merah kuning hijauuuu

jadi yah, saya disuruh bikin program ramalan buat main-mainan di henpun.

orang2 make jodiak, si saya make warna ajalah. algoritma ramalan nya juga simpel pisan.

merah kuning hijau apa kata warna kamu dan pasangan kamu (hiyaaaa geuleuh pisannn).

ini program dibuat pake j2me, jadi kalo henpun kamu mendukung java, bisa tah ini program ramalan di-install di henpun kamu. hahahahha.

karena layanan gratis wordpress gabisa naro file.jar, jadi saya akalin jadi .jar.odt

nanti kalo udah download dari sini, di rename dulu yah tadinya ramalanwarna.jar.odt jadi ramalanwarna.jar

nah, terus kirim via bluetooth ke henpun kamu, nanti dia otomatis nginstall sendiri 🙂

kalau mau nyoba bikin sendiri, ini source code nyaaaa..


import javax.microedition.midlet.*;
import javax.microedition.lcdui.*;

public class RamalWarna extends MIDlet implements CommandListener {
private Display display;
private Form fmMain,fmHasil;
private TextField textNama1,textNama2;
private Command cmExit,cmRamal,cmBack;
private Command okAllert = new Command("OK",Command.EXIT,3);
private ChoiceGroup warna1, warna2;
private String textRamal;

public RamalWarna(){
display = Display.getDisplay(this);
fmMain = new Form("Ramalan Warna");
fmHasil = new Form ("Hasil Ramalan :");

textNama1 = new TextField("Namamu",null,50,TextField.ANY);
textNama2 = new TextField("Nama Doi",null,50,TextField.ANY);

warna1 = new ChoiceGroup("warna fav kamu",Choice.POPUP);
warna1.append("merah", null);
warna1.append("hijau", null);
warna1.append("kuning", null);
warna1.append("biru", null);
warna1.append("hitam", null);
warna1.append("ungu", null);
warna1.append("putih", null);

warna2 = new ChoiceGroup("warna fav doi",Choice.POPUP);
warna2.append("merah", null);
warna2.append("hijau", null);
warna2.append("kuning", null);
warna2.append("biru", null);
warna2.append("hitam", null);
warna2.append("ungu", null);
warna2.append("putih", null);

cmExit = new Command("Keluar", Command.EXIT, 1);
cmRamal = new Command("Ramal", Command.OK, 2);
cmBack = new Command("Kembali",Command.BACK,3);

fmMain.append(textNama1);
fmMain.append(warna1);
fmMain.append(textNama2);
fmMain.append(warna2);

fmMain.addCommand(cmExit);
fmMain.addCommand(cmRamal);
fmMain.setCommandListener(this);

}

public void startApp() {
display.setCurrent(fmMain);
}

public void pauseApp() {
}

public void destroyApp(boolean unconditional) {
notifyDestroyed();
}

public void commandAction(Command c, Displayable d) {
if(c == cmExit){
destroyApp(true);
}else if (c == cmRamal){
ramal();
}else if(c == okAllert){
display.setCurrent(fmMain);
}else if(c == cmBack){
display.setCurrent(fmMain);
fmHasil.deleteAll();
}
}

private boolean cekDataNama(){

boolean hasil = false;

if ((textNama1.getString().length() != 0)
&&(textNama2.getString().length() != 0)){
hasil = true;
}
return hasil;
}

private void ramal(){
if (cekDataNama() == false){
alertkosong("belum lengkap","namanya diisi donk! ");
}else proses();
}

private void alertkosong(String title,String msg) {
Alert alert = new Alert(title,msg,null,AlertType.INFO);
alert.addCommand(okAllert);
alert.setCommandListener(this);
display.setCurrent(alert);
}

private void proses() {

int w1= warna1.getSelectedIndex();
int w2= warna2.getSelectedIndex();

if ((w1+w2) == 0) {
textRamal = "kecocokan kalian 80% \nsedikit terjadi pertengkaran karena pasangan kamu cenderung menghindari konfrontasi.\nbtw, pasangan kamu romantis ya.";
}else if  ((w1+w2) == 1) {
textRamal = "kecocokan kalian 60% \nkalian pasangan yang menyenangkan ya. hubungan kalian lancar-lancar aja, tapi harus lebih banyak habiskan waktu bersama.";
} else if ((w1+w2) == 2) {
textRamal = "kecocokan kalian 30% \nhubungan kalian sedikit sulit, akan ada sedikit kerikil menghadang. memang dia menarik, tapi kalau ngambek melulu buat apa coba?";
} else if ((w1+w2) == 3) {
textRamal = "kecocokan kalian 90% \nsedikit sekali ada pertengkaran dalam hubungan kalian. sikap dia yang idealis mungkin salah satu yang membuat kamu jatuh cinta.";
} else if ((w1+w2) == 4) {
textRamal = "kecocokan kalian 40% \nwalaupun dia tidak emosional, dia mudah ikut alur dan susah didekati.";
} else if ((w1+w2) == 5) {
textRamal = "kecocokan kalian 50% \nsi dia mungkin sedikit egois, tapi kalau sudah jatuh cinta mau gimana lagi.";
} else if ((w1+w2) == 6) {
textRamal = "kecocokan kalian 85% \nkalian sangat cocok, saling melengkapi walaupun kadang suka bertengkar.";
}else if  ((w1+w2) == 7) {
textRamal = "kecocokan kalian 70% \nwalaupun sering ribt, sebenarnya kalian saling mencintai, coba untuk nggak terlalu emosional";
} else if ((w1+w2) == 8) {
textRamal = "kecocokan kalian 65% \nhubungan yang didasari saling menghargai, optimisme, dan ketabahan akan membawa kebahagiaan.";
} else if ((w1+w2) == 9) {
textRamal = "kecocokan kalian 55% \nbiarin aja dia kalau lagi ngambek, nanti juga baikan lagi, kamu yang sabar aja.";
} else if ((w1+w2) == 10) {
textRamal = "kecocokan kalian 80% \nkalau kesalahan dia nggak bisa kamu maafin, kamu ga bisa dapet kebaikan dia yang lebih besar lagi dari sekedar kesalahannya yang kecil.";
} else if ((w1+w2) == 11) {
textRamal = "kecocokan kalian 45% \nkamunya ga usah cemburuan, dia cinta mati kok sama kamu.";
} else if ((w1+w2) == 12) {
textRamal = "kecocokan kalian 60% \nsesekali kamu dong yang ngalah, kalau emang cinta ya tunjukin";
}

String ramalTot = null;
ramalTot = "Halo " + textNama1.getString() + "\nwarna favorit kamu adalah " + warna1.getString(w1) + ".\n" + "Warna favorit pasangan kamu adalah " + warna2.getString(w2) + ".\n\n" + "Kamu sama " + textNama2.getString() + "\n" + textRamal + "\n\n" + "Tapi yakin aja, kalau udah usaha pasti dapet hasil yang setimpal..\n\n\n";

fmHasil.append(ramalTot);
fmHasil.addCommand(cmBack);
fmHasil.setCommandListener(this);
display.setCurrent(fmHasil);

}

}

Dian Sastro Nostalgic Momment :p

karena Dian Sastro baru aja nikah, jadi saya buat postingan ini (*loh?)

dulu saya pernah punya misi ‘ketemu Dian Sastro’, hahaha 🙂

bukan karena ngefans atau apa, tapi karena Mas Zamzam bilang, Dian Sastro bakal jadi juri di Festival Video Komunitas Kawanusa Award 2007 di Bali.

jadi waktu itu saya semangat nyelesein sebuah video dokumenter pendek sama teman2 saya di Tasik. karena walaupun saya gak jadi peserta festival video itu, tapi saya boleh ikut ke Bali sana dan bawa2 DVD video kompilasi temen2 di Tasik. maksudnya dibawa-bawa buat diputer juga di sana, terus dibagi2. dan waktu itu saya keukeuh harus saya yang ngasih itu DVD ke Dian Sastro, soalnya ada temen yang nitip tandatangan dia. hehehe 🙂

lucu deh, ngeliat orang2 kena sensasi ketemu Distro. cantik sumpahnya (ya iyalahh). dia ‘nyedot’ perhatian orang2. saya juga ga ngerti apa menariknya da saya mah gak pernah ngidolain artis, tapi saya ikut semangat juga waktu poto2 sama Distro.

ikut poto2 juga, hehehe

oia, ini video pertama yang dibuat bareng Soca Tasik, judulnya “Kecil Sih, Tapi Apa Kita Peduli” (click to watch^^).

karena saya gagal masang tumbnail vodpod disini, jadi temen2 bisa klik link di atas buat liat videonya.

atau kalau mau donlot bisa di sini.

enjoy!

Vodpod videos no longer available.

more about “Kecil Sih, Tapi Apa Kita Peduli“, posted with vodpod

Pembenaran yang Tidak Berlaku Lagi

Penggunaan perangkat lunak ilegal juga terjadi di Salman. Bagaimana pendapat para pakar IT mengenai hal ini?

Dijumpai saat menghadiri Ubuntu 10.04 Release Party (3/5) yang diselenggarakan POSS UPI (Pendayagunaan Open Source Software UPI), Eko Mursito dan Eko Nurdiyanto turut memberikan pendapat. Kedua Eko ini merupakan pegiat IGOS (Indonesia Go Open Source) Center Bandung.

“Urgensinya buat Salman jelas, halal,” ujar Eko Mursito, Pembina IGOS Center Bandung yang juga Kepala POSS ITB ini.

Lebih lanjut Eko Mursito mengungkapkan bahwa perasaan waktu menggunakan perangkat lunak legal itu berbeda. “Pertama perasaan bahwa saya tidak mencuri, yang kedua perasaan bangga karena menggunakan barang legal,” tutur Dosen Teknik Fisika ITB ini.

“Ya itu aja sih kalau buat saya pribadi, ngerasa nggak dosa kalau mau ngapa-ngapain. Kaya kalau kita menikah,” canda Eko Mursito.

Ditanya mengenai fakta penggunaan perangkat lunak ilegal masih marak terjadi, Eko Mursito berpendapat hal itu memang terjadi karena masalah ketersediaan. “Lha wong yang adanya itu kan, memang nggak ada pilihan.”

Kalau memang sudah tidak ada pilihan, yang haram pun bisa halal. Tapi kalau sudah ada pilihan, pembenaran itu tidak berlaku lagi.

Proprietary Atau Open Source Sama Saja

Pilihan untuk masyarakat jika ingin menggunakan perangkat lunak legal adalah dengan membelinya. Namun demikian hal ini masih menjadi kendala terkait harga perangkat lunak proprietary (berpemilik) yang terbilang tinggi.

Pilihan lain adalah dengan menggunakan perangkat lunak open source. Berbeda dengan perangkat lunak proprietary, perangkat lunak open source berlisensi GPL (General Public Lisence). Dengan lisensi ini memungkinkan orang untuk menggunakan, mendistribusikan, memodifikasi, mengadaptasi dan memperbaiki perangkat lunak tanpa harus membayar.

Di masyarakat sendiri berkembang paradigma kalau menggunakan perangkat lunak open source itu sulit. “Kalau masih bilang gitu berarti masih kuno,” ujar Eko Mursito.

Eko Mursito kemudian memberikan dua contoh yang dialaminya sendiri. “Saya biasa pakai Microsoft office 2003, begitu keluar versi 2007 saya malas belajar. Akhirnya sampai sekarang saya masih pakai yang 2003. Terus anak saya, dia biasa pakai linux. Begitu anak saya lihat Windows Vista, dia bilangnya itu mirip linux.”

Eko Nurdiyanto, Technical Manager IGOS Center Bandung, berpendapat senada. “Kata siapa open source susah? Orang juga pake Windows kan nggak langsung bisa, tapi belajar dulu. Tetap meraba-raba juga pada awalnya.”

Menggunakan perangkat lunak proprietary atau open source sama saja. Harus percaya diri dan punya semangat mengeksplor.

Eko Mursito menambahkan bahwa perangkat lunak tidak terbatas hanya sistem operasi saja. Jika sudah menggunakan sistem operasi yang proprietary, didalamnya masih bisa dipasang aplikasi yang sifatnya freeware. Freeware bisa diunduh dengan mudah di internet.

Masalah Mental dan Budaya

Pembenaran yang sering terjadi di masyarakat diyakini kedua narasumber ini sebagai masalah mental dan budaya.

“Ada kepala sekolah yang bilang ngapain susah-susah pakai open source, orang Windows aja udah banyak. Emang ada polisi yang bakal ngerazia sekolah?” ujar Eko Nurdiyanto membagi pengalamannya pada sebuah acara workshop bersama kepala sekolah dan guru TIK.

Eko Nurdiyanto melanjutkan, masalah utama ada pada aspek legalitas. Kalau membeli tidak masalah, kalau membajak lain lagi ceritanya. “Itu sama saja tidak mendidik, mendidik kan harus dengan cara yang benar. Mungkin banyak orang yang tidak peduli karena belum pernah merasakan hasil karyanya dibajak oleh orang lain.”

Eko Mursito menambahkan, masalah memang ada di mental masyarakat. Kalau mau menunggu penegakan hukum susah. “Lihat saja di jalanan banyak motor naik trotoar, polisinya nggak akan sempat. Balik lagi ke mental masyarakatnya.”

Keduanya juga berpendapat sama bahwa ini merupakan tugas kita bersama untuk mengedukasi masyarakat dan menanamkan keyakinan untuk menghargai hasil karya orang lain.

Budhiana Kartawijaya: “Kita tidak boleh mencuri”

Salman sebagai masjid kampus merupakan lembaga yang mendorong orang untuk produktif dan mandiri. “Semangatnya sudah sejalan dengan semangat open source”, ujar Budhiana Kartawijaya, Ketua Divisi Pengkajian dan Penerbitan YPM Salman ITB.

Budhiana mengakui fakta bahwa penggunaan perangkat lunak ilegal memang masih banyak terjadi di Salman. Budhiana mengungkapkan ingin mengatasi masalah ini, namun belum ada lembaga khusus yang menangani.

Kita tidak boleh mencuri,” ujar Budhiana. Budhiana setuju untuk mendorong unit-unit kegiatan di Salman untuk menghargai aspek legalitas ini. “Apalagi Indonesia sudah meratifikasi konvensi internasional dalam bidang hak cipta,” tambah Budhiana.

Sampai akhir tahun ini, Salman mempunyai target untuk menata kultur unit-unitnya supaya aktif membuat informasi. Setiap unit diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, namun juga sebagai produsen informasi. Setelah kultur ini terbangun, penanaman pemahaman pentingnya legallitas dalam menggunakan perangkat lunak dirasa akan lebih mudah.

Budhiana menuturkan, Salman mungkin akan membeli lisensi atau menggunakan perangkat lunak open source. Tidak menutup kemungkinan juga melakukan kerjasama dengan pihak-pihak terkait seperti IGOS.

jangan marah

saya percaya, kalau marah-marah itu tidak boleh.

boleh merasa kesal dan kecewa, tapi tetap tidak boleh marah.

malah kata teh zule, anak itu dari kecil harus diajari gimana caranya mengendalikan emosi ketika merasa kesal, biar ga perlu marah-marah.

kata mbu, marah itu ngerugiin diri sendiri dan orang lain. makanya dari kecil saya tidak pernah dimarahi ibu saya.

sebenarnya, kalau saya pikir lagi, marah itu kan cara kita ngasih tau orang lain kalau kita nggak suka atau merasa terganggu karena sesuatu.
jika memang perlu, sampaikanlah hal itu, tapi bukan dengan marah-marah.
seringnya, ketika marah, apa yang keluar dari mulut hanya luapan emosi sesaat saja.

padahal, ketika ada hal yang menurut kita salah, kita punya kewajiban loh buat ngingetin. tapi kalau disampaikan dengan marah, nanti salah-salah pesan kita malah ga tepat sasaran. dan mungkin aja kan karena emosi yang ga terkendali justru malah keluar kata-kata yang nyakitin orang, padahal itu ga perlu.

kata Rasul, jangan marah. jika kamu sedang dalam keadaan berdiri, duduklah. jika sedang duduk, berbaringlah. jika tidak juga reda, berwudulah.

jangan marah. selalu indah perkaranya orang beriman. ketika menghadapi hal yang sesuai dengan keinginannya, maka ia bersyukur. ketika menghadapi hal yang tidak sesuai dengan keinginannya, maka ia bersabar.

semoga kita selalu dicukupkan dalam syukur dan sabar.
🙂