus, aku melenyapkan biru”

“tapi manusia akan sedih karena langit kelabu”

“tak apa, manusia punya banyak cara untuk bahagia. dan waktu kelabu, mereka akan menemukan cara yang unik, yang hampir mereka lupakan”

“jadi apa yang kau tidak mengerti dari matahari?”

“sebenarnya aku mngerti sedikit, tentang ketidakteraturan yang menyusun sebuah keteraturan. kurasa kau ngerti”

“nggak. aku nggak ngerti”

“apa kau tau kalau mereka sebenarnya tidak berjalan seiringan”

“mereka? kau membicarakan berapa matahari sih?”

“matahari cuma ada satu. tapi kupikir aku lebih baik menggunakan kata ganti ‘mereka’ daripada ‘dia’. kau tau kan, helium-helium itu”

“baiklah, jadi ada apa dengan ‘mereka’?”

“mereka tidak berotasi bersama-sama. ekuator matahari dengan kutubnya bahkan memiliki selisih waktu rotasi sampai 10 hari lamanya”

“jadi kau melihat mereka berjalan sendiri-sendiri?”

“nggak gitu juga sih, kan tadi aku bilang, ketidakteraturan yang menyusun sebuah keteraturan. maksudku mereka, helium-helium itu, memang begitu adanya”

“kenapa kau tidak melihat matahari seperti manusia melihat matahari saja? maksudku ‘dia’, sebagai satu kesatuan, bundar dan bersinar”

“aku juga melihatnya seperti itu, melihat keteraturan yang mereka ciptakan. tapi kupikir memahami ketidakteraturannya akan membuatku lebih menghargai semuanya”

“jadi sekarang kau sudah mengerti?”

“entahlah”

“kapan kau akan membuatku biru lagi?”

“aku nggak tau, aku nggak punya rencana tentang itu. sampai seorang anak kecil berhenti menangis dan meraih logikanya kembali. mungkin”

“maksudmu dia? dia melihat ke atas dari tadi”

“ya aku tau, daritadi dia menguping pembicaraan kita”

“tapi dia tidak sedang menangis. sebenarnya apa yang sedang dia lakukan?”

“oh, dia sedang menunggu hujan. dia mau hujan menyembunyikan airmatanya yang tak berhenti mengalir di hatinya”

“hm, menangis dalam hati. dia sedang berpura2?”

“tidak. bahkan dia lupa caranya untuk berpura-pura. dia hanya butuh lebih menghargai biru. kau tau. setelah ini aku akan menguap dan membiarkan lagit biru untuknya”

“kurasa dia akan tersenyum”