ketika manohara lewat di otak saya

kemarin saya tidak ada kerjaan, sampai2 saya memikirkan manohara.

apa yg menyebabkan dia menerima gelar kehormatan dr keraton surakarta, padahal dia lbh lancar ngomong english timbang indonesia.

dan apakah manohara disuntik hormon seperti ayam pedaging hingga tinggi montok bgtu. teman saya bilang dia terlalu bnyk mengkonsumsi bakingpowder dan fermipan.

kami jadi bertanya2, sebenarnya yg diomongin itu orang atau roti kukus?

tapi saya jadi merasa bersalah sama manohara. kalau ada yg kenal tolong sampaikan maaf saya.

“30 hari untuk 20 tahun” catatan harian buat Mbu #2

july 2nd

Memulai pergantian hari di kosan Nuy. Ya kan semalem saya ngungsi gara-gara menyan. Saur pake mi instan.

Tidak banyak yang saya lakukan hari ini, kerja kelompok dan karokean di kosan Yaya. Lagunya lagu-lagu jadul Doel Sumbang dunk, hahahaha… Bukan karokean juga sih, ya nyanyi-nyanyi ga jelas aja.

Sorenya ceritanya ngabuburit, asik sendiri jalan kaki ke depan. Berniat beli molen nanas, tapi ternyata yang jualnya udah nggak ada. Jadi diputuskan beli batagor saja, tapi sebelum itu belok dulu ke tukang loak buku. Beli majalah Bobo bekas, limarebuan, padahal si dm udah ga punya duit loh, hahaha…

Kata majalah Bobo (edisi khusus makanan), kalau nyelup teh celup jangan lebih dari 3 menit. Soalnya kertas yang dipake buat teh celup itu kan mengandung klorin (pemutih), kalau dicelup lama-lama nanti klorinnya ikut larut. Dalam jumlah banyak klorin bisa meracuni tubuh.

Seminggu ini saya shaum Rajab, makannya uang cepat habis. Soalnya kalau shaum justru jadi sering ngidam makanan, haha!
Ya selain karena jadi lebih sering keluar buat ngeliput, refreshing nonton di bioskop habis UAS (alesan), beli komik Conan juga sih.

Ya gitu deh, ATM saya belel. Haha. 🙂

“30 hari untuk 20 tahun” catatan harian buat Mbu #1

july 1st

Halo. Ibu. Tadi saya pergi begitu saja dari kosan. Saya tidak suka berada di sana. Berpikir kalau berada di sana itu mengerikan. Ya sebenarnya tidak sih, saya tinggal diam saja di kamar. Tapi saya merasa tidak nyaman berada di sana dengan kenyataan bahwa di ruangan sebelah ada sesajen lengkap dengan menyan yang dibakar dan orang-orang yang berkumpul sambil berdoa.

Ngomong-ngomong tadi siang saya muter-muter UPI, ngeliput SNMPTN di sana. Setelah sebulan magang jadi jurnalis on-line, kewajiban saya nambah, dari satu liputan menjadi tiga liputan per minggunya.

Hmm, lumayan tuh harus nulis. Redaktur saya bilang, pekerjaan intelektual seorang jurnalis itu bukan menulis berita, tapi bagaimana ia bisa bercerita. Ya baiklah, saya masih utang tulisan minggu kemarin sih, sama ada satu review film yang harus direvisi.

Saya jadi berpikir, apakah harus mencari kosan baru. Enaknya sih yang bareng sama temen-temen ilkom juga, biar ada temen belajar, bahan kuliah makin berat aja makin ke sini.