inget adik hasbi, denger pak amin, ketemu kang dwi

si dm terdampar di salman (kemarin, 25/3). rencananya bada jumatan mau ke comlabs, jadi singgah dulu di salman.

melihat anak-anak usia sekolah menjual koran untuk alas solat. oia, dm baru tau loh kalo jumatan di salman bisa penuh banget, sampe keluar-luar pada ngampar.

jadi inget dulu waktu masih jadi Kakak PAS, ada ibu yang cerita soal anaknya. kebetulan anaknya ini jadi adik binaan dm. hasbi namanya, waktu itu masih kelas 3 apa 4 SD gitu. menurut cerita ibunya, adik hasbi ini aktif, susah diatur dan punya hobi dagang. katanya setiap jumat hasbi dengan semangat ke masjid buat jualan koran bekas.ย “kata ibu teh, iya hasbi boleh jualan, tapi harus ikut solat jumat. terus orang mau bayar berapa juga terima aja..” maksud si ibu, jangan masang harga, apalagi kalau terlalu tinggi, niatnya menolong saja, perkara orangnya mau bayar biar seikhlasnya.

cerita si ibu lagi, ibu pernah menyiapkan bekal buat hasbi. “ibu tanya teman dekat dia ada berapa di sekolah, biar kuenya bisa dibagi-bagi,” kata si ibu. pulang sekolah hasbi ngasih uang ke ibunya, katanya itu hasil dia jualan kue. si ibu tidak senang, dari yang dm tangkep sih, ibu ini gak mau anaknya jadi matre dan ga punya rasa ikhlas berbagi.

hihihi.. lucu deh. adik hasbi ini pasti punya maksud baik. si ibunya juga tentu saja maksudnya baik. waktu itu si saya yang boro-boro punya pengalaman ngurus anak ini dengan sotoynya bilang, “bagus dong bu, kalau adiknya pendiem, ga aktif berteman malah ga bagus juga kan. adik hasbi ini calon pengusaha.”

menurutku emang dia spesial, kalau ada yang nganggep nakal juga nakal yang wajar, namanya juga anak-anak. dm ga pernah nganggep dia nakal sih. anaknya emang aktif, senengnya lari-lari, agak susah diatur, senang memimpin temen-temennya.

oia, kesan pertama ketemu hasbi..

h: kakak namanya siapa?

d: kak maya.

h: wah kalau dibalik jadi ayam dong.

# ๐Ÿ˜ฏย huahahahaha.. untung si dm sudah melahap buku parenting.

d: wah, adik sudah pintar membaca ya, bisa bolak-balikin kata. tapi, kata rasul, manggil orang itu harus dengan nama yang disukainya.

jawara adanlah, aslinya asa gaya pisan si dm waktu itu. reaksi pertama dm muji dia dooong, “adik sudah pintar membaca ya”. and so emang ga ada yang salah kan, everybody knows that maya kalau dispell kebalik jadi ayam. dan every indonesian knows kalo ayam itu nama binatang. instead nganggep itu kurang ajar, mending dimanfaatin buat nanemin nilai “kata rasul, manggil orang itu harus dengan nama yang disukainya.”

setelah itu dia manggil dm dengan “kak maya”. bakat kan gw ngasuh anak? hohoho ๐Ÿ™‚

and surprise.. imam jumatan di salman kemarin Pak Amin Rais. i would very please to listen his khutbah jumat ๐Ÿ™‚

beliau menceritakan sebuah hadis,

“ada sahabat yang bertanya, ‘ya rasul, apa yang bisa saya kerjakan yang bisa mengantarkan saya ke surga?’ kemudian rasul menjawab, ‘sampaikan salam kepada setiap orang yang dijumpai, baik yang sudah saling kenal ataupun belum,'” kata pak amin.

nah, lebih lanjut menurut pak amin. “sampaikan salam” disini bukan sekedar mengucapkan assalamu’alaikum. hal ini dimaknai lebih jauh sebagai menebarkan kebaikan dan keselamatan, kekeluargaan, tidak menebar pertikaian.

yep, diingatkan kembali, bahwa muslim selayaknya membawa perdamaian kemanapun ia pergi.

dan ketemu kang dwi dari IGOS, singkat aja sih papasan. kata kang dwi, “hey, ngapain, mau wawancara Amin Rais ya?”

hehehe.. enggak kang dwi, si dm sudah lama tidak meliput buat salman, hihihi.. mentang-mentang dulu pernah liat si dm wawancara pak eko dan mas eko (dari IGOS juga).

Amazon, Riwayatmu Dulu

Akhirnya nonton film dokumenter panjang lagi! Menontonnya pun terasa istimewa, karena rame-rame dan langsung berdiskusi pula. Yep, YPBB bekerjasama sama Walhi bikin acara Markinon lagi. Kali ini film yang kita tonton bersama judulnya “Children of the Amazone”.

Film produksi tahun 2008 ini sudah saya nobatkan menjadi salah satu film dokumenter favorit saya. Si pembuatnya, Denise Zmekhol, bertutur dengan luwes sekali membawa saya ke dalam Hutan Amazon. Saya suka sekali cara Zmekhol bermain kamera ๐Ÿ™‚

Hutan Amazon merupakan hutan terluas di dunia, wilayahnya merupakan bagian dari 9 negara di Amerika Latin. Pada 1987, Zmekhol yang asal Brazil ini datang ke Amazon untuk mengabadikan keindahannya. Zmekhol mendokumentasikan kehidupan Suku Surui dan Suku Negarote, juga kehidupan para penyadap karet yang telah menjadikan hutan sebagai rumah mereka. 15 tahun kemudian Zmekhol kembali, banyak perubahan ia temui dari Amazon.

“When I first came to the amazone, the forrest was like a dream. A beautiful mistery.”

–Denise Zmekhol

Sejak era 60-an, suku asli Amazon mulai mengalami kontak dengan pendatang. Sejak terjadi kontak tersebut, mereka mulai terserang penyakit. Flu, peunomia dan campak bahkan membuat jumlah Suku Surui berkurang secara drastis. 700 orang meninggal, tersisa hanya 200 orang saja. Kebanyakan yang meninggal adalah para tetua. Seiring dengan meninggalnya para tetua, begitu juga dengan cerita, lagu dan upacara dari mereka. Ini karena Surui hanya memiliki budaya lisan yang diwariskan secara turun-temurun.

Kehidupan suku pedalaman ini berubah seiring aspal mengokohkan jalan melintasi Amazon. Tak urung Bank Dunia yang mendanainya. Pemerintah Brazil pun menjanjikan imbalan untuk warganya yang akan membuka hutan. Lahan hutan baik untuk pertanian dan peternakan, begitu bujuk rayunya.

Benarkah baik? Sayangnya jalan menuju hal baik ini tidak dijalani dengan baik. Membuka hutan dengan seenak udel, dibakar, ditebangi, tanpa perencanaan untuk hutan dan penghuninya. Konflik tak diundang pun terundang, para suku indian dan penyadap karet mempertahankan Amazon, rumah mereka, melawan pendatang yang semena-mena ingin menguasai hutan.

Di garis depan adalah Chico Mendes, bos penyadap karet ini berbicara di depan khalayak internasional untuk menyelamatkan Amazon. Dituntutnya wilayah konservari khusus dan jaminan perlindungan untuk hutan, untuk orang-orang indian, untuk para penyadap karet.

Hutan Amazon adalah penghasil 20% oksigen dunia. Kini lebih dari 600.000 km2 pabrik oksigen ini hancur, tergilas roda pembangunan.

Itu kan Amazon, Kita?

Sebagai orang yang tinggal di kota, rasanya yang kebayang kalau ditanya hutan ya mana lagi kalau bukan Taman Hutan Raya Juanda, hehe ๐Ÿ™‚

Setelah berbagi kesan dan komentar tentang film yang baru ditonton, Kang Rikrik sang MC melontarkan pertanyaan, “Ada yang punya pengalaman dengan hutan?”

Dan tada! OVJ dimulai.

Yang paling panjang ceritanya adalah Bram dan Kang Adhi, Teh Anil bahkan senang sekali ada “tukang ocon baru” ๐Ÿ™‚

Kang Adhi dan Bram

“Saya pernah membuka hutan,” kata Bram. Jadi, dulu di Lampung Bram pernah beli gunung yang sebenarnya bingung juga mau beli ke siapa. Tidak jelas lahan milik siapa. Setelah negosiasi dengan (oknum) penduduk setempat dan memberikan sejumlah uang, ditebanglah pohon-pohonnya. “Ya gundul, penduduk setempat protes.”

Menurut Bram, sebenarnya penduduk di sana punya hukum adat tersendiri yang mengharuskan menanam sejumlah pohon untuk setiap pohon yang ditebang. “Tapi ada oknum yang nawarin, masih penduduk situ juga, dia yang ngurus saya tinggal bayar uang.”

Kang Adhi menambahkan, biasanya pihak-pihak yang berkepentingan menjadi provokator saat pemerintah membuat kebijakan.

Ami juga cerita tentang pengalaman temannnya di Bogor. Mereka terpaksa menjual lahan hutan kota untuk kepentingan bisnis.

Teh Desra dari Aceh, lain lagi ceritanya. Pemerintah disana berencana akan membuka hutan untuk kepentingan wisata dan lain-lain. Pihak pemerintah beralasan “hutannya masih luas ini”. Lalu kami berbagi pendapat..

Bram: “Unjuk rasa aja se-Aceh.” ย #langsung ditolak forum

Kang Supe: “Kalau memang mau dibuka, harus ada aturan yang jelas.”

Kang Rikrik: “Kumpulkan fakta-fakta yang mendukung argumen kita agar lebih kuat baru disampaikan.”

Kabar tentang Aceh ini menjadi bahasan terakhir diskusi kami.

semua peserta Markinon "Children of the Amazone"

Saya pribadi jadi berpikir, benarkah kebutuhan manusia sebanyak itu, sampai harus terjadi kerusakan? Cuma pengen atau beneran butuh? Selama ini interaksi saya dengan hutan kebanyakan hanyalah sebatas interaksi tidak langsung. Mungkin secara tidak langsung saya pernah merugikan hutan. Dan tentu saja, walaupun secara tidak langsung kita juga bisa ikut menolong hutan agar tetap lestari.

“Sekecilnya apapun tindakan kita coba dipikirkan, pasti akan ada efek logisnya,” kata Kang Rikrik.

Hayu ah, bertindak. ๐Ÿ™‚

Konser Auman Jiwa

tuan, aku rindu!

rindu menyusun aksara menjadi kata

cukup kata saja, tuan

karena kita tidak pernah punya cukup waktu untuk sebuah kalimat

cukup kata yang hanya aku dan kau saja yang mengerti, yang rasai

yang kemudian berselang waktu akan kita rindui

Rindu berpuisi?? Come join Konser Auman Jiwa dalam Pekan Unjuk Literasi Salman.

poster konser auman jiwa

poster konser auman jiwa

bagi anda, siapapun. umur berapapun. dengan status apapun. jenis kelamin apapun. dengan makanan kesukaan apapun.
(1) silakan buat puisi (2) tema bebas (3) bawa puisi saudara pada ahad, 27 maret 2011 (4) daftar dulu pada hari tsb. di pav blok (5) tada! saudara akan mengonserkan ‘auman jiwa’ anda di depan khalayak, eh, jemaah salman itb yang lalu lalang.

#poster dan pengumuman oleh Tristia Riskawati, ya ya ini gratis seperti kentut.

have you mooed today?

sebelum posting liputan markinon, iseng ah posting ini dulu..

kalau kamu pengguna ubuntu coba deh buka terminal terus ketik perintah ini..

apt-get moo

nah, nanti bakal muncul seperti di bawah ini.

hihihi.. ubuntu lucu ya ๐Ÿ™‚

kalo diliat-liat itu terminalnya agak transparan, saya bikin skrinsyutnya diatas paper yang lagi dibaca.

ngomong2 skripsi saya sepertinya akan bertema jaringan komputer, lebih spesifik lagi tentang teknologi Wake-up on LAN.

doakan ya ๐Ÿ˜‰

cinta dalam sepotong roti

Katakan saya ketinggalan jaman atau apalah. Saya baru tahu kalau Museum Konferensi Asia Afrika punya kegiatan Movie Week tiap hari Selasa. Demi ubur-ubur, ingin lompat-lompat rasanya.

Senang sekali bisa nonton film tanpa tiket, di ruang temaram dengan dukungan audio visual yang oke, disuguhi camilan dan minuman hangat pula. Setelah itu masih ada diskusi tentang film yang telah diputar. PR buat saya, kalau ikut Movie Week lagi jangan lupa bawa gelas sendiri, karena di sana hanya disediakan gelas plastik. Hohho.. belum tau medan sih ya, taunya tasik ๐Ÿ™‚

Karena baru pertama ikutan juga, selama diskusi saya lebih senang memperhatikan. Film yang tadi saya tonton judulnya “Cinta dalam Sepotong Roti”.

Saya baru tau loh ada film Indonesia yang satu ini. Film peraih penghargaan Film Terbaik FFI 1991 dan 4 piala Citra lain untuk artistic, editing, musik, dan sinematografi ini merupakan salah satu debut Garin Nugroho.

Film ini memiliki tiga tokoh utama, Haris (Adjie Massaid), Mayang (Cut Rizky Theo), dan Topan (Tio Pakusadewo). Alur kisahnya sederhana saja, mereka bertiga teman sejak kecil. Ketika dewasa, Haris menikah dengan Mayang. Namun kemudian, Haris yang memiliki trauma masa kecil karena ibunya, ternyata tidak bisa memuaskan istrinya dalam urusan nafkah batin. Kala itu Topanlah teman yang selalu ada untuk Mayang. Seolah terlambat menyadari, sebenarnya Topan dan Mayang sudah saling menyukai sejak dahulu.

Benarkah sesederhana itu?

Cara Lain Garin

Menurut salah seorang penonton –saya lupa namanya– akang yang “satu era” dengan film ini, film ini dibuat saat jamannya GDN (Gerakan Disiplin Nasional), jamannya P4 (apa sih, lupa, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila?). Film ini dibuat dalam masa kejayaan TVRI, saat semua orang menonton “Dunia dalam Berita” dan “Aneka Ria Safari”. Dengan kata lain, film ini dibuat ketika selera masyarakat belum beragam. Lalu Garin membawakan sesuatu yang tidak biasa; sebuah film syarat simbol.

Lihatlah bagaimana roti selai serikaya disukai oleh Topan dan Mayang. Haris? selai arbei yang disukainya. Roti selai serikaya ini agaknya gambaran keterikatan hati Topan dan Mayang. Lihatlah bagaiman cincin kawin Mayang direkam kamera saat berdua dengan Topan. Seolah itulah tanda harus berhenti, betapapun gejolak hati ingin terus melampaui batas.

Mas Tobing –semoga tidak salah namanya– mengatakan, film era awal 90-an ini dari segi teknis, okelah diakui, ada terasa gambar yang kaku, terutama shoot2 dari atas dengan menggunakan helikopter. Tapi lihatlah bagaimana Garin berkembang di film-film selanjutnya. Sangat lain dengan orang yang bahkan sudah puluhan kali bikin film masih saja sampah. (#dukung p*nj*b* deportasi ke india!!) Inilah film yang bahkan 20 tahun kemudian masih mengundang orang untuk mendiskusikannya, untuk sekedar beradu pandangan tentang “ini oke gak sih?”

Penonton juga menyoroti permasalahan utama dalam film ini: Haris tidak bisa melayani Mayang dalam urusan ranjang. Aslinya, kalau dipikir-pikir ya memang itulah sumber konflik di film ini. Dan aslinya juga, Garin tidak menyajikan permasalahan seks ini dengan vulgar, tapi tetap dewasa.

Film Puitis

Garin tidak memilih Onky Alexander yang lagi ngetop-ngetopnya saat itu. Ingin membawa suasana berbeda, si pendatang baru Adjie Massaid dan Cut Rizky Theo yang dipilihnya sebagai bintang utama bersama Tio Pakusadewo.

Kompensasinya adalah, dalam beberapa adegan yang close-up, Adjie dan Rizky Theo dirasa kurang greget mengolah ekspresi. Tapi kemudian tergantikan oleh gambar-gambar puitis arahan Garin.

Pantai yang indah, langit biru tanpa batas, padang rumput, gunung dan bukit-bukit. Memanjakan mata! Setiap penonton bertanya-tanya, “ini di sebelah mananya Jawa? sebelah mananya Indonesia?” terjawab sudah setelah kata “baluran, banyuwangi” tertangkap mata di bagian Credit Title. Oooh..

Kata Kang Adew, “film ini puitis, bahasanya mungkin terdengar sangat ber-EYD, baku, tapi indah. liat aja berantem juga latarnya pantai yang indah.”

Oh iya, salah satu sumber ke-puitis-an film ini adalah puisi2 karya kakek Sapardi Djoko Damono yang turut muncul di film ini. Salah satunya puisi berjudul “Aku Ingin”.

Tentang Credit Title

Ini bincang-bincang Mas Tobing sih. Menurut saya menarik. Beliau itu pegiat LayarKita, salah satu komunitas yang mempelopori kegiatan Movie Week ini. Bahwa, credit title sebenarnya adalah bagian penting dalam film. PENTING.

Tapi kenyataannya, 21 sudah menyalakan lampu saat credit title masih diputar (kata beliau, blitz ga gitu). Lebih parah lagi, stasiun TV kerap kali memotong bagian credit title sewaktu menayangkan film.

OMG. Padahal orang sampai minjem duit sana-sini buat modal bikin film. Credit title itu hanya sebagian saja dari upaya penghargaan kepada seluruh komponen pembuat film.

Ok, sekian saja, sodara-sodara. Maaf kalau tulisan saya ga stabil.
Can’t wait for the next ๐Ÿ™‚