Lulu, Siti dan Tompi

Belakangan ini lagu-lagu tompi lagi-lagi saya tambahkan di playlist audacious saya. Di sela-sela episode “tinjauan pustaka”, saya kepikiran sama si Lulu dan si Siti di lagunya Tompi.

Berpikir ini jarang sekali, setidaknya belum pernah saya temui dari lagu-lagu yang pernah lewat di telinga saya. Dua nama wanita dalam satu lagu.

Dengarlah Duta menyebut-nyebut Shepia, atau pada lagu lain adalah Rani. Ebiet G. Ade punya Camelia yang melegenda itu. Pongki menghibur Putri dalam lagunya. Ariel menyebut-nyebut Sally yang selalu sendiri. Bahkan, hey, itu Kangen Band punya Yolanda.

Dan Tompi punya Lulu dan Siti sekaligus. Wow. Dan –menurut saya– berbeda dengan yang lain, lagunya tidak fokus kepada si wanita-wanita, melainkan pada kesialan si Tompi yang ditinggalkan wanita-wanita ini. Dan alih-alih meratapi, cara Tompi menyanyikan lagu ini, dan aransemen musiknya, membuat lagu ini jadi ringan, lucu, dan asik di telinga.

Inilah ini, diantara skripsi, ada si lulu, siti dan tompi πŸ˜‰

Lulu dan Siti

inilah cerita tragis cintaku/ tentang si lulu pacarku yang dulu/ sering aku mati dalam cemburu/ dia bercinta dengan sahabatku

terakhir kekasihku namanya siti/ rajin mengaji jago bikin puisi/ aku cinta padanya setengah mati/ kini dia pergi tak kembali

mengapa cintaku begini/ selalu ku ditinggal pergi/ apa mungkin ini takdirku/ menjadi jomblo sejati

mengapa cintaku begini/ selalu ku ditinggal pergi/ akankah suatu hari nanti/ akan datang padaku sang putri

Enjoy the song πŸ™‚

waktunya menggebrak dunia dengan kebaikan

Maya, gmn khabarnya?

alhamdulillah kabar baik pak. pak eno apa kabar? kangenyaa.

alhamdulillah juga, saya setiap rabu dan sabtu ke bandung di tubagus ismail.

oh ya. jalan-jalan ya pak, hehe.

tidak hanya berobat di rs Habibi.

hoo.. semoga diberi kesembuhan dan lancar selalu. amin. bapak masih ngajar di al mutaqin? di NF?

masih di almuttaqin di NF tidak, tapi sekarang sudah tidak begitu aktif, sekarang masanya DM untuk maju menggebrak dunia dengan kebaikan.

hmm terharu chat sama bapak. doakan ya pak, saya sedang menyusun skripsi .

iya insya Allah saya doakan semua murid Bapak sebagai pionir untuk Indonesia yang lebih baik, selamat berjuang robbunalloh solli ala Muhammad waali muhammad.

terima kasih, doa bapak berharga sekali buat saya πŸ™‚

#Pada hari mobi waras lagi, obrolan singkat dengan Ayahnya teman SMP saya, juga guru fisika saya sewaktu SMP.
“sekarang masanya DM untuk maju menggebrak dunia dengan kebaikan.”
Terharu :’)

Media Sihir Bernama Film

Film ya film. Dakwah ya dakwah.

Ya ya ya. Film ya film, dakwah ya dakwah. Begitu kata Deddy Mizwar. Hahaha, saya ketawa waktu si Bang Jek ini bilang begitu dalam talkshow bertitel “Film, Ekspresi dan Dakwah” di Masjid Salman ITB, Jumat (6/5) kemarin.

Mari kita maknai dakwah sebagai sebuah kegiatan menyampaikan kebaikan. Maka ya, film adalah media dakwah yang menyenangkan. “Film itu sihir,” kata Deddy Mizwar lagi. “Kita tahu itu hanya dalam film, tapi kita menangis karenanya, kita tertawa karenanya. Karena itulah sihir.”

Saya jadi ingin mengutip salah satu prolog dalam film Janji Joni;

Nggak sedikit dari orang-orang ini yang hidupnya berubah setelah nonton film. Temen-temen gue juga gitu. Ini Ardi anak punk sejati, hanya percaya pada kekerasan dan anti kemapanan. Tapi saking terinspirasinya sama film Bad Boys, dia akhirnya jadi polisi.

Terlepas dari benar atau tidaknya cerita si Ardi teman Joni itu, saya yakin banyak dari kita pernah terinspirasi karena menonton sebuah film. Agaknya memang inilah sihir tanpa simsalabim itu. Maka pertanyaan selanjutnya adalah, sejauh mana umat Islam bisa memanfaatkan media sihir ini? Oke, subjek kita kali ini adalah umat, manusia-manusia yang terlibat dengan sihir ini. Baik itu si pembuat mantra-mantra sihir, ataupun si penikmat sihir.

Mas Putut Widjanarko dari Mizan, yang juga produser film Laskar Pelangi, yang juga berkesempatan hadir di Masjid Salman sore itu, mengaku keinginan untuk menyampaikan kebaikan dalam film sama sekali tidak membatasinya dalam berekspresi. Maka kemudian Mas Putut menyoal film Iran yang kualitasnya bahkan diakui dunia, padahal mereka punya banyak keterbatasan. Voila! Batasan ternyata tidak membatasi ekspresi, batasan adalah alat pelecut kreatifitas!

Maka ingin sekali saya menyihir petugas imigrasi, atau pihak manapun yang bisa, untuk mendeportasi keluarga India produser film-film gak jelas itu. Yang telah menggilas batas kesopanan dan norma dengan memamerkan secara berlebihan aurat-aurat penyanyi dangdut siapalah, atau artis bokep import dari negara manalah. Yang telah menggilas batas nalar dengan hidup melulu berdampingan dengan setan dan seks.

Oh. Ya ampun.

Karena hey, “Tidak semua orang ringan kakinya untuk melangkah ke masjid, tidak semua orang mau membaca,” kata kembaran saya, Oki Setiana Dewi, pemeran utama film Ketika Cinta Bertasbih, yang untuk kali pertama menginjakkan kaki di Masjid Salman ITB pada sore gerimis itu. Ya, nona. Saya setuju sekali. Dan rasanya orang akan lebih sukarela menyerahkan dirinya untuk tersihir sebuah film.

Maka wahai kalian para perapal mantra kebaikan, yang memantrai lewat menulis skenario, yang memantrai lewat arahan-arahan pengambilan gambar, yang memantrai lewat akting. Kalian semua! Wahai orang-orang di balik sihir, saya doakan kebaikan, agar hanya sihir kebaikan juga yang bisa kalian buat. Meminjam istilah Bang Deddy Mizwar, “membuat film yang bisa dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat.” Wooohooo.. That’s why your name is Deddy-cation.. Mehehehe.. Sorry for joking πŸ˜‰

Di akhir acara, Mas Putut mengingatkan, “tugas kita selanjutnya adalah menonton film yang baik. menontonlah.” Yep. Marilah kita menjadi penikmat sihir ini. Karena sesungguhnya kita, si penonton ini, adalah semangat untuk para pembuat film untuk lagi dan lagi membuat film yang bagus, dan baik.

Oh ya, tidak lupa sang Nagabonar mengingatkan, sesungguhnya setiap orang berhak terlibat dan mencipta berbagai sihir dalam bentuk lain, untuk menyampaikan kebaikan πŸ™‚