filosopi kerupuk

sepulang kuliah matdis, saya mendapati Seli, cucu ibu kost yang masih SD sedang mencoba mengurai tali rapia yang kusut. saya bertanya untuk apa, katanya mau bikin lomba makan kerupuk bersama teman2 nya. saya tertawa, lalu saya bilang, oh, mau latihan ya. 17 agustus tidak kurang 2 hari lagi.

hm, saya jadi kangen dengan euforia 17-an masa kecil. perayaan kemerdekaan dimaknai sesederhana itu, lomba makan kerupuk. mungkin memang itu pemikiran yang paling jujur. untuk anak kecil bisa jadi itu adalah hal yang paling rumit, dan paling hebat, yang bisa dipikirkan.

tapi, bukankah lomba makan kerupuk bukan perkara sederhana? itu tentang kerja keras latihan, kemauan mendaftar lomba, kesabaran menunggu giliran lomba, sportivitas saat lomba, semangat juang untuk menang, tentang gengsi antar teman, bahkan tentang mencatatkan sejarah di RT/RW masing2.
rumit, bukan?

nah, masalahnya, kita, saya dan sahabat semua, tidak lagi bisa dikategorikan sebagai anak kecil. lomba makan kerupuk tidak lagi menjadi tindakan heroik dalam memaknai hari kemerdekaan. bahkan kita dilabeli status mahasiswa sekarang, orang yang berpendidikan tinggi. (seorang teman saya pernah mengatakan kalau status mahasiswa itu terlalu berat, diembel2i ‘agent of change’ segala katanya)

wow. maha-siswa. siswa yang ‘paling’ sejagat pendidikan indonesia. sang pembelajar.

kenapa ya orang sering mempertanyakan, apa yang harus dilakukan untuk mengisi dan memaknai kemerdekaan? apa kita sudah benar2 merdeka?
ah ya, tentu saja, banyak yang bisa dilakukan untuk bisa merdeka sepenuhnya. merdeka dari kebodohan, merdeka dari kemiskinan, merdeka dari korupsi, merdeka dari keterpurukan.

tapi saya tidak berminat untuk membuat elaborasi lebih jauh tentang kemiskinan ataupun korupsi.

sekarang, mari kita belajar dari anak kecil untuk berpikir sederhana. para pendahulu kita telah berjuang melawan penjajah. dan bagian kita untuk nerusin perjuangan itu. cuma penjajah nya beda versi sekarang.

yang kita lawan sekarang adalah.. diri sendiri (dg segala rasa malas dan egoisme..).
iya, kalahkan diri sendiri untuk bsa lebih peka dan berani bertindak.

boleh tuh dibarengi dengan filosopi lomba makan kerupuk, tentang berusaha, bersabar, melakukan yang terbaik, berprestasi, dan mencatatkan sejarah hidup.

tapi jangan gampang melempem kaya kerupuk.
yah, kita kan orang, bukan kerupuk..

mencari makna itu bisa di mana saja. tapi ngga semua orang bisa.
semangat.