smile. nat king cole.

Smile though your heart is aching
Smile even though its breaking
When there are clouds in the sky, youll get by
If you smile through your fear and sorrow
Smile and maybe tomorrow
Youll see the sun come shining through for you

Light up your face with gladness
Hide every trace of sadness
Although a tear may be ever so near
Thats the time you must keep on trying
Smile, whats the use of crying?
Youll find that life is still worthwhile
If you just smile

-artist: nat king cole
-peak billboard position # 10 in 1954
-competing versions charted by sunny gale (#19) and david whitfield (#25).
-also charted in 1959 by tony bennett (#73); in 1961 by timi yuro (#42); in
-1962 by ferrante and teicher (#94); and in 1965 by betty everett and jerry
-butler (#42).
Words by john turner and geoffrey parsons and music by charlie chaplin

panik

wew. kaget.

saya lagi asik ngenet di kosan, sambil winamp saya ga bosen ngulang-ngulang lagu Simphoni Hitam-Sherina.

teman saya pulang, datang-datang panik dia.

teman laki-lakinya ditonjok orang di depan gang, berdarah-darah, banyak, banyak banget.

katanya ada orang marah, ngerasa dihalangin motor mereka, turun dari mobil terus marah-marah, nonjok deh.

taruhan orang yang nonjok itu lagi mabok, atau dia ga waras.

saya bersikap sok tenang melihat banyak bekas darah di tangan teman saya.

saya kasih tisu, dan air panas. saya tanya orang2 (kirim sms dan masang status di facebook), gimana caranya ngeberhentiin darah yang ga berhenti mengalir dari idung temannya teman saya itu.

sms teman yang kira2 punya pengalaman berantem, sms teman yang kuliah di kedokteran.

yah, hanya mencoba berusaha mencari penyelesaian masalah.

tapi saya masih ingat untuk menanyakan pesanan saya kepada teman saya yang tengah panik itu.

tadi dia habis nonton di blitz, saya minta dicarikan informasi apakah hari ini ada FREE INDIE thursday diputar di sana.

sayangnya teman saya tidak sempat mencari tahu, sms saya dia terima setelah keluar dari bioskop rupanya.

tak apa,

semoga baik2 saja semuanya.

SMILE

hari ini saya bilang sama diri saya sendiri:

“no more tears for today!!!!”

seperti saya lupa bagaimana cara mensugesti diri, sudah dua hari saya coba, dan baru berhasil pada hari ketiga ini.

hari ini saya tersenyum dengan tulus, hal yang saya khawatirkan hilang begitu saja.

tidak lagi tersentuh biru, tidak lagi isak mengharu.

biru saya kini adalah warna langit yang cerah. tentu saja hanya langit di dalam hati saja, karena Bandung belum mau berlangit biru sempurna, masih saja hujan.

cukup sempurna lengkung senyum di wajah saya,

tadi saya membagikan banyak permen, menyenangkan bukan. saya biasa mencari kesenangan dari hal-hal kecil dan sederhana. berbagi permen jagung favorit saya, berbagi kesenangan.

dan tebak, akhirnya saya berhasil membeli rujak cuka. sembilan hari kemarin saya selalu kehilangan kesempatan untuk bersilaturahmi dengan si bapak penjualnya. hari ini saya berbagi senyum dengan beliau, membeli rujak cukanya itu.

dan hari ini saya masak. oh ya ampun, kata-kata apa yang bisa saya bilang waktu memakai kompor tadi. senang bisa masak pake kompor lagi.

sederhana sekali, saya senang, entah karena apa.

Alllah menghadiahi saya ketenangan dan kelapangan jiwa, itu saja.

Segala puji untuk-Nya.

Mungkin saya akan mulai kesenangan baru dengan mencoba merunut nama teman-teman saya, yang dekat, yang jauh, yang baru tadi ketemu, yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu, yang rindu sama saya, yang bahkan tidak ingat saya sama sekali, yang pernah menggoreskan warna dalam hari-hari saya, yang sudah lama tidak saya sebut dalam doa saya. Semoga kita tetap bersaudara, semoga Allah selalu menuntun kita dalam mencari kebenaran. Semoga hadirnya saya di kehidupan mereka memberikan manfaat, dengan kekurangan dan kelebihan yang telah saya bagi dengan mereka.

Amin.

.

Sesekali logika saya yang menang, sesekali dia harus tertatih merangkak untuk bisa saya raih.
Saya hampir selalu berstrategi saat menghadapi kamu tiga minggu terakhir ini. Taktikal kalau teman saya bilang.

Bukan karena kamu orang paling taktikal yang pernah saya kenal, tapi karena kamu adalah laki-laki, yang selalu saja punya egonya sendiri.
Menghadapi kamu tidak bisa dengan saya kerasi. Tidak, karena kamu bukan orang lain, kamu teman saya yang berharga. Lagi mungkin saya orang pertama yang bilang sama kamu, kalau kamu adalah laki-laki berhati lembut.

Lihatlah betapa kamu merasa sakit saat tau saya menangis. Padahal sampai sekarang saya tidak merasa itu gara-gara kamu. Itu mungkin hanya saya saja yang mebuat situasi jadi sebingung itu, saat perasaan saya jumawa berdiri di atas logika yang tak lagi bisa saya raih.

Sekarang saya jauh lebih mengerti, menghadapi laki-laki itu sama caranya seperti menghadapi anak kecil.
Saya lebih mengerti kamu.

Sanjung saya setinggi apa yang kamu mau. Setinggi itu saya akan belajar bertahan, setinggi itu saya akan menjadi lebih kuat lagi.

Belum pernah ada orang yang bisa bikin ibu kamu cemburu, bukan? Maka seharusnya saya pun tidak menjadi orang pertama yang melakukannya.

Saya selalu saja berpikir untuk bisa mengerti perasaan orang-orang di sekitar saya, mengerti kamu. Tapi nyatanya tidak sebanyak itu yang bisa saya mengerti. Ada saja yang terlewat. Dan saya tau, hal itu membuat saya melukai kamu tanpa sadar.

Tapi inilah hidup, teman. Penuh pelajaran berharga. Tebusannya hanya berupa tiga minggu yang penuh emosi. Kadang senang, kadang bingung dan sedih, kadang lelah tidak tertahan. Tapi toh berakhir indah. Kamu semakin kaya, semakin berharga. Jauh lebih berharga dari yang kamu tahu.

10 1/4 [1] -unedited-

#1

Isi kepalaku tidak pernah seberantakan ini, tempat bernaung ini pun tidak sekacau itu. Huh, maaf kalau nanti sering bermetafora, seperti dangdut lama-lama. Kelihatan menyenangkan berjalan-jalan di sore menjelang melam ini, dingin redup. Jarang sekali damai terasa lama menyenangkan, gerah melulu yang ada. Panas kota ini akan aku segera tinggal kan, tidak lama lagi.

15:30 baru saja lewat, santai benar hari ini. Adikku berujar kaku, “mau pergi santai amat”. Dia memang selalu aneh buat aku tebak kata-katanya. Ada dua hal yang bisa kupastikan perihal itu iya. Satu, aku tidak pernah terlalu kenal dia, adik bungsuku. Dua, dia mengusik hakku bersantai sebelum kepergianku.

Hari ini aku berkutat dengan kendaraan yang bakal menemaniku melewati 2 minggu kedepan. Rongsokan tua ini bukan main anehnya, sama dengan sisa dari anggota keluargaku yang lain. Mereka punya keanehannya masing-masing. Ayahku misalnya, dia punya kontrol emosi yang sangat hebat, tidak pernah ada orang yang sebebas beliau dalam mengutarakan sesuatu.

Dulu aku sering dimarahi. Sebagian orang yang tau cerita masa kecilku bakal bilang beliau kejam, tidak berperasaan. Aku sekarang senang dia masih ada, aku jadi masih punya keluarga aneh yang lengkap. Banyak pelajaran yang disodorkannya, walau kadang aku lebih memilih untuk tidak masuk “jam pelajaran” ayahku itu.

Lewat tengah malam baru selesai semua pekerjaan itu, malas menceritakan semua detail “acara” ku tadi. Toh kalian juga nantinya cuma mencari titik akhir paragraf ini kan, dan lagi terlalu teknis dan nggak semenarik kalo aku bercerita tentang seluk-beluk mobil formula satu. Oh ya, “rongsokan tua” itu ternyata dan masih selalu menjadi mobil. Entah kapan baru akan berubah ke harga dan bentuk yang lebih layak. Kalian bisa lihat sendirilah.

Keluargaku, terutama aku, tidak terlalu suka repot-repot. Bagian belakang yang tadinya dihuni sepasang jok, dibuang dan dijejali dengan tas pakaian. Tiap aku ditanya, “Biru, ada yang kurang nggak?” Dengan mudah kujawab, “nggak kok, semua ok”. Jawaban santai yang menyesaki rongga pikiranku.

#2

Santai sekali tinggal di rumah. Ibu akhirnya pulang. Lucu ya, di hari aku ninggalin Bandung buat pulang ke kota asalku, eh ibuku malah ke Bandung. Ibuku sering harus bekerja di sana, untuk penataran, menjadi Tim Assesor Guru-Guru SD, atau hanya sekedar untuk rapat. Sibuk sekali beliau itu. Wanita hebat. Rumah tidak lengkap kalau Cuma ada Bapak. Sepi Cuma berdua.

Ini libur Ramadhan yang menyenangkan di awal semester 5 kuliah. Kerjaku di sini tidak jauh dari belanja, masak dan nonton TV. Hmm, sesekali Bapak yang masak. Atau kita berdua berkolaborasi menjajah dapur. Hihi, seperti orang pacaran kita. Bapak suka jail, manggil aku ”Yang” Cuma buat diambilin bawang merah. Aku suka sekali masakan rumah. Tidak ada duanya pokoknya.

Ibuku Dosen IPA, tapi Sarjana PKK juga loh, pintar memasak dan menjahit. Bapakku juga masakannya enak, Bapak juga bisa menjahit. Kakak perempuanku juga begitu, aku juga sih, hehe.. Semua anggota keluargaku bisa memasak dan menjahit, tapi masing-masing punya tingkatan sendiri-sendiri. Sejak kecil ibuku sering menjahitkan baju, tapi sekarang tidak lagi. Ibuku semakin sibuk. Dan katanya sekarang sudah tua, gampang cape. Mesin jahit di rumahpun sudah tidak ada lagi. Dihibahkan ke Bu Maryam yang penjahit itu. Lagipula rumahku sudah tidak bisa menampungnya, buku-buku ibuku semakin banyak saja memenuhi ruangan.

Aku suka sekali tinggal di rumah. Tipe orang rumahan yang keluar jika hanya ada perlu, atau kalau lagi benar-benar suntuk. Menonton TV terus aku, mentang-mentang libur. Seru mengikuti kisah Perburuan Teroris paling di cari di Indonesia. Selain itu berita utamanya tentu saja tentang arus mudik.

Ah, kujamin orang-orang yang sedang sibuk mudik dan terjebak di jalan itu pasti ketinggalan berita seru tertangkapnya para teroris itu. Hoho.. Aku sih hampir tidak pernah merasakan macetnya arus lalu lintas saat mudik. Keluarga kami biasa berlebaran di rumah nenek, 3 jam saja dengan mobil dari kota kecilku ini.

Karena ibuku masih ada pekerjaan, jadi mungkin kami baru akan mudik H-1 nanti. Tak apalah, Kakak pun baru boleh libur dari kantornya di Jakarta H-2. Nanti pasti mampir dulu ke sini bersama paman dan bibi dari Cimanggis.

#3

Malam-malam mandi, merupakan perbuatan yang beresiko kalau aku lakukan di kota tempat aku kuliah. Bisa masuk angin, di sana dingin. Lain dengan kota kelahiranku yang malam ini masih menyimpan hangatnya tadi siang untukku. Aku mandi dan berpakaian sesantai mungkin. Besok pagi akhirnya berangkat juga. Dengan rongsokan tua itu tentu saja.

***

120 Km sudah jarakku dari rumah. Baru aku bangun dari tidurku tadi, sempat lupa mana yang mimpi mana yang mandi. Sudahlah tak usah dibahas. Negaraku ini terdiri dari pulau-pulau. Aku harus menyeberangi laut untuk menyelesaikan acara seperti mudik, menjenguk saudara yang masuk liang lahat, yang menyentuh dunia fana, pokonya repotlah.

Hmm, Tuhan masih bermurah rupanya. Aku akhirnya sampai di pulau seberang tanpa masalah. Sumatra tak lagi kujejak, tanah jawa punya eksotikanya sendiri. Sekarang tiba giliranku yang mengemudikan mobil. Aku biasa ugal-ugalan kalau bersama teman-teman SMA dulu. Dan keluargaku lebih dari teman, aku mengemudikan mobil dengan hati-hati. Itu tadi kan sudah kujelaskan, mereka lebih dari teman. Sulit mencari keluarga baru yang mau menampungku, kalau mereka tidak ada. Mereka terlalu berharga untuk aku celakakan.

Sudah 250 km sejak aku berganti giliran tadi, jalan-jalan menunjukan raut lelah, mobil-mobil lain berjalan lambat di jalur yang sama dengan arahku. Ya begini kalau mudik, banyak orang-orang bepergian jauh dari tempat tinggalnya hanya untuk mengunjungi keluarga. Kalau hari-hari lain jarak itu bisa ditempuh dalam waktu yang lebih cepat.

”Wah iya? Aku ga liat tv. Udah sampe Cikampek, dari tadi dikomen pedes, seru”

17:31 sebuah pesan kukirim kepada Ungu, katanya Om M. Top akhirnya ditangkap Tim Densus 88 dalam keadaan tewas. Sejak nyetir dari Merak tadi Ayahku terus saja berkomentar. Biarlah, asal tidak mengganggu acara mudik keluarga.

Keluarga ibuku menyambut ramah, ketika 21:30 aku tiba di kediaman mereka dan mandi merupakan pilihan paling menarik dari pada makan atau nonton tv.

#4

Benar kan, Biru saja tidak tahu kalau sekarang seluruh jajaran kepolisian sedang senang bukan main. Sibuk pegang kemudi dia rupanya. Tapi sepertinya lalu lintas memang padat, beberapa kali dia sempat kirim pesan. Mudiknya gila-gilaan deh, dari Sumatra nyebrang ke Jawa. Katanya mau lebaran di Surabaya, sekalian mau main ke Bali. Seumur hidup aku belum pernah melakukan perjalanan sepanjang itu.

Keluarga Biru rame, dia punya dua orang adik yang umurnya tidak jauh beda. Adik pertamanya perempuan, yang bungsu laki-laki. Katanya tadi, adik laki-lakinya pacaran di mobil, ditelepon ceweknya.

Kataku, nggak usah iri liat orang pacaran, orang lagi bikin dosa kok diiriin. Biru bilang bukan iri, lucu aja liat adiknya kaya gitu. ”Lagian ngapain iri, dia baru punya pacar, aku punya calon istri, hohoho”, bunyi SMS terakhir biru.

Biru itu teman baikku di kelas, teman yang menyenangkan. Dia pintar bercerita. Aku tidak pernah bosan kalau mendengar Biru menceritakan ulang episode Spongebob, bahkan yang sudah pernah kutonton sekalipun. Selalu masih terasa lucu kalau dia yang cerita. Dia juga sering cerita tentang keluarganya, tentang pengalaman-pengalaman hidupnya, tentang gadis-gadis yang memikat hatinya juga.

Kali ini dia menggodaku rupanya. Rasanya aku tidak pernah absen mendengarkan ceritanya saat dia kasmaran. Tapi dari mana datangnya calon istrinya ini, belum pernah disebutnya dalam cerita manapun. Harus ditagih ini ceritanya.

Ah, tapi biarlah. Nanti juga cerita. Lagipula dia pasti lelah nyetir seharian. Malamnya di kota Cirebon akan menjadi penghilang penatnya.

#5

Hampir tengah malam ketika aku melakukan panggilan ke sebuah nomor handphone, jauh dari tempatku sekarang berada. Suaranya terdengar ngantuk seperti biasa. Aku selalu suka kalau nomor ini mendengarkan cerita-ceritaku, pemiliknya seorang gadis, teman baikku.

Aku sih ingin bercerita lebih banyak tentang pemilik nomor ini, tapi sepertinya kalian bakal kurang suka. Hmm, tapi kalau kalian memaksa apa boleh buat. Kami punya tempat kuliah yang sama, kelas yang sama, acara tv favorit yang sama. Jalan hidup kami berbeda sama sekali. Dia orang baik, dan aku bukan.

Ok katakanlah aku jatuh cinta. Tapi aku sendiri menolak kalau ada orang yang bertanya, “kamu pacaran sama dia?” Perasaan yang aneh.

Fakta yang aku sampaikan ke si penanya itu adalah, aku memang tidak berpacaran dengan pemilik nomor ini, tidak pernah. Selama ini hubungan kami baik-baik saja, aku rasa begitu.

Oh ya, aku hanya punya sedikit teman dan dia salah satunya. Aku punya banyak sekali kenalan. Kalian mungkin bakal kaget, bagaimana bisa orang brengsek seperti aku bisa punya banyak kenalan. Ya, banyak kenalan belum tentu punya banyak teman kan.

Keputusan untuk menelepon Ungu diluar ruangan ternyata bakal aku sesali. Di kota tempat ibuku dilahirkan ini lebih panas sedikit dari kota asalku, banyak nyamuk diluar ruangan. Aku memutuskan untuk meneleponnya di luar, takut mengganggu reuni keluarga ibuku.

Oh ya lupa, namanya Ungu, nama yang bagus ya. Kami membicarakan banyak hal, kami sering berbincang lewat telepon seperti ini, cukup sering. Pembicaraan malam itu terputus karena biaya telepon sudah menguras habis sisa pulsaku.

#6

Tidak menyangka akan dapat baju baru lebaran ini. Maksudku, ayolah, aku sudah 20 tahun, sudah tak ada lagi cerita baju beduk atau salam tempel. Siang tadi Ibuku mengambilkan satu stel baju berwarna coklat yang baru saja selesai dijahit oleh Bu Maryam.

Hari-hari santaiku masih saja seperti biasanya. Biru tadi nelepon, katanya Cirebon panas. Dia bercerita banyak tadi, tentang perjalanannya yang masih belum selesai di satu kota saja. Dan tanpa kutagih lama-lama, Biru cerita tentang calon istrinya itu.

Biru bilang, anak perempuan itu istimewa, jauh berbeda dari gadis-gadis lain yang pernah ia suka. Katanya 5 tahun lagi Biru akan mendatangi anak perempuan itu untuk melamarnya menjadi seorang istri. Wah, aku yakin Biru serius dengan kata-katanya. Selama aku mengikuti kisahnya saat kasmaran, dia hanya butuh waktu dalam hitungan bulan saja untuk menghadapi gadis pujaannya. Yang ini kenapa begitu lama ya, sampai 5 tahun.

Entah siapa perempuan istimewa ini, Biru tidak mau bilang. Ya sudah, lagipula itu urusan dia. Dan lagi aku lebih senang mendengarkan cerita tanpa harus banyak bertanya. Yang jelas aku senang, Biru punya impian yang begitu besar untuk bisa lulus kuliah tepat waktu, lalu kuliah S2 sambil kerja, setelah itu menikah. Rencana yang bagus bukan.

Oh iya, Biru juga sudah cerita tentang rencananya ini sama keluarganya. Wah, keluargaku sih belum pernah ngungkit-ngungkit masalah nikah. Mungkin karena aku anak perempuan, bungsu lagi. Yakin deh semuanya pasti ada waktunya. Sekarang waktunya santai di rumah seperi biasa, nggak pergi kemana-mana.

#7

10:30 kami sekeluarga berangkat melanjutkan perjalanan. Jarak yang ditempuh hampir mendekati 600 KM. Kecepatan jelajah mobil tua ini tidak pernah tercapai, paling cepat 60 km/jam. Macet sering terjadi, dari jarak sejauh itu aku hanya mengambil jatah 200 km, sisanya ayahku yang mengemudi.

13:00 esok harinya, nenekku dengan lemas menyambut kami, “lama amat nyampenya, macet ya” Aku selalu malas kalau ada orang yang bertanya tentang alasan keterlambatan dan langsung menjawabnya. Beliau hidup dengan ibunya, nenek buyutku. Dan seorang keponakan ku, hmm mengenaskan sekali.

Besok hari raya idul fitri, berarti sekarang malam takbiran ya. Oh ya itu dengar, sayup-sayup suara takbir terdengar mulai ramai. Melihat banyak warna ungu di langit, aku jadi ingat dia, Ungu.

#8

Malam takbiran ini ramai. Dan tentu saja SMS-SMS selamat dari teman dan saudara mulai berdatangan. Ibuku menyerahkan tugas untuk membalas SMS-SMS itu padaku, ”sama-sama. Mohon maaf lahir batin juga. Selamat merayakan idul fitri bersama keluarga”. Kami sih terbilang jarang sengaja merangkai kata untuk SMS selamat hari raya.

Jadi ingat Biru, suatu hari kami pernah membahas tentang budaya SMS hari raya ini. Banyak orang yang sengaja merangkai kata, atau hanya sekedar forward dari SMS yang datang, tinggal ganti nama. Atau bahkan sengaja menyimpan SMS tahun lalu untuk bisa dikirim ramai-ramai tahun ini.

Kami menertawakan hal itu. Tentu saja karena kami punya cara yang cukup canggih untuk mengucapkan selamat pada hari raya dengan mudah, cukup dengan kata ”sama-sama”, hahaha..

Eh, ternyata sekarang Biru ikut-ikutan, dia mengirimiku SMS selamat hari raya. Tumben. Katanya, sejak menemukan calon istrinya itu dia memang banyak berubah. Wah, nampak jatuh cinta beneran dia.

”dr kmrn yg dbahas cln istri mulu. Bnran ini teh? Cb qt tes dg bbrp ptanyan generik. Kpn dan dmn km jth cinta sm dia?”

”21072009 bandung”

”wew. Hr itu bknx km nembak org lain bwt jd ce km? Multitasking hati ya”

”itu g msk itungan. Aq udh tw bkl ditolak. Yg ini lain”

”aq jg pnh jth cinta, tapi g lama2, cukup seminggu, dihilangkan dg susah payah”

”aq gmw perasan ini ilang. Aq mw dy jg jth cinta, sama ky aq. Aq gtw dia tw atw g ttg perasaanq ini”

”bkn ilang. Diilangin. Menurutq jth cinta itu sm ky takdir, msh bs diusahakn iya tdkx. Cm mw jth cnt sm lk2 yg halal bwtq, dan itu blm ada”

”aq pgn blg ttg ini sama dia”

”kalo km nawarin sswt yg br akn km byr 5 thn lg, itu sm aja km nawarn sbuah ktdkpastian”

”iya, aq tgu 5 thn lg aja”

”lg Allah kn Maha membolak-balikn hati. Tdk satupun ada jaminan perasan km sm dia 5 thn lg msh sm ky skrg ”

”aq tw bgt itu, aq ngalamin sendiri kan tgl 21 juli itu”

”hm, tumben ih smsn sm km ngomongin hal serius”

”ini hal plg serius dlm hdup aq. Sejak knal beliau aq bljr lbh mencintai Allah. Bhkn org tuaq pun tdk seberpengaruh ini (haha, ank durhaka)”

”ya bjlrlah mcintai Allah dg ikhlas. Mungkin nti Allah bkl ngasih dia bwt km, mungkin jg perempuan lain yang lebih baik dan lbh mnyenangkn bwt km”

Kami SMSan sampai larut malam. Dismenorhea ini membuatku susah tidur. Apalagi rumah nenek panasnya bukan main.

Oh iya, tadi sore aku sampai di rumah nenek, di sini tidak jauh dengan Pantai Batukaras, makannya panas. Begitu sampai langsung diserahi tanggung jawab membuat tajil untuk buka puasa. Sayangnya hari ini puasaku tidak sampai pada beduknya. Besok juga tidak bisa ikut sholat Ied. Hmm…

#9

Sholat ied berjalan santai dan khidmat. Yang kurang hanya satu, tidak ada ketupat atau opor ayam. Kami sekelurga hanya dan harus puas dengan mie instan rebus yang dimasak tadi sebelum sholat.

Tidak ada tamu yang datang berkunjung ke rumah nenekku. Kata beliau, kalau pas hari lebaran hanya ada sedikit orang yang ada di kompleks sekitar sini. Semua melakukan rutinitas seperti yang keluargaku lakukan, mudik.

20092009 atau tanggal 20 bulan September 2009, jadi hari yang sangat-sangat special. Sudah hampir larut malam aku dan Ungu masih berkiriman pesan pendek. Dalam pesan pendek itu dia bertanya “jadi sebenernya siapa yang mau dilamar sama Biru?” dan aku dengan bodoh menjawab “kan udah dibilang, mau ngelamar Ungu”.

#10

Waduh. Dari jarak ratusan kilometer di Surabaya sana, Biru bilang orang itu aku, Ungu. Yang benar saja. SMS terakhirnya bilang, sudah larut, dia harus istirahat karena besok dia yang nyetir menuju Denpasar.

Kupikirkan saja besok, hari ini banyak tamu yang datang. Belum lagi ketupat dan opor ayam terhidang di meja makan. Dari kemarin memang menunya selalu meriah. Kemarin bakar ikan, tadi siang bakar sate sapi. Besok mungkin masih akan ada sop buntut dan tumis pakis.

[bersambung]