Ke Situ Gede, Yuk!

Situ Gede pagi hari

Awal Desember tahun lalu, saya, Bram, Zia dan Kang Yudha berkesempatan main ke Situ Gede. Situ Gede ini salah satu objek wisata alam di kecamatan Mangkubumi, kota Tasikmalaya.

Seperti namanya, di sana terdapat danau yang lumayan besar. Di sekeliling danau ada trek ber-pavingblock untuk pejalan kaki kurang lebih sepanjang 6 kilometer.

Trek ini biasanya ramai pada hari Minggu, ada yang jogging, bersepeda, atau sekedar jalan santai. Kami sendiri memilih untuk jalan santai saja, sambil menikmati keindahan Situ Gede.

Sepanjang jalan mengitari Situ Gede, kami menemukan banyak orang memancing. Ada yang pake rakit, ada juga yang sekedar duduk di pinggir Situ. Kami juga menemukan bunga-bunga semak yang cantik. Selain itu ada rumah-rumah warga, yang entah kenapa, saya suka sekali motret jemurannya, hehe ๐Ÿ˜€

Mancing di atas rakit.

bunga putri malu yang kami temukan di sekeliling Situ Gede.

jemuran milik warga di pinggir Situ Gede.

Zia dan Bram, pose ala pahlawan bertopeng.

Sehabis khatam satu putaran keliling Situ Gede, kami memutuskan untuk makan di warung yang ada lesehan di bawah pohon kersennya. Saya lupa detail harganya, tapi makanan di sini relatif murah. Untuk berempat saja hanya menghabiskan 50-an ribu, itu pun menunya sudah lengkap (kalau tidak salah, kami pesan: nasi 5 porsi, 2 kelapa muda, 1 jus, 2 ikan bakar, 1 ayam goreng, 1 oseng pakis, lalab-sambel, tahu tempe, lupa lagi, hehe..)

Menunggu pesanan ๐Ÿ˜€

Menyenangkan, tapi…

Secara keseluruhan, Situ Gede tempat yang menyenangkan. Tapi masalah kebersihan masih kurang terjaga. Di beberapa titik di Situ, terdapat tumpukan sampah yang mengambang. Selain itu jumlah tempat sampah sangat sangat minim. Rambu-rambu peringatan untuk tidak buang sampah sembarangan (apalagi buang sampah ke Situ) tidak ada. Padahal banyak yang datang ke Situ Gede sambil bawa makanan untuk botram (makan bersama). Rata-rata menggunakan kertas nasi dan kantong plastik.

Selain itu terdapat keanehan saat membeli tiket. Petugas mengenakan tarif 2.500 rupiah untuk 1 orang, tapi kami tidak diberi tiket. Saat saya meminta tiket, petugasnya bilang kalau pake tiket 4.000.

Saya bilang tidak apa-apa. Akhirnya kami membayar 10.000 (untuk 4 orang), tapi hanya diberi 2 lembar tiket berlabelkan 4.000. Nah, loh, ini maksudnya apa? Uang kami lari kemana kalau tanpa tiket?? ๐Ÿ˜ฆ

Sepertinya hal ini hanya terjadi pada hari Minggu saja saat banyak pengunjung. Menurut informasi dari teman saya yang datang ke Situ Gede di luar hari Minggu, dirinya tetap dikenakan tarif 4.000 dengan tiket berlabel 4.000.

Semoga pengelola Situ Gede mau berbenah diri.

More photos here.

Akhirnya Punya Foto Keluarga :D

ki-ka: Bapak, Maya, Mbu, Teteh

Dee-M: “Apakah aku tampak bahagia?”

Nanaw: “Kamu tampak dewasa, M.”

–pada sebuah percakapan

Setelah 22 tahun hidup sama keluarga, akhirnya punya foto keluarga juga ๐Ÿ˜€

Aslinya, saya ga pernah punya foto keluarga sebelum ini.

Dulu waktu P2M Ilkom di Karangnunggal, pas taun 2008 kalo ga salah, dm ikut bantuin Kang Wisnu di Stand Foto Keluarga. Jadi waktu itu kami punya banyak program, kaya baksos, puskesmas keliling, lomba mancing dll, sama salah satunya program foto keluarga gratis.

Dari posko P2M, kami masih harus naik truk melewati medan terjal untuk sampai pada lokasi acara. Naik truk berasa naik jetcoaster aja pokoknya. Saya lupa nama desanya. Waktu itu kegiatan kami pusatkan di sebuah sekolah dasar.

Desanya lumayan terpencil, buat bisa ke puskesmas terdekat aja medannya kaya jetcoaster tadi. Kalau kata warga di sana sih, “keburu mati di jalan.” Makannya mereka senang sekali waktu kami bawakan petugas puskesmas datang ke desa. Mereka juga senang dengan stand foto kami.

Kami hanya berbekal kamera digital biasa, dengan sebuah tripod, printer dan laptop. Sebuah ruang kelas kami sulap jadi studio foto berlatarkan dinding kelas.

Awalnya mereka malu-malu, khasnya orang desa. “Alim ah abi mah acukna butut,” ada yang bilang begitu. Lalu saya membujuk untuk sekedar mandi dan berhias seadanya, stand foto kami tidak akan buru-buru bubar ini. Akhirnya puluhan orang mengantri, sanak famili diajaki.

Saya masih ingat perasaan yang saya rasakan saat itu. Terharu gimana gitu melihat binar bahagia orang-orang karena akan difoto.

Foto keluarga. Agaknya sederhana barangnya, selembar kertas saja wujudnya. Tapi luar biasa nilainya.

Oh iya, saya baru beberapa bulan pindah rumah. Tidak seperti lingkungan perumahan tempat tinggal saya sebelumnya, rumah saya sekarang dekat sawah loh. Tetangga-tetangga saya banyak yang berasal dari keluarga menengah ke bawah.

Selalu punya mimpi bisa menyediakan foto keluarga gratis buat tetangga-tetangga di sekitar rumah. Semoga terwujud ya. Amin ๐Ÿ™‚