nostalgia dari panggung dangdut

mana ada.

iya. mana ada!

itu kata yang terus terngiang di kepala saya waktu itu.

saya lupa kapan, waktu terakhir kali mengunjungi Tasik Fair.

saya takjub menghadapi kenyataan saya berada di depan panggung dangdut, bersama sahabat-sabahat ter-yahud sepanjang masa.

mana ada orang yang mau diajak dangdutan secara spontan seperti mereka. mana ada!

saya pribadi tidak terlalu akrab dengan dangdut. tapi bahwa rhoma irama dan evi tamala adalah legenda, iya kami mengakuinya.

panggung dangdut. pusat kegilaan kami dimulai.

Zaky dan Nanaw. hanya dengan mereka dangdut bisa jadi topik diskusi ilmiah 🙂

padamu Bang Haji…

selamat malam duhai Evi Tamala…

*foto dari kamera Nanaw

Guru yang Dirindukan

Saya masih ingat perasaan saya saat pertama kali bertemu Bu Endang Yuli Purwati (52). Saking terkesimanya, saya yakin wajah saya nggak kekontrol pas ketemu beliau. Tampang cengo, kalau kata orang mah.

Bersama teman-teman dari Pojok Pendidikan, untuk pertama kalinya saya bertemu Bu Yuli di Sate Ponorogo (Dipati Ukur, Bandung) pada Jumat malam, akhir tahun lalu (30/12). Awalnya saya tidak tahu akan bertemu dengan siapa. Pak Djadja sempat menjelaskan sedikit tentang beliau, namun tidak banyak yang bisa saya ingat. Yang saya bisa ingat hanya sebatas informasi bahwa Bu Yuli pernah menjadi bintang tamu acara Kick Andy.

Kemudian sampailah kami pada saat yang ditunggu. Bertemu Bu Yuli.

Saya dan Bu Yuli. Foto oleh Kang Asep Sufyan Tsauri.

Berjilbab merah, Bu Yuli malam itu. Setelah kami selesai santap sate, beliau ikut duduk di meja kami. Dimulailah obrolan hangat yang –saya bilang tadi bikin saya cengo– luar biasa inspiratif.

Sosok Bu Yuli sebagai ibu yang memiliki banyak anak asuh mungkin sudah banyak diceritakan media. Hal itu pula yang membuat beliau menjadi bintang tamu dalam acara Kick Andy. Jika Anda terbiasa merasakan haru saat menonton Kick Andy lewat perantara televisi, maka bayangkanlah bagaimana jika berkesempatan untuk bertemu secara langsung dengan si narasumber.

Itulah yang terjadi pada saya. Berkali-kali saya menahan haru luar biasa saat beliau menceritakan anak-anak asuhnya. Ada yang ditinggalkan begitu saja di paraji (dukun beranak), ada yang merupakan hasil pemerkosaan, pokoknya kisah-kisah hidup yang selama ini hanya saya dengar di berita kriminal, atau –okelah– sinetron.

Belakangan baru saya tahu kalau kisah-kisah beliau dengan anak-anak asuhnya juga beliau ceritakan dalam buku berjudul “Rumah Seribu Malaikat”. Jadi saya nggak perlu cerita panjang lebar tentang ini ya, hehehe 🙂 Saya ingin menceritakan beliau sebagai seorang guru pelajaran agama Islam. Tapi bukan sembarangan guru, lho..

Guru Agama yang Kreatif

Apa yang Anda ingat dari pelajaran Agama waktu sekolah dulu? Kalau saya pribadi, langsung teringat kata BBE alias “Buronan Bu Eti”. Bu Eti, Guru Agama saya ketika SMA sering memberikan tugas hafalan ayat. Saya tidak terlalu cemerlang sih dalam hafalan ayat ini. Tapi beruntung saya tidak masuk dalam barisan BBE. BBE ini sebutan yang masyhur di kalangan teman-teman sekelas untuk teman yang menunggak setoran hafalan ayat 😀

Layaknya pelajaran Agama pada umumnya, Bu Yuli juga memiliki daftar ayat-ayat yang harus dihafalkan anak didiknya. Bu Yuli menerapkan metode tutor sebaya untuk hafalan dan membaca alquran.

“Pada awal tahun ajaran saya biasa melakukan placement test, jadi saya tahu anak-anak mana yang sudah bagus bacaan quran-nya. Mereka kemudian dijadikan tutor untuk membimbing teman-temannya,” kisah Bu Yuli. Para tutor sebaya ini setelah lulus pun masih sering berkumpul. “Para ‘alumni tutor’ ini kemudian tersebar di beberapa perguruan tinggi dan menjadi dai/daiyah di kampusnya,” tutur Bu Yuli bangga.

Ada juga anak yang pada awalnya tidak bisa membaca quran tapi bertekad ingin jadi tutor. Dengan kerja keras anak tersebut kemudian dapat menyelesaikan hafalan untuk satu semester hanya dalam waktu dua bulan saja, dan kemudian berhasil menjadi tutor.

Bu Yuli sering melibatkan siswa-siswinya dalam mengajar. “Di kelas tidak selalu saya yang menerangkan, kadang saya ajak siswa juga. Saya terangkan apa itu kompetensi, apa itu indikator keberhasilan belajar. Saya berikan kebebasan kepada anak tersebut untuk membuat materi dengan media apapun. Mau membuat presentasi dengan power point silahkan, saya beri kepercayaan kepada anak tersebut.”

Pada sebuah kesempatan Bu Yuli pernah membawa manequine (boneka manusia) ke kelas. Tidak lupa Bu Yuli membawa baju dan perhiasan untuk si manequine tersebut. Kemudian siswa laki-laki diminta untuk mendandani si manequine. Setelah itu teman-temannya boleh berkomentar. Di antara komentar-komentar tersebut muncul siswa-siswi yang memberikan pandangan tentang bagaimana berbusana yang sesuai syariat Islam, malah ada yang lengkap dengan ayatnya. Bu Yuli praktis tidak perlu menerangkan lagi.

“Saya jadi fasilitator saja,” ungkap Bu Yuli.

Dalam kesempatan lain, Bu Yuli bekerjasama dengan guru kimia untuk menjelaskan peristiwa kiamat. Selain itu masih ada alat-alat peraga lain yang Bu Yuli gunakan untuk membuat pelajaran agama menjadi menyenangkan.

Orang yang Selalu Belajar

Bu Yuli berkali-kali menegaskan, bahwa dirinya bukanlah malaikat seperti yang sering dikatakan orang-orang. Yang ikut membiayai murid-muridnya yang tidak mampu bukan hanya dirinya, tapi juga teman-teman pengajar yang mau turut menyisihkan uang dengan sukarela.

Pada kesempatan kedua bertemu Bu Yuli di Comlabs ITB, beliau menceritakan bahwa dulunya dirinya mengajar biasa-biasa saja. Bu Yuli mulai mengubah cara mengajarnya pada pertengahan tahun 90-an ketika anaknya yang pada waktu itu kelas 1 SD mengaku kangen sama gurunya.

“Anak saya kan sekolahnya Senin sampai Jumat. Begitu Jumat dia sepertinya resah, bingung menghadapi libur. Suatu hari anak saya minta izin untuk menginap di rumah gurunya saat akhir pekan tiba. Kata anak saya, Umi aku kangen sama ibu guru,” kisah Bu Yuli.

Bu Yuli mengaku heran dengan apa yang terjadi pada anaknya. Karena penasaran, Bu Yuli berusaha mencari tahu bagaimana keseharian guru-guru anaknya ketika mengajar. Dari situ dirinya terinsipirasi untuk memperbaiki cara mengajarnya dan menjadi guru yang dirindukan murid-muridnya.

***

Bertemu orang-orang hebat membuat saya senang, tapi juga sekaligus malu. Bu Yuli semakin mengingatkan saya untuk peduli terhadap sesama dan terus belajar untuk meningkatkan kualitas pengabdian saya 🙂