teteh si jago belanja :)

itulah salah satu keahlian teteh saya; jagoan belanja. pasar tanah abang buat si teteh mah kecil. kalo saya mah lebih milih tempat belanja yang sedikit tokonya, biar ga cape, hehehe 🙂

udah kaya candi aja ini tumpukan kue kaleng -____-

ini foto diambil h-2 ramadhan loh. kata teteh, kalo belanjanya nanti-nanti barangnya keburu abis.

mbu dan teteh sibuk diskusi mau pilih kue kaleng yang mana

ini belanja ga sembarangan loh. sebelum belanja diabsen dulu. beli buat ngirim  mbah ini, buat nenek ini, buat bi itu, buat mang itu.. jadi ga heran kalo belanjaan kami setroli penuh 🙂

teh pipit

ngaku lah saya, teteh saya yang cantik ini emang jago belanja 🙂

foto oleh maya. diambil tanggal 30 juli 2011. lokasi asia supermarket, asia plaza, tasikmalaya.

“itung-itungan sama Tuhan aja ga bener..”

Saya berkesempatan mengikuti kuliah umum Pak Bambang Q. Anees lagi kemarin, di Salman ITB. Sekitar akhir tahun lalu, di tempat yang sama, beliau pernah berbicara mengenai agama dan filsafat. Kali ini, tajuk yang beliau bawa adalah “Memahami Bahasa Agama”. Ini saya ih wow aja gitu masuk kelas rasa tafsir dan filsafat.

Bahasan yang lebih spesifik yang beliau bawakan itu tentang kajian hermeneutika dalam buku “Memahami Bahasa Agama” karya Komaruddin Hidayat. Hermeneutika adalah salah satu metode dalam menafsir teks. Dalam kuliahnya kali kemarin, beliau mengkaji apakah metode ini layak untuk dipakai menafsir teks suci (quran) atau tidak.

Pak Anees ini seorang dosen filsafat, makannya tadi saya bilang kuliahnya rasa tafsir dan filsafat. Saya ga punya latar belakang kedua ilmu yang beliau masteri itu. Tapi saya suka sekali mendengar penjelasan-penjelasan beliau. Luwes, dan tampak stok ilmunya ga habis-habis, hehe 🙂

Di luar penjelasan beliau tentang hermeneutika, ada hal yang paling saya ingat dari kuliah umum kemarin. Pak Anees menceritakan percakapan beliau dengan temannya, saya lupa nama temannya itu siapa. Saya cuma ingat teman beliau itu orang MUI yang pernah ketemu Obama.

Kata Pak Anees, “kata teman saya, pantesan orang Indonesia banyak yang bangkrut. lha wong itung-itungan sama Tuhannya sendiri aja ga bener.”

Ngekngok. Naik sebelah alis saya.

“orang Indonesia itu aneh-aneh, cara beragamanya lucu. milih ibadah yang pahalanya kecil. sholat berjamaah itu pahalanya 27 derajat, tapi masjid sering kosong, sukanya sholat sendiri-sendiri. umroh itu pahalanya cuma menghapus dosa-dosa kecil pada tahun itu. menyantuni anak yatim malah dijanjikan bertetangga dengan Rasul di surga. tapi orang berbodong-bodong umroh, padahal lebih mahal (dari menyantuni anak yatim)..”

Ketawa saya, peserta kuliah umum yang lain juga. Kemudian Pak Anees menambahkan bahwa perintah menyantuni anak yatim ini tidak ada ketentuannya harus bagaimana. “Pokoknya meyantuni, ” tandas beliau.

Buat saya pribadi, ini mengingatkan saya untuk belajar lebih lagi.tentang agama yang saya anut ini. Malu juga sih jadinya, apalagi soal pengetahuan dalam beribadah, baik secara esensi maupun prakteknya.

Di akhir paparan Pak Anees sempat mengatakan, “untung Islam itu keren, banyak orang tertarik kepada Islam karena ajarannya, bukan karena perilaku umatnya.” Tah, nohok pisan lah. Pak Anees juga ngajak kita buat merenungi benarkah kita sudah jadi “khairu ummah”, umat terbaik? Gelar yang disematkan pada umat Islam yang hidup setelah Rasul wafat.

***

setelah googling, saya menemukan hadist ini:

“Aku dan orang-orang yang mengasuh/menyantuni anak yatim di Surga seperti ini”, Kemudian beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah seraya sedikit merenggangkannya. [HR. Bukhori]. dari sini.

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata bahwa Rasulullah saw. Bersabda,” Satu umrah sampai umrah yang lain menjadi kafarah ( penghapus dosa yang dikerjakan ) di antara keduanya.” ( Hadits Riwayat Muttafaq ‘alaih, Misykat ) dari sini.