bahasa diam

repost it specially for nanaw. i found this post somewhere in my old multiply 🙂

obviously not a poem, just a random thought that i typed on my old cellphone. yea, it’s actually a long sms, ehehehe 🙂

once upon a 2007 ramadhan time..

begini lebih bagus, bicara pada entah siapa. ingat saya pernah bilang, bahkan kalau diam saya tetap mendengarkan. ternyata banyak yang bisa didengar dari diam.
karena waktu diam, orang berkata-kata dalam hati. dan itu biasanya tentang sesuatu yang dalam, yang tak terungkapkan, yang hanya dia sendiri yang mengerti.
tapi itu kadang menyebalkan. bukankah pada dasarnya semua orang ingin dimengerti maksud hatinya? parahnya, banyak orang tidak mengerti bahasa diam. mengerikan.
karena begitu orang harus bicara, bukan? tapi bicara pun tak pernah selalu mudah. kita harus peduli diksi dan intonasi, itu merepotkan.
lalu orang menulis, seenak hati saja. tentang kebohongan pun tidak masalah. karena kebenaran kadang tidak dipercaya. karena masalah telah menjadi biasa. tidak akan ada yang peduli.

kiri dan kanan

dear all..

si saya menemukan hal menarik beberapa waktu kemarin. tentang dominasi otak kiri atau kanan pada seseorang.mungkin udah banyak yang tau yaaa.. 🙂

wanna try? coba deh secara reflek kepalkan tangan kaya gini:

kiri apa kanan??

 

naaahhh… terus liat jempol kamu yang di atas itu yang kiri apa kanan.

kalo jempol kiri kamu ada di atas jempol kanan, berarti kamu dominan otak kanan.

kalo jempol kanan kamu ada di atas jempol kiri, berarti kamu dominan otak kiri.

 

 

 

 

 

 

 

Otak kiri? Inilah ciri-cirinya:

  • Cenderung tidak suka berbicara banyak
  • Suka membuat rencana dan persiapan
  • Senang pada detil
  • Cenderung memaksa (kompulsif)/ akurat
  • Cenderung suka kompetitif
  • Cenderung teratur dan rapi
  • Cenderung mengikuti pola yang sudah ada
  • Cenderung perfeksionis (menuntut kesempurnaan)
  • Cenderung menyalahkan orang lain
  • Suka tidak percaya, minta bukti
  • Cenderung selektif memilih teman
  • Cenderung mudah khawatir
  • Cenderung logis
  • Cenderung menjadi spesialis

Bagaimana dengan otak kanan? Ciri-cirinya adalah:

  • Cenderung komunikatif dan dapat dijuluki mesin bicara/ kotak bicara
  • Cenderung mengepak pada menit-menit terakhir
  • Cenderung tidak suka perencanaan,malah cenderung tak ada yang direncanakan, dipersiapkan, atau dipikirkan
  • Cenderung puas dengan apa yang sudah dicapai dan kurang teliti
  • Cenderung kooperatif dan fleksibel
  • Cenderung tidak teratur dan tidak rapi
  • Cenderung suka menunda, ‘tampak kacau’, dan suka terlambat
  • Suka menjelajah dan suka mengeksplorasi
  • Cenderung mengatakan saya tidak menuntut 100% benar, kalo ada yang salah tidak mengapa
  • Jarang menyalahkan orang lain
  • Memiliki banyak teman
  • Cepat mempercayai
  • Suka mengerjakan beberapa tugas dalam satu waktu
  • Senang sosialisasi
  • Suka bersenang-senang
  • Cenderung pelupa
  • Cenderung menjadi generalis
  • Tidak memperhatikan detil

coba tanya teman2 kamu, kecenderungan mereka apa. kemarin sih yaaa di Lab Jaringan Komputer pada dicoba ke asisten-asistennya, ehehehe..

‘games’ ini rasanya sedikit mengingatkan saya, kalau setiap orang itu punya sifatnya sendiri-sendiri. jadi menghargai orang itu perlu, toleransi itu perlu.

🙂

*sumber dari ruangmuslim.com

tawaran kebebasan

ekstrimnya ya pergi saja.

hah? seperti biasa saya hanya melongo saja, dia sering mengatakan hal yang -kalau di sinetron- bikin mata melotot sambil ber-gila-lo-!-?

kata bapak, aku boleh pergi dari rumah.

itu dia, salah satu favorit saya adalah cerita yang ada ‘kata bapak’-nya. sederhana saja, karena bapak saya tidak sama dengan bapaknya.

waktu itu kan aku ditanya, kamu mau jadi apa. aku sebel disuruh ini-itu, harus ini-itu. aku bilang aku mau jadi monyet.

ah ya, jadi monyet sepertinya menarik.

kata bapak, dia gak keberatan kalau aku ga mau jadi anaknya. dia bilang boleh, dia ngasih tawaran kebebasan. aku ga harus manggil dia bapak, aku boleh manggil dia toni. dia bilang, kalau aku mau, nanti biar dia urusin akta kelahiranku, biar berubah nama orang tuanya jadi monyet.

tuh kan, cerita ‘kata bapak’ selalu menarik untuk disimak.

tapi dia ngasih analogi. kalau kita miara ayam terus ayamnya kabur kan rugi. paling engga kita udah ngeluarin uang buat ngurus ayam itu. jadi aku boleh pergi, tapi harus bayar dulu sama dia. dia kan udah investasi, nyekolahin aku, ngasih makan. dia bilang dia bermurah hati, dia hitung semuanya seratus juta aja.

wow. terus terus?

kata bapak aku boleh pergi, tapi aku harus inget aku punya utang sama dia. seratus juta. kata bapak dia bermurah hati, dia ga ngasih tengat waktu kapan aku harus bayar utang. tapi aku gak boleh minta duit lagi sama dia.

ya ya ya, alis saya semakin mengkerut…

dulu bapak pergi dari rumah, sejak SMP. ya dia ga mau ngikutin apa kata mbah. dia itu udah dirancang buat nerusin usaha di pabrik. dari jebrotnya juga dia udah diarahin kesitu. dia ga mau, dia kabur. menurutnya, dia sekarang udah bayar utang dengan nyekolahin dua adiknya sampe sarjana. dia bilang kalo aku berani kaya gitu boleh banget, dia akan sangat bangga dan menganggap aku lebih ksatria daripada dirinya.

that was a big ‘oh’ i guess..

kata bapak, tawaran kebebasannya itu akan berlaku sampai kapanpun. makin lama nambah, jumlah utangnya gak cuma seratus juta lagi. aku pernah kecelakaan, bapak bilang aku jangan mati sembarangan, aku belum bayar utang.

hahaha.. itu cara bilang, ‘hati-hati nak, jangan sia-siakan hidupmu dengan cara konyol’ yang sangat unik. jangan mati sembarangan.

honestly, itu ‘kata bapak’ yang keren, i thought. karena bahasa matahari itu selalu hangat.

cerita pendek

“Uh, sebel!”

Dengan wajah cemberut Aya membanting tubuhnya ke kasur empuk di kamarnya. Rupanya ia masih merasa kesal karena tadi di sekolah pertanyaannya tidak digubris oleh Rere.

“Masa aku dicuekin gitu aja? Padahal aku kan lagi butuh banget saran dari Rere. Mana belum dapat ide buat bikin cerpen lagi. Ah, Rere nyebelin!”

Keluhan panjang-pendek tak henti keluar dari mulut Aya. Begitulah kalau lagi bete, ujung-ujungnya Aya betah di tempat tidurnya. Nyenyak.

* * *

“Tulilulilut… Tulilulilut…” handphone Aya berbunyi.
BELI CAT SABLON. Kalimat itu tertulis di layar handphone-nya. Dengan malas Aya beranjak dari tempat tidur. Aya memang sengaja memasang reminder, takut lupa besok ada praktek seni rupa.

Setelah merapikan diri dan mengenakan jilbab mungilnya, Aya berpamitan pergi ke toko peralatan sablon.

Di tengah jalan, ia menyadari suatu keanehan. Ia tidak mengenali jalur yang dilewati angkot yang ia tumpangi. Ups, sepertinya ia salah naik angkot. Segera saja ia minta supir angkot untuk berhenti.

“Heran deh, perasaan tadi angkotnya be… Ups!”
Aya menabrak seseorang segera setelah ia turun dari angkot.

“Maaf, maaf, tadi saya… “ ucapan Aya terpotong, matanya kini sibuk memperhatikan laki-laki berkacamata yang kini ada di hadapannya itu.

“Mr. Akechi?” setengah berbisik, Aya masih terkesima.

“Maaf?” Laki-laki itu menatapnya.

“Oh, eh, maaf saya ngga sengaja. Saya tadi salah naik angkot. Saya mau ke daerah Duren Kembar.” Sepertinya Aya terkena segatan listrik. Dari tatapan si Mr. Akechi mungkin.

“Oh, Duren Kembar, saya juga mau ke sana,” jawab si Mr. Akechi datar.

“Maaf, tadi Anda bilang apa? Kuaci?”

“Mm… engga kok. Oh iya, nama saya Aya,” Aya mengulurkan tangannya.

“Saya Ryan,” Ryan tidak membalas uluran tangan Aya. Aya mengerti. Apa tadi, Ryan? Aya sangat terkejut.

“Ngga mungkin, Ryan… Ryan Fikri? Ngga mungkin kamu ada di sini!”

“Lho, Anda mengenal saya?”

Aya bingung, akal sehatnya berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Ia bertemu Ryan Fikri dan ia tahu itu tidak mungkin. Karena Ryan Fikri adalah tokoh idolanya di dalam sebuah novel. Diorama Sepasang AlBanna milik Ari Nur. Tidak mungkin tokoh itu tiba-tiba muncul di hadapannya. Tapi tunggu, mungkin ini Ryan Fikri yang lain. Tapi kenapa mirip Mr. Akechi pula?

“Kenapa, Anda seperti orang bingung?” Tanya Ryan.

“Kamu… Ryan Fikri.. Ar-Rayan Fikri? Arsitek?”

Ryan hanya mengangguk. Ikut bingung.

“Kok, Anda bisa tahu?”

“Ngga mungkin, sekali lagi ngga mungkin! Ryan Fikri, cowok ter-perfect di dunia benar-benar nyata?”

“Dasar orang aneh!” Ryan mulai kesal.

Ternyata seperti di novel, Ryan memang jutek. Aya hanya bisa diam. Kenapa bisa begitu mirip dengan Ryan Fikri yang selama ini aku kenal? Sekali lagi Aya mencoba menggunakan akal sehatnya. Hasilnya tetap sama; ini tidak mungkin. Maka ia mencoba untuk menyusun kata-kata, karena sepertinya laki-laki “jelmaan” di hadapannya mulai khawatir dengan kehisterisannya.

“Er.. saya minta maaf. Sa… saya hanya kaget. Er.. kamu, eh, Anda, Anda mirip sekali dengan Ryan Fikri yang saya kenal. Mungkin suatu kebetulan nama dan pekerjaan kalian sama. Tapi saya yakin, Anda pasti Ryan Fikri yang lain.”

“Kalau seandainya saya Ryan Fikri yang Anda maksud?”

“Ah, itu jelas ngga mungkin banget. Ryan Fikri yang saya kenal selama ini adalah tokoh khayalan yang sangat sempurna, setidaknya untuk saya. Kalaupun dia manusia betulan, pasti sulit sekali menemukannya di dunia ini, saking perfect-nya.”

“Tapi Allah maha berkehendak, bukan?”

“Ya. Kalau Anda memang Ryan Fikri yang saya maksud, ini sebuah keajaiban. Saya beruntung sekali bisa bertemu dengan Anda.”

“Aku tidak sependapat denganmu,” Ryan tidak ber-anda-anda lagi.

“Tentang apa?” kok, malah ngobrol sih?

“Tentang Ryan Fikri yang kau puji-puji itu. Jangan memuji orang seperti itu, itu terlalu berlebihan. Kamu tahu, Rasulullah yang Allah ma’sum saja tidak benar-benar sempurna. Beliau juga pernah melakukan kesalahan.”

“Mmm… terus?” Aya tertarik dengan apa yang Ryan bicarakan.

“Pernah dengar quran surat ‘Abasa?”

Aya mengangguk. Waktu itu Rere pernah mengecek hafalan juz ‘amma-nya di depan Aya.

“Tau apa isinya?”

Aya menggeleng. Walaupun di rumahnya ada terjemahan al-quran lengkap dengan tafsirnya, ia jarang sekali membukanya, apalagi menelaah isinya.

“’Abasa itu artinya bermuka masam.” Sepasang alis milik Aya hampir beradu.

“Kok namanya bermuka masam sih?”

“Surat ini menceritakan saat Rasulullah sedang berdakwah kepada para pembesar Quraisy. Kemudian datang seorang buta yang ingin minta nasihat dari beliau.  Tapi beliau malah berpaling dan bermuka masam kepada orang buta itu.”

“Untung orang itu buta. Coba kalau bisa ngeliat, pasti sakit hati dicuekin,” Aya ngomentar.

“Eh, malah bercanda!”

“Kalau kata aku sih, wajar aja kalau Rasul cuek kaya gitu. Kan beliau lagi sibuk dakwah, sama para pembesar Quraisy lagi. Kan kalau para pembesarnya masuk Islam, otomatis pengikutnya juga gampang ngikutin,” kata Aya berapi-api.

“Tapi tetap Allah tidak suka. Surat ini turun sebagai teguran kepada Rasulullah, supaya Rasulullah tidak membeda-bedakan orang dalam berdakwah. Kesannya kan Rasulullah semangatnya hanya dakwah kepada orang-orang mampu seperti para pembesar Quraisy itu, sedangkan orang yang kekurangan malah tidak dipedulikan. Padahal orang-orang Quraisy itu belum tentu butuh dengan nasihat-nasihat Rasulullah, lain halnya dengan orang butat yang datang karena memang ingin bertaubat.”

“Oh…” Aya ber-oh panjang.

“Tapi kan, kalau diusahain, siapa tau pembesar-pembesar Quraisy itu beneran masuk Islam,” Oh-nya itu ternyata ada sambungannya.

“Tadi siapa kamu? Oh iya, Aya ya. Aya, hidayah itu sepenuhnya urusan Allah. Sesering apapun orang kafir diperlihatkan kekuasaan Allah, jika Allah tidak berkehendak, dia tidak akan beriman.”

“Kalau gitu, beruntung banget dong orang yang dikasih Allah hidayah?”

“Iya. Beruntunglah orang-orang yang telah diberi hidayah oleh-Nya dan memilih Islam sebagai jalannya. Apalagi bisa memeluk Islam dengan kaffah. Tapi kita harus ingat, kita harus selalu istiqomah, teguh. Karena hidayah itu bisa Allah cabut kalau kita tidak bisa menjaganya.”

Aya mencoba merenungkan semua kata-kata Ryan Mulai dari penjelasannya tentang surat ‘Abasa sampai tentang hidayah Allah. Memeluk Islam dengan kaffah. Ah, begitu indah kata-kata itu. Aya juga ingin menjadi muslimah sejati. Tapi ia masih sering marah-marah ngga karuan, kerudungnya sering dilipat pendek, masih suka jelalatan ngecengin cowok, masih sering suudzon sama orang. Aya ingin berubah. Aya bersyukur bisa merasakan hidayah Allah itu, dan Aya ngga mau karena kelalaiannya Allah mencabut hidayah-Nya..

“Ry… Ryan?” mata Aya menyapu sekeliling. Tidak ada Ryan di sana

.
Aneh, kemana tuh orang. Aya masih mencoba mencarinya. Di warung, di dekat halte, di ujung jalan. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.

“Ya.. Aya!” bukan suara Ryan.

“Aya sayang…” suara… Bunda!

* * *

“Aya sayang, bangun, kamu belum shalat Ashar, Nak!”

“Bunda…” Aya membuka matanya. Dilihatnya jam dinding di kamarnya. Sudah jam setengah empat sore, ia tertidur cukup lama rupanya.

Setelah mengambil air wudu Aya segera shalat Ashar. Di sela dzikirnya Aya mengingat kembali pertemuannya dengan Ryan Fikri. Tiba-tiba ia bangkit menuju ruang tengah. Diangkatnya gagang telepon. Aya memijit nomor telepon rumah Rere. Tiga puluh menit lagi mereka janjian bertemu di daerah pertokoan Duren Kembar. Sepertinya Aya tidak kesal lagi sama Rere.

* * *

“Ryan Fikri palsu kali? Masa ikhwan mau diajak ngobrol berduaan begitu?” Rere menggoda Aya.

“Ah Rere, pokoknya orangnya tuh keren banget!”

“Jadi, sekarang kamu udah dapat ide?”

Aya mengangguk mantap.

“Re, besok anter ya?”

“Kemana?”

“Beli jilbab baru, kayaknya punyaku udah pada kekecilan deh..”

***

 

#walopun mungkin agak geje, tapi yaaa buat dm ini salah satu masterpiece. karena ini adalah satu dari dua cerita pendek yang pernah dm tulis seumur hidup. sekarang ga pernah lagiii nulis cerpen, hehhe.. tidak terlalu mahir 🙂

#cerpen ini ditulis untuk memenuhi tugas SKU PENEGAK BANTARA NB, sewaktu SMA dulu. dan yaaa… 050505 adalah tanggal pelantikan saya jadi Bantara Nurani Bhakti XXXI 🙂