yang mengganjal mata dan telinga

bukannya mata dan telinga saya iseng kalo lagi nonton film di bioskop.

bukan juga sok-sok jadi kritikus film atau yang sejenis. saya hanya penikmat film. seriusan, saya bukan anggota dari organisasi apapun, dan tidak punya kepentingan apapun.

ini, ada dua hal yang bikin saya gegerenyeman di hati.

di hati aja, kalo dikeluarin takut ngeganggu orang lain di bioskop,  saya lagi belajar jadi penonton yang beradab.

dulu, pengen langsung aja gitu ngomentarin macem2 pas nonton film Sang Pemimpi. itu, pas adegan Rima Melati yang hanya semenit-duamenit itu.

saya kok ya ngerasa aneh, film itu berseting Belitong tahun 80-90an, yang mana saya pikir belum jamannya orang menggunakan daleman kerudung topi. apalagi mengingat seting tempatnya adalah desa. seingat saya, daleman kerudung yang bentuknya kayak topi itu baru ada di “kota” awal taun 2000-an.

setelah susah payah mencari, akhirnya dapet juga gambar ini, salah satu scene yang menampilkan adegan yang ada rima melati sebagai nenek maryamah.

itu neneknya maryamah (rima melati), perhatiin kerudungnyaaaa

itu neneknya maryamah (rima melati), perhatiin kerudungnyaaaa

ada yang bisa ngasih penjelasan ke saya? bagian wardrobe film Sang Pemimpi mungkin? *seriusan, saya penasaran.

terus yaa… kemarin lusa saya nonton film Sang Pencerah. saya jadi penasaran dengan penggunaan kata ‘nggak’ dalam bahasa Indonesia. sejak kapan kata tidak baku itu turut mewarnai bahasa nasional kita?

ada yang merhatiin gak, Zaskia Adya Mecca ngucapin kata itu??? pas adegan dia sama Lukman Sardi, malem2 berdua makan ubi rebus di film berseting Jogja awal tahun 1900-an.

kalo ga salah ingat potongan kalimatnya gini, “kalau tidak begitu kita nggak belajar”. lupa detailnya, tapi saya denger dia bilang “nggak”, bukan “ndak” (penyederhanaan dari tidak, dalam bahasa jawa).

zaskia sebagai walidah (nyai ahmad dahlan) di film Sang Pencerah

zaskia sebagai walidah (nyai ahmad dahlan) di film Sang Pencerah

hmmm.. itu bikin saya jadi penasaran, soalnya di akhir film, di bagian credit tittle, ada credit untuk penanggung jawab riset dan bahasa.

jadi pengen tau… masa sih editornya kecolongan??

pengikut muhammad

pada suatu malam yang lelah..

“aku jadi mikir gini deh, kalo misalnya nanti nikah, terus kan tiap hari ketemu orang itu terus. nanti gimana kalo kitanya bosen?”

“hahahaha… kamu serumah sama orangtua, tiap hari ketemu sama mereka, bosen ga?”

“ya engga lah..”

“nah, berarti nanti juga ga bakal bosen.”

“hoo.. iya iya.. ahahahha..”

“terus nanti nikahnya gimana?”

“pake cara nabi muhammad aja. beliau kan ngelamar khadijah lewat perantara. waktu ali ngelamar fatimah juga kan pake perantara. perantaranya  nabi muhammad, ayahnya fatimah.”

“kalo yang nembak langsung?”

“engga deh. berarti orangnya kuno. masa kisah nabi muhammad aja ga tau, padahal kan beliau orang paling terkenal di dunia.”

“iya itu aja. sama pengikut muhammad nikahnya.”

“hmm.. iya, pasti.”

“sama sepupu aku mau ga? udah kerja loh di menado.”

“asal mau dibawa ke tasik deh :p”

nonton sama bang patrick :p

darah garuda, darahnya para remaja..
*mabok 21, kemaren nonton film bang haji, hari ini nonton film perang…

darah garuda, film ini rame penontonnya.

ritme film ini lambat, sampai-sampai dia tidak berhasil menyajikan sensasi genting di tengah perang. entahlah.

untungnya itu agak termaafkan di seperempat terakhir bagian film ini.

tadi kan saya bilang penontonnya rame. saya gak bohong. mereka sampe teriak khawatir waktu kapten amir (lukman sardi) hampir ditembaki belanda. mereka tepuk tangan waktu dayan (rifnu wikana) berhasil naik ke pesawat dengan susah payah karena kakinya tertembak.

teater 3 di 21 tasik rame tadi, riuh. agak norak mungkin teriak-teriak sampe tepuk tangan di dalem bioskop. tapi mungkin itu salah satu indikator film ini akhirnya berhasil mengikat emosi penonton.

buat saya pribadi, walaupun ini film perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, film ini terasa kurang indonesia. mungkin karena script writer-nya bule ya. ada hal yang saya rasa terlalu barat di sana, terlalu bukan indonesia yang timur.

saya tidak bermasalah dengan karakter-karakter di film ini. selain karena diperankan oleh aktor-aktor ganteng :p seingat saya semua karakter berkembang dengan konsisten.

dan itu, si budi dan si thomas favorit saya.
*semoga setelah ini budi bisa bermain bola, tidak mengangkat senjata lagi.

oia, ini bukan review film darah garuda. ini catatan kecil saya, waktu saya nonton sama teman saya yang jangkung.

pada suatu hari di 21 tasik

bangga rasanya saya berdiri di atas karpet tebal bioskop duasatu tasikmalaya, empat studio disini muter film indonesia semua. wow.

dan wow lagi, semuanya punya genre film yang berbeda.

ahahahahha… seneng aja liatnya, beda-beda, jadi meriah. gak melulu film horor-komedi-tapi-mesum, atau drama-cinta-remaja-yang-gak-sesuai-realita.

Ada “Boleh Lihat Tapi Jangan Pegang”, dibintangi Dewi Persik. Katanya sih film komedi, jadi gak buka-bukaan. Itu kata Dewi Persik loh, ahahahaha.. Tapi saya gak percaya sama Dewi Persik :p

Ada “Dawai 2 Asmara”, posternya Cathy Sharon sama Ridho Rhoma, ahahahahay.. Bau drama cinta dangdut tercium jelas dari posternya, bukannn??

Ada “Sang Pencerah”, film tentang kisah Ahmad Dahlan. Film sejarah Hanung punya ini.. Salah satu Sutradara paporit si saya, biasanya dia menggandeng Art Director yang yahud. And so Lukman sardi jadi pemeran utama di sini. Somehow si saya pernah menyamakan Lukman Sardi sama Jhony Depp, soalnya mukanya sering berubah di tiap film, hehehehe..

Ada “Darah Garuda”, ini film sekuelnya Merah Putih. Film perang, tapi ceritanya fiksi. Aktornyaaaa ganteng-ganteng bo, efek ledakannya pake ahli dari luar negri, katanya kru yang di film Saving Private Ryan.

Ketebak lah ya, film yang pertama saya sebut gak masuk list saya. Yang kedua, entar-entar deh. Yang ketiga atau keempat paling mungkin. Tapi yang keempat saya gak terlalu suka prekuelnya.

Jadi akhirnya diputuskan saya nonton…

DAWAI 2 ASMARA!!!

OMG. saya milih film dan beli tiket dengan sadar loh.. walopun gak minum mijon tapi saya lagi 100% loh..

Ihihihiy.. Saya dan nanaw dangdutan di twentiwan, ther lha luh!

Mari mari main piano dengan semangat darah muda!!

For Salt, Whoever You Are

Hey Salt, thank you for making our day enjoyable 🙂

Itu starlet kami di dalamnya bertiga. Penuuhhh cari tempat parkir sampe ke atas-atas. Masuk teater tanpa pikir panjang beli tiket buat nonton kamu. “Jolie, jaminan mutu deh,” kata suara di kepala saya. Lalu bengong kami karena pesen tiket buat film yang baru bakal maen satu jam lagi. duh.

Berbekal pengalaman ngejailin tukang steak, mencari daging has dalam kemudian kami. Istilah kerennya tenderloin. Tentu saja bukan di bioskop, tapi di swalayan satu lantai di bawahnya. Bukan buat masak steak kami memilih daging has dalam. Tapi kami ini bertiga kebetulan punya komposisi begini: satu, terobsesi dengan beef teriyaki hokben dalam porsi suka-suka, suka makannya, suka bayarnya. dua, gak ikut acara buka bareng di hokben jadi gak nyambung waktu ngomongin beef teriyaki. tiga, punya keyakinan kalau masak beef teriyaki itu mudah dan menyenangkan, karena bumbunya bisa ditebak oleh lidah awamnya.

Jadi kami belanja, sampai pegal mengantri. Orang-orang banyak bukan kepalang.

Dan Salt, maafkan kami karena kehilangan dua menit pertama menonton kamu. Selanjutnya kamu membius saya, dan dua teman saya itu. “Oh, Jolie..”

Apa itu istilahnya, kamu meledak-ledak, dan susah ditebak. Mungkin karena saya sedang malas berpikir. Saya serahkan otak saya sepenuhnya sama kamu. Saya kamu bawa penasaran, dan kadang tertipu. Apapun itu Salt, itu menyenangkan.

Kamu keren. Dedikasi ya, hm? Yah, walaupun berdarah-darah..

Kamu kasihan. Kamu hebat.

Kamu tau, Salt, tukang parkir di mall itu menambah kesenangan kami hari itu. Berpikir tadinya sudah tiga jam lebih stralet itu singgah di tempat parkir. Ternyata 2000 rupiah saja untuk menebus agar palang parkiran mengizinkan mobil kami lewat. Pulang ke rumah bersuara air. Rumah saya, kalau kamu mau mampir.