Foto di Stand Agate :)

Yang minggu lalu ke Indonesia Bermain, cung??? Ikutan foto di stand Agate Studio gak? Seru loooh.. Apalagi kalo banyakan. Propertinya lucu-lucu πŸ™‚

Ini deh, mau pamer potonya aja. Ceritanya mah nanti ya, hehe πŸ˜‰

suci dan dm, karena pada mencar akhirnya poto berdua aja dulu..

akhirnya balik lagi ke stand ini buat foto, hihi.. (atas) bram, esha, suci, diky, zia, kang alif (bawah) dm, ricki, jali

Kalo dateng ke IB cuma buat liat2 stand doang, dijamin krik2. Tapi kalo tiap stand didatengin dan ikutan maen game yang ada di stand itu, jamin seru banget πŸ™‚

Event keren ini harus diadakan lagi tahun depan. Setuju kan kan kan??

Obrolan Sore

Foto bareng Bu Rosa, setelah sidang yudisium πŸ™‚

“Apa rencana kamu setelah ini? Mau ngelamar kemana?” kata Bu Rosa, pembimbing skripsi saya, setelah saya dinyatakan lulus sebagai seorang sarjana komputer.

Menurut beliau, biasanya orang keasyikan dengan skripsinya. Setelah beres malah kebingungan sendiri mau ngapain.

“Lamar apa, Bu? Lamar anak orang?” kata saya. Si Ibu ketawa. Boleh katanya, emansipasi.

Saya tau sih habis ini saya mau ngapain. Saya cerita beberapa rencana saya sama Bu Rosa. Saya mau menulis apa, saya mau kemana, mengerjakan apa, merencanakan apa.

“Baguslah kalau tau mau ngapain,” kata Ibu yang kata orang-orang wajahnya sama wajah saya mirip.

Bu Rosa ini teman ngobrol yang seru loh. Biasanya kalau bimbingan skripsi cuma 10 menit, terus ngobrol sejam. Eh, bimbingan sih, bukan tentang skripsi tapi, hehehe..

Kita ngobrol kemana-mana. Asli kemana-mana. Sampai Bu Rosa bilang gini, “Kamu kayaknya cocok kalau nikah muda.”

Ketawa saya. Sedari SMP, pas getol-getolnya baca novel, nikah muda itu udah saya catet sebagai cita-cita. Dulu mah menggebu-gebu banget, pengen punya suami kaya Ryan Fikri. Hahaha.. jadi malu kalo inget. Maklumlah anak SMP. Sekarang? Ya sekarang mah udah gede lah. Udah lebih dewasa, setidaknya.

Kata Bu Rosa, menikahlah dengan orang yang mau fight, dengan seorang pekerja keras.

Saya seneng sih ngobrol sama Bu Rosa, jarang-jarang kan saya dapet nasehat tentang nikah-nikahan. Biasanya saya baca buku. Beda aja gitu kan rasanya “dapat petuah” dari baca sama ngobrol.

“Setelah menikah nanti, kamu akan menemukan saat jenuh atau bosan dengan pasanganmu sendiri. Lalu apa yang membuatmu kembali? Ketika kamu mengingat jasa-jasa pasanganmu, saat berjuang bersama. Hal itu yang akan jadi obatnya.”

Tuh kan. Belum pernah saya denger hal ini dari orang lain.

“Makannya, ketika kamu menikah semua sudah dalam keadaan mapan, kamu jadinya ga punya jasa apa-apa sama suami kamu, juga sebaliknya,” lanjut Bu Rosa.

Begitu ya. Jadi ga dianjurkan nikah sama cowok tajir, ya? Hahahaha..

Seru kan obrolan saya sama Bu Rosa?

Pasti nanti Bu Rosa bakal kangen sama saya #kepedean πŸ˜›

Terima kasih, obrolan sore kita selalu seru πŸ™‚

m a n d i r i

Jusuf Kalla

judul kuliahnya, “Indonesia 2045, sudahkah kita berdiri sendiri? (mencari terobosan menuju kemandirian bangsa)” pematerinya Pak Jusuf Kalla. kuliahnya bertempat di ITB, pada 20 Agustus lalu.

saya jadi penasaran. Presidential Lecture Series sebelumnya, sekitar 2 tahun lalu, bersama Pak Habibi — waktu itu Bu Ainun masih mendampingi beliau — saya mendapatkan kuliah mengenai Indonesia pada usia 100 tahun (tahun 2045) dari sudut pandang seorang bapak bangsa yang ahli teknologi. kali ini bapak bangsa ahli ekonomi yang berbicara.

kuliah diawali dengan mendefinisikan negara seperti apa yang bisa dikatakan negara maju itu.

yang luas, yang sempit? singapur tuh maju, ah kan kecil ya, gampang ngurusnya. tapi eh, china tuh maju, penduduknya semilyar, 4 kali penduduk indonesia!

yang kaya sumber daya? sumber daya alam jepang ga ada apa-apanya dibanding indonesia punya loh. impor logam segala macem, eh diolah jadinya mobil. maju kan jadinya.

pada intinya, kemajuan suatu negara itu tidak tergantung luas wilayah, kekayaan alam, bahkan sistem pemerintahan juga. yang komunis, yang demokratis, sama-sama ada contohnya yang udah maju.

pak Kalla seolah menegaskan bahwa no excuse buat kita Indonesia. kita ga bisa beralasan susah maju karena negara kita terlalu luaslah, banyak penduduknya lah, dan blablabla alasan lain. GA ADA ALASAN!!

lantas dari manakah kemajuan itu bisa kita panen?

kemajuan ada pada kemampuan kita untuk bisa memberikan nilai tambah. contoh yang udah saya sebutin itu gimana caranya orang jepang bisa ngasih nilai tambah terhadap logam-logam dan komponen lainnya sehingga menjadi mobil. see? kuncinya adalah NILAI TAMBAH.

pada akhirnya, kemajuan ini akan mendorong terciptanya kemandirian. mandiri itu bukan berarti ga butuh orang lain loh. “bukannya harus anti asing, tapi percaya dulu sama kemampuan diri sendiri,” kata pak Kalla.

menurut pak Kalla, di Indonesia ini terdapat hal-hal yang menghambat kemandirian. hal-hal tersebut adalah perasaan tidak mampu, kebiasaan ingin yang gampangnya saja, dan kebiasaan ingin dikasih terus. hal-hal inilah yang harus dilawan dengan keyakinan dan semangat untukΒ  maju. menurut beliau juga, Indonesia membutuhkan pemimpin-pemimpin yang bisa menularkan optimisme dan semangat maju.

masalah semangat ini penting untuk dijaga. beliau mencontohkan Indonesia pada periode 2008-2009 berhasil melakukan swasembada beras, tetapi hal ini tidak bisa dipertahankan. “2010 kita impor (beras) lagi,” tutur pak Kalla.

yang paling saya ingat dari kuliah beliau, beliau bilang, “pake otot, pake otak, pake kantong sendiri!”

agak menyindir gimana gitu ya, kalo inget saya sering ngeluh dan manja, padahal belum mengumpulkan seluruh kapasitas diri 😦

hmm…

Dee-M dan Mamaw

yah, pokoknya senang sekaliii bisa mengikuti kuliah ini, sama Mamaw pula datengnya.

oh iya, pak Kalla juga bilang gini,

“SDM itu harus jangan manja. karena itu, di universitas butuh banyak dosen-dosen killer. kalau dosen banyak yang kasihan sama mahasiswanya waktu ujian, habislah bangsa ini.”

sesuatu ya, hihi πŸ™‚

event yang nggak nyampah :)

Pernah datang ke suatu event dan dapet jatah makanan dalam dus?

Terus minumnya pakai AMDK (air minum dalam kemasan)?

Kebayang yah, setelah acaranya beres sampah dus dan kemasan air berserakan, belum lagi kalau di dalam dusnya ada sisa makanannya.

Ada loh ternyata, alternatif untuk bikin sebuah event nggak menghasilkan sampah, khususnya sampah kemasan makanan dan minuman.

Menu makan siang kami nasi timbel, ayam, tahu, lalap dan sambel. Kami disediakan piring lidi, nantinya nasi timbel dibuka dan ditaruh di atasnya. Untuk urusan minum, disediakan gelas dan dispenser.

Ini nih foto-foto yang sempat saya jepret πŸ™‚

Menu makan siang: nasi timbel, ayam, tahu, lalap dan sambel

makaaaaaan πŸ˜€

Nah, supaya gelasnya tidak tertukar, disediakan plester dan spidol untuk menamai gelas.

Teh Rima dan gelasnya πŸ™‚

Dengan cara seperti ini sampah yang dihasilkan hanya berupa daun pisang dan sisa makanan seperti tulang ayam. Untuk sampah-sampah ini sudah disiapkan pengolahannya.

Ada keranjang takakura yang berfungsi sebagai tempat produksi kompos. Sisa makanan bisa dimasukan ke keranjang ini sebagai bahan kompos.

Untuk sisa daun pisang, karena jumlahnya lumayan banyak tidak dimasukan ke takakura. Ini bisa buat ngasih makan ikan, atau dipotong-potong dan dikubur atau dimasukan ke lubang biopori. Nanti busuk sendiri di tanah πŸ™‚

sampah dipisahkan sejak awal

Pelatihan Trainer Zerowaste Lifestyle YPBB

Yep. Acara makan siang yang saya ceritakan tadi ada dalam eventΒ  pelatihan Trainer Zerowaste Lifestyle YPBB. Ini sih udah jadi ritual YPBB tiap bikin acara pasti diusahakan seminim sampah mungkin.

Beberapa minggu lalu saya berkesempatan mengikuti pelatihan Trainer Zerowaste Lifestyle YPBB. Seperti judul pelatihannya, pelatihan ini memang ditujukan untuk menghasilkan trainer-trainer untuk pelatihan Zerowaste Lifestyle YPBB.

Setelah pelatihan ini, peserta akan magang di YPBB. Selama masa magang, peserta memiliki kewajiban paling tidak dua kali menjadi trainer pada pelatihan Zerowaste Lifestyle YPBB.

Batas waktu magang adalah 6 bulan. Nah, selama masa magang ini tentu saja YPBB membutuhkan banyak “mangsa” alias orang-orang yang akan belajar tentang Zerowaste Lifestyle sebagai media para magangers berlatih “cuap-cuap”.

Teman-teman yang mau di tempatnya diadakan pelatihan Zerowaste Lifestyle boleh menghubungi YPBB. Asal memenuhi syarat bisa kok, setahu saya mah gratis πŸ™‚ Nanti tim YPBB akan mengatur magangers mana yang bertugas menjadi trainer untuk pelatihan yang teman-teman ajukan πŸ™‚

kersen

di antara sekian banyak cita-cita saya, salah satunya adalah ingin punya pohon kersen di halaman rumah.

saya tidak tahu ini buah kersen bahasa indonesianya apa. saya suka banget wangi kersen. gimana ya, kalau dimakan wanginya sampai ke hati.

dulu di jogja, saya pernah nemu ada mbok2 jualan kersen sama cecendet dibungkusin pake plastik. lupa saya harganya berapa. unik aja gitu, kersen sama cecendet dijual kaya gitu asa baru liat.

di depan gedung ilkom ada pohon kersen di depan parkiran. lumayan rindang, tidak terlalu tinggi, dan sedang berbuah. yang paling semangat diajak berburu kersen itu kang alif, hehehe.. mungkin karena ada nilai nostalgianya kali ya buat si akang. dan kami dengan senang hati ngatain si jibong kampring karena ke-tidak-kersen-an-nya #apasih πŸ˜€

khalifa, the kersen seeker

#ilkomunite

sisa beberapa hari saja sampai saya dinyatakan lulus dari sini (amin).

saya cuma mahasiswa yang diharapkan dosen2 cepat lulus saja, karena jumlah mahasiswa yang lulus tepat waktu menjadi poin yang dipertimbangkan dalam akreditasi. saya menghabiskan waktu kuliah 4 tahun 2 bulan. cukup lah ya, ga kecepetan, ga kelamaan, untuk ukuran saya.

tahun ke-5 saya di sini, kerjaan saya banyaknya ngurusin dokumen. semacam skripsi dan kawan2nya.

lalu tiba-tiba ramai diperbincangkan masalah kemakom dan non-kemakom.
bah, apa pula itu. sebagai angkatan yang sudah diharapkan meninggalkan ilkom, udah lama saya ga ngikutin kegiatan kemahasiswaan di ilkom.

apa itu namanya Badan Eksekutif Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa, yang gitu-gitu saya emang ga terlalu paham. yang saya tau di jurusan tempat saya kuliah mah namanya Kemakom, Keluarga Mahasiswa Ilmu Komputer.

dari hasil kepo ke adik2 tingkat, ada dua pihak utama yang sebenarnya damai-damai aja, tapi seolah digambarkan berseteru.

pihak pertama adalah kubu yang beranggapan bahwa yang namanya kemakom itu ya semua mahasiswa ilkom, bukan hanya pengurusnya saja. pihak pertama ini secara umum diwakili oleh orang-orang yang memang adalah pengurus kemakom.

pihak kedua adalah kubu yang pernah merasa dikecewakan oleh pengurus kemakom. umumnya kubu ini adalah orang-orang yang tidak mengikuti alur kaderisasi yang ditentukan pengurus kemakom saat mereka masih mahasiswa baru. pas saya ngobrol2 sama orang2 ini, jiwa mereka mah ilkom banget, ga diragukan lah mereka ini bagian dari keluarga mahasiswa ilkom. hanya memang kekecewaan itu sedikit banyak menimbulkan ketidakpercayaan terhadap pengurus kemakom.

kenapa tadi saya bilang kedua pihak ini sebenarnya damai-damai saja? orang-orang yang dicap non-kemakom ga pernah melakukan hal-hal macam bikin kemakom tandingan gitu, atau ngeboikot acara2 yang diadakan pengurus kemakom. dua pihak ini juga ga pernah saling adu golok.

lantas di bagian mana berseterunya?
kalau buat saya, sebagai orang yang mengamati di balik kacamata minus tiga, sebagai orang yang hidup berdampingan dengan pihak-pihak yang saya ceritakan tadi, tidak ada perseteruan, hanya ada masalah di pelabelan mahasiswa.

kata “kemakom” yang umum dipahami diantara kami memiliki arti “pengurus kemakom”. sehingganya ada yang merasa “orang kemakom” ada juga yang “bukan kemakom”, padahal intinya sama aja anak ilkom.

ada juga label “anggota biasa” untuk anak ilkom yang lulus kaderisasi kemakom pas tingkat awal, dengan sendirinya ada juga “bukan anggota biasa”. padahal, ya sama aja anak ilkom juga.

nama-nama itu jadinya, kalo buat saya, apa banget sih, ya intinya juga ilkom-ilkom juga kan.

tapi itu kan kata saya yah, hehe πŸ˜›

ada memang yang beranggapan bahwa nama “kemakom” itu penting dan harus merasa dimiliki oleh semua mahasiswa ilkom. saat kata “kemakom” masih identik dengan kata “pengurus kemakom”, lagi-lagi menurut saya, akan susah memaksakan sense of belonging mahasiswa ilkom terhadap kata “kemakom” itu sendiri. jadi ya ga usah saling memaksakan, toh di keluarga beneran juga tiap anggota keluarga ga mesti sama.

dengan nama itu atau tidak, hayulah yang penting #ilkomunite.