Serunya Belajar Belly Mapping

Di kunjungan terakhir kami dengan Bidan Okke bulan lalu, suami saya, Mas Bram, sempat diajari oleh Teh Okke bagaimana meraba kepala janin dalam rahim. Waktu konsultasi bersama teteh bidan yang cantik ini selalu membuat kami bahagia. Teh Okke ramah dan baik hati. Saat-saat konsultasi dengan beliau adalah saat diskusi santai dan tidak terburu-buru. Teh Okke tidak pernah menggurui kami, perannya lebih banyak sebagai fasilitator saja. Senang deh πŸ™‚

Sejak saat itu, kalau si adik lagi pendiem, saya suka minta Bram nyari kepala si adik. Just to make sure kepalanya di bawah. Kalo lagi lincah mah tinggal minta tendang aja ke si adik. Kalau udah tau kakinya dimana, otomatis tau kepalanya dimana, hehehe πŸ™‚

Nah, Ahad kemarin (19/5) kami berkesempatan belajar Belly Mapping (pemetaan kandungan) bersama Bidan Yesie dan Tim Hypno-Birthing Indonesia. Seru loh. Ini bisa dibilang versi lengkapnya dari sekedar meraba kepala, ehehe..

Posisi Ideal Bayi

Sebelum membahas teknik Belly Mapping, kita belajar soal posisi bayi dulu yuk.

Posisi paling ideal bagi bayi lahir adalah letak kepala, alias kepalanya di bawah. Tapi gak sekedar di bawah juga ternyata.

Idealnya, bayi menghadap punggung Ibu. Dalam posisi ini, kepala bayi mudah “tertekuk”, yaitu dagunya nyelip ke dada. Jadi bagian terkecil dari kepalanya dapat masuk ke “pintu atas” panggul. Posisi ini disebut Occiput Anterior (OA).

Kebayang ga? Misalkan kalo kita mau pake kaos turtle neck. Ketika memasukan kaos ke leher kan lebih mudah kalo kepala kita nunduk (dagunya nempel ke dada), dibanding kalo kepala kita tengadah. Kalo kita sambil nunduk, ujung kepala duluan yang masuk ke kaos. Kalo sambil tengadah, dahi duluan yang masuk ke kaos. Posisi ujung kepala ini lebih lancip (diameternya lebih kecil) kalo dibandingkan dengan posisi dahi (diameternya lebih besar).

Kebayang kan yah beda posisi anterior sama posterior, sama pengaruhnya pas dia mau masuk jalan lahir? Perhatiin deh gambarnya. sumber gambar dari http://anthrodoula.blogspot.com

anterior (kiri) vs posterior (kanan). sumber gambar dari http://anthrodoula.blogspot.com

Nah, begitupun dengan panggul Ibu. Yang paling pas dan mudah dimasuki adalah kepala dengan posisi “nunduk” tadi, alias anterior.

Kalau bayi madep perut Ibu (disebut Occiput Posterior/OP), dia akan lebih lama masuk ke panggul, soalnya dia agak tengadah. Biasanya kalau posisinya posterior, proses persalinan akan berlangsung lebih lama, dan ngasih efek sakit punggung yang lumayan buat si Ibu.

Si bayi akan butuh waktu dulu buat muter ke posisi anterior. Soalnya kan kalo masih posterior butuh diameter yang lebih luas buat masuk panggul Ibu. Kalau begini biasanya si Ibu ngalamin serotinus (hamil melebihi HPL) dan kontraksi palsu (Braxton Hicks) yang lebih sering.

Ketahui Posisi Bayi dengan Belly Mapping

Belly mapping bisa dilakukan di dua bulan terakhir kehamilan. Dengan belly mapping, diharapkan si ibu bisa mengetahui posisi bayinya dan mengoptimalkan posisi bayi sehingga proses persalinan berjalan lancar dan nyaman πŸ™‚ Langkahnya sederhana kok.

1. Kenali gerakannya, gambar petanya

Untuk bisa mulai memetakan letak bayi dalam kandungan, ibu harus mengenali gerakan bayi. Jika perlu, lakukanlah pengamatan dalam beberapa hari di mana gerakan bayi biasa muncul, bagaimana pola gerakannya.

Di mana ibu biasa merasakan gerakan (tendangan) yang kuat dan gerakan kecil? Di mana ibu biasa merasakan adanya tonjolan? Di mana ibu bisa meraba detak jantung bayi?

Buatlah gambar lingkaran, bisa langsung di perut ibu atau di kertas. Bagilah lingkaran tersebut menjadi 4 bagian (kuadran). Jika digambar di kertas, maka cara melihatnya adalah seperti kita bercermin (sisi kanan ibu berada di sisi kiri peta kertas, dan sebaliknya).

Buatlah tanda pada lingkaran di mana gerakan bayi biasa dirasakan.

Kuadran belly mapping.

Kuadran belly mapping.

Jika ibu merasakan tonjolan, kemungkinan itu kepala atau bokong. Untuk memastikannya carilah detak jantung bayi. Detak jantung bayi akan terdengar dekat kepala.

Untuk menemukan punggung bayi, cobalah raba dengan dua tangan di dua sisi berbeda (bisa minta tolong suami, atau bidan). Jika menemukan sisi yang terasa firm/flat, itulah punggung.

belly-map2

Setelah memetakan tipe gerakan di tiap kuadran bisa digambar deh posisi bayinya.

Untuk bisa memetakan sangat mudah, cukup ingat tiga hal ini:

  • Kepala dan bokong
  • Punggung dan sisi perut
  • Kaki dan tangan

2. Visualisasikan letak bayi

Untuk melakukan hal ini, bisa dibantu dengan menggunakan boneka. Cocokan peta yang sudah dibuat dengan boneka. Lebih jelas seperti gambar di bawah ini.

Ayo cocokan :)

Ayo cocokan πŸ™‚ Kalau gambarnya kurang jelas klik aja ya πŸ™‚

Nah, ketauan kan posisinya. Pada bayi dengan letak posterior tendangan dapat dirasakan ibu di dekat pusar. Kalau bayi anterior biasanya terasa agak atas dekat rusuk. Jika setelah melakukan belly mapping ternyata posisi bayi belum optimal, jangan khawatir. Ada banyak cara untuk mengoptimalkan posisi bayi πŸ™‚ Ini bersambung ke next post aja yah πŸ™‚

***

Kegiatan belly mapping bisa meningkatkan bonding juga loh, antara ibu, bayi dan bapak. Kegiatan ini bisa sangat menyenangkan jika dilakukan bersama pasangan di saat santai. Kegiatan ini bisa dilakukan sambil ngajak ngobrol bayi. Selama proses belly mapping, jika ibu ragu, ibu bisa meminta bayi menunjukkan dimana kakinya dengan meminta sebuah tendangan yang kuat.

Oh iya, jika suami ragu untuk meraba perut ibu, bisa minta tolong diajari bidan saat ANC. Bayi diselimuti cairan ketuban kok, gak apa-apa perut ibu dipegang-pegang, hehe…

ki: foto bareng bidan yesie | ka: hasil karya bram nge-bellymapping dm

ki: foto bareng bidan yesie | ka: hasil karya bram nge-bellymapping dm

***

sumber gambar Belly Mapping Parent Handout. 2006 Maternity House Publishing, Inc. Gail Tully http://www.SpinningBabies.com

Setahun Kemudian

19 Mei 2013. Setahun kemudian sejak Maya dan Bram menikah. Alhamdulillah.

Sejujurnya tidak ada di antara kami yang secara khusus mengingat bahwa ini tanggal 19 Mei.

Pagi hingga siang

Pagi hari kami sedikit bergegas agar tidak terlambat mengikuti sebuah pelatihan di sebuah hotel di daerah Cigadung. Sengaja pakai taksi saja, karena si Bajigur, vespa kami,Β  tali koplingnya lepas. Paling tidak begitu penjelasan Bram, saya sendiri tidak mengerti apa itu kopling, hahaha πŸ˜€

Sampailah kami di hotel tujuan. Di sana banyak pohon cemaranya. Sejuk dan nyaman.

Kami tidak terlambat, acara belum dimulai. Bangku depan sengaja kami pilih. Saya lalu mengenali seorang yang tengah duduk bermain gadget di kursi pembicara, berbaju merah-oranye. Wow, itu Bidan Yesie Aprilia.

Kenapa saya bilang wow? Selama ini saya mengagumi beliau sebagai orang yang konsisten menulis. Apapun bidangnya, orang yang menulis itu keren. Dan orang yang bisa konsisten menulis itu mengagumkan. Bidan Yesie selama ini rajin menulis buku dan mengelola situs web. Membaca tulisan-tulisan beliau membuat saya merasa sedang kuliah kebidanan.

Oh iya, kami bertiga, saya, Bram dan si adik dalam perut, mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Tim Hypno-Birthing Indonesia. Selain diikuti para orangtua, pelatihan ini juga diikuti oleh bidan. Ada dua materi utama dalam pelatihan ini, tentang Belly Mapping dan Komunikasi Efektif dengan Janin. Pelatihan ini tambah seru karena kami langsung praktek πŸ™‚

Acara dibuka oleh Bidan Kristina Sembiring. Bidan asal Medan ini memberikan pengantar tentang pengalamannya berkomunikasi dengan janin. Paparan tentang komunikasi dengan janin ini kemudian dilanjutkan oleh Bu Lanny Kuswandi, seorang clinical hypnotherapist. Setelah itu baru deh Bidan Yesie menjelaskan tentang posisi janin dan bagaimana mengoptimalkannya. Setelah coffee break kami praktek Belly Mapping, dilanjutkan relaksasi yang dipimpin oleh Bidan Tantri Maharani.Bidan Tantri juga menjelaskan bagaimana komunikasi dengan janin bisa berjalan efektif (2 arah).

Belly Mapping seru banget. Bram langsung praktek sambil gambar-gambar di perut saya. Makin canggih aja dia πŸ˜‰

Siang hingga sore

Setelah rangkaian pelatihan selesai, kami menikmati makan siang di restoran hotel. Rampung urusan perut, pamitlah kami. Tidak lupa sebelumnya saling menyapa dan berterima kasih kepada para panitia dan pengisi acara. Senang sekali berkesempatan bertemu mereka dalam suasana yang humble, full of knowledge, and full of love.

Sebelum benar-benar meninggalkan hotel dan pohon-pohon cemara itu, kami salat Duhur dulu. Eh, habis salat malah ketemu Bidan Okke. Itu lho, bidan cantik nan ramah yang rutin meriksa saya dan si adik.

Teh Okke yang sedang bersama Bu Lanny lalu ngobrol lalalala sebentar dengan kami, hehe..

Tadinya kan plan A saya mau lahiran sama Teh Okke di Bandung. Tapi kemudian berubah karena satu dan lain hal. Jadinya saya merencanakan lahiran sama Bidan Atit di Tasik. Bidan Atit adalah uwa (budhe) saya yang juga dosen di sekolah kebidanan di Cilolohan Tasik. Ternyata, Teh Okke, Uwa Atit dan Bu Lanny ini saling kenal. Ckckck..

Singkat cerita pulanglah kami. Dari Cigadung jalan kaki sampai nemu angkot di Tubagus Ismail. Sampai Gerlong kami jalan kaki lagi ke lapang KPAD, seperti biasa beli kelapa muda sama rujak, hehe.. Habis itu jalan kaki lagi ke Pasar Gerlong Tengah, beli bahan untuk masak makan malam. Pasar Gerlong Tengah sore hari tampak sepi, walau kebanyakan kios sudah tutup, tapi masih ada beberapa kios yang buka.

Sampai di kosan tertidurlah kami dengan suksesnya.

Malam hari

Tanyalah saya, atau beberapa teman saya yang masakannya pernah dimakan oleh Bram. Betapa Bram selalu antusias terhadap makanan. Saya hampir yakin, suatu saat suami saya itu akan meninggalkan dunia perkodingan dan menjalankan bisnis kuliner. Baginya, memasak itu seperti sulap. Ajaib.

Sedari kecil, Bram dibesarkan dengan masakan Mbah Sofi. Sayang Mbah Sofi tidak pernah mengijinkan Bram turun ke dapur. Bukan tempat laki-laki di sini, begitu Mbah Sofi selalu bilang.

Sejak menikah, Bram adalah asisten memasak saya. Di awal kehamilan, saya sempat agak sensi dengan bebauan dan tidak mau masak. Saat itulah Bram mulai masak sendiri. Saya kasih tau bumbunya, takarannya, bagaimana memasaknya. Sekarang kalau masak, kadang saya yang jadi asistennya, Bram yang mimpin.

Makin jago masak dia sekarang. Dan lumayan perfeksionis dia -____- Sekarang kalau makan di luar dia sesekali suka bilang, “Enakan masakan aku,” ahahaha πŸ˜€

Kami tidak masak tiap hari sih. Tapi kami lumayan sering masak. Kalau masak begitu sesekali kami undang Adit, adik ipar saya.

Malam ini kami masak sayur bayam, ikan asin, tempe goreng dan sambal terasi. Sambal terasi Mas Bram itu juara. Kalo soal sambal, dia nakar sendiri. Dan makin sini makin pas takarannya πŸ˜€

Seperti biasa, kami makan sambil nonton TV dan ngobrol. Selalu senang liat Bram banggain masakannya sama Adit, ehhehe..

Di tengah acara makan kami, saya bilang, “Eh, ini kan tanggal 19 Mei.” Terus si Adit nyaut, “Oh iya yah. Udah setahun ya. Wah, selamat.” Lalu kami sibuk makan lagi dengan lahapnya. Hahahaha πŸ˜€

Setahun kemudian, Maya dan Bram masih begitu saja sebenarnya. Setiap hari selalu istimewa sih, jadi ya hari ini juga istimewa seperti hari-hari sebelumnya. Semoga kami selalu dicukupkan dalam syukur dan sabar πŸ˜€

Emak-emak di Era Facebook

Sungguhpun saya masih merasa diri imut-imut (kecuali perutnya), tapi tetaplah saya ini calon ibu. Udah mau jadi emak-emak aja nih si Dee-M πŸ˜€

Belakangan, saya menemukan suatu hal yang bikin saya makin merasa beruntung hidup di jaman internet ini. Suatu hal itu bernama fitur Grup di jejaring sosial Facebook (FB).

Menggunakan fitur ini sih sudah sejak lama ya. Tapi menemukan Grup FB yang dikelola dengan baik barulah saya temukan beberapa bulan belakangan ini. (Kemana aja gueeeh -__-)

Selama ini, kalau saya tergabung dalam sebuah Grup FB, biasanya grup tersebut hanya sebatas digunakan untuk berbagi info dengan lingkup orang tertentu, misalkan grup teman SMA, grup teman satu kuliah, grup teman satu jurusan, grup-grup komunitas, dan semacamnya. Beberapa grup FB yang saya ikuti tidak jarang yang tujuan grupnya ga jelas, semacam ngumpulin orang semata. Akibatnya banyak grup yang garing, sepi postingan, hanya ramai di awal, selebihnya sepi dan jadi ladang promo atau minta vote. Jarang sekali ada diskusi yang termoderasi dengan baik.

Grup FB sebagai pusat edukasi

Awalnya saya ketemu GBUS (Gentle Birth untuk Semua), grup ini secara spesifik membahas seputar proses kehamilan dan persalinan dengan mengusung filosopi Gentle Birth. Melihat GBUS, saya sempat ihwow sendiri. Para admin GBUS berhasil bikin fitur Grup di FB –yang tadinya saya pandang biasa saja– jadi sesuatu yang keren nan cetar membahana #apeu.

Grup ini punya visi yang jelas yaitu menjembatani berbagai aspek yang ada dalam memandang kehamilan dan persalinan. Berbagai aspek seperti ilmu pengetahuan, teknologi, spiritual, kearifan lokal diposisikan supaya berjalan sesuai fungsinya untuk diupayakan saling bersinergi. Dalam hal ini, pemberdayaan diri si ibu hamil adalah kuncinya agar dapat menjalani proses kehamilan dan persalinan yang nyaman dan minim trauma.

Itu maksudnya sesuai fungsinya dan sinergi teh gimana? Hubungannya sama pemberdayaan diri teh gimana? Nyaman dan minim trauma teh nu kumaha?

Misalkan begini. Ada ibu hamil sudah masuk HPL (Hari Perkiraan Lahir, biasanya minggu ke-40) tapi belum ada tanda2 bayi akan lahir. Lalu dokternya menyarankan untuk induksi untuk memancing kontraksi persalinan. Dokternya bilang sudah terjadi pengapuran plasenta dan air ketuban tinggal sedikit. Lalu dilakukanlah induksi. Ternyata si ibu tidak tahan dengan rasa sakit karena induksi, akhirnya bayinya lahir dengan normal tapi si ibu mengalami trauma luar biasa.

Dari contoh di atas, bisa terjadi skenario lain. Di akhir masa kehamilan, plasenta dan ketuban memang akan mengalami penurunan kinerja. Si ibu bisa lebih kritis bertanya pada dokternya, pengapuran plasentanya grade berapa, indeks ketubannya masih sisa berapa. Kalau perlu, bisa cari opini kedua dari dokter lain. Misal dokter lain menyatakan hal berbeda, kondisi bayi baik-baik saja. Berarti masih bisa ditunggu sampai minggu ke-42 sambil melakukan usaha2 induksi alami.

Atau bisa saja sudah 2-3 dokter diagnosanya sama. Lalu si ibu bisa apa? Ya manut dokter. Tapi kan beda, manut setelah berusaha dan cari solusi, sama manut yang pasrah begitu saja karena kurangnya pengetahuan. Ada rasa ikhlas karena sudah berusaha yang terbaik. Nah, ikhlas ini aspek spiritual yang berperan.

Kalau ditarik jauuuh lagi ke belakang. Si ibu dari awal kehamilan sudah mencari tahu apa dan bagaimana sih fungsi plasenta dan ketuban dalam kehamilan. Bagaimana agar bisa menjaga keduanya bertahan dalam kinerja yang baik. Oh ternyata harus konsumsi vitamin C yang cukup, oh ternyata harus minum air putih minimal 8 gelas sehari.

Terus kalau diinduksi itu diapain. Oh, induksi itu ibu disuntikan hormon oksitosin buatan. Hormon oksitosin ini yang bisa menyebabkan kontraksi dalam persalinan. Masalahnya, karena hormonnya buatan, otak jadi tidak bisa mengontrolnya, jadi kadang kontraksi yang terjadi juga diluar kendali. Proses ini bisa saja menjadi sangat menyakitkan karena resistensi setiap orang terhadap rasa sakit itu berbeda-beda. Jadi ada ga cara “memancing” persalinan yang alami? Ya ada dong. Tapi tidak bisa instan tentu saja.

Kalau ibu hamil banyak tau, biasanya akan lebih bijak dan lebih siap menghadapi apapun. Nah, peran grup GBUS di sini menyediakan ilmu dalam bentuk artikel dan diskusi. Si ibu ya tetap harus memberdayakan diri sendiri. Dengan membaca, mencari tau, bertanya jika belum mengerti, mempraktekan ilmu dari hasil membaca.

Saya perhatikan, ada 4 hal utama yang dilakukan oleh admin dalam mengelola grup.

Pertama. Menyediakan dokumen sebagai rujukan ilmiah. Kadang artikel ulasan dari pakar, ada juga jurnal ilmiah yg butuh effort buat ngerti, ehehhe.. Pokoknya bahan bacaan untuk menepis segala bentuk “katanya” agar jadi berdasar.

Kedua. Memandu diskusi tetap dalam topik dengan melibatkan pakar (dokter, bidan). Jika ada komentar yang membuat bias diluruskan admin. Sifat diskusi santun dan terbuka.

Ketiga. Baik dokumen maupun thread diskusi, didokumentasikan link-nya sehingga mudah dicari/diakses kembali (salah satu bentuk knowledge management yang sederhana tapi powerful). Jika ada pertanyaan sejenis yang pernah dibahas, biasanya akan diarahkan ke link dokumen/thread diskusi yang berkaitan.

Keempat. Member diajak untuk membaca sebelum bertanya. Agar sebisa mungkin menanyakan hal-hal yang belum pernah dibahas saja. Dengan begitu keilmuan Grup diharapkan akan berkembang dan semakin kaya.

Keempat resep di atas rasanya sudah membuat aktivitas ubek-ubek dokumen jadi seperti kuliah gratis. Grup menjadi pusat edukasi bagi membernya.

Walalupun demikian ada saja member yang ngeyel dan menjadikan grup tempat rumpi dan “memeriksakan” kondisi kesehatan. Padahal, diskusi atau interaksi di dalam grup bukan untuk menggantikan saran medis, grup adalah tempat belajar, bukan tempat minta diagnosa. Dengan banyak belajar, diharapkan si member lebih luas wawasannya, lebih nyambung waktu ngobrol sama dokter/bidannya, lebih memahami kondisinya secara holistik. Kalau sudah begini suka salut sama admin yang dengan sabar mengingatkan, padahal ngelola grup nggak ada yang gaji, hehe…

Setiap rumah punya aturannya sendiri

Dari awalnya cuma kenal GBUS aja, ternyata banyak grup lain dengan cara pengelolaan sejenis namun topiknya berbeda-beda. Ada yang bahas ASI, MPASI, imunisasi, dlsb.

Kebanyakan grup-grup tersebut punya aturan yang mirip-mirip. Diantaranya, tidak boleh jualan/promo, tidak menggunakan bahasa alay atau menyingkat tulisan, bersikap santun dalam diskusi, tidak menyebutkan merek tertentu, tidak menjelekkan orang lain, tidak OOT (out of topic), membaca dan menggunakan fasilitas search untuk mencari topik yang akan ditanyakan untuk menghindari pertanyaan dengan tema yang sama terus berulang, dll.

Peraturan grup ini biasanya dijadikan Pinned Post, sehingga selalu nangkring sticky di postingan paling atas grup. Tapi ya, adaaaaa aja member yang ngelewatin baca peraturan ini.

Gak sekali dua kali nemu postingan bunyinya kurleb begini, diawali dengan “makasih ya admin udah blh gabung” lalu menanyakan hal yang udah sueriiiing bgt ditanyain “lalu diakhiri dengan “share ea bunda”. Kalo udah nemu ginian super tepok jidat deh. Gemes gitu.

Masalah tidak boleh menyingkat tulisan terlihat sepele tapiii kadang susah juga. Kalau diingatkan ada yang mau nerima, ada yang ngeles karena udah kebiasaan, ada yang menganggap peraturan grupnya ribet. Nah lo, tulisan yang disingkat2 itu kalo jumlahnya sedikit nggak masalah. Kalau diskusinya berkembang dan komennya panjang2 bisa bikin pusing loh bacanya. Belum lagi kalau singkatan yang dipake nggak umum.

Terus kalo udah nemu yang OOT-OOT juga suka gemes. Pernah ada ibu2 yang ngebanggain anaknya MPASI dini (4 bulan) dengan makanan instan di grup yang bahas MPASI non-instan yang ikut standar WHO (mulai MPASI start 6 bulan). Nah lo. Ada juga yang nanya obat batuk pilek buat bayi di grup yang bahas makanan bayi, kan sebenarnya udah OOT. Alasan yang diungkapkan biasanya, “kan nggak ada salahnya berbagi”. Iya betul. Tapi kan ibaratnya grup itu adalah sebuah rumah, maka kita adalah tamunya. Dan tiap rumah punya aturannya sendiri.

Fenomena alay dan serba instan

Ini perasaan saya aja apa gimana. Saya banyak menemukan ibu-ibu muda dengan akun bernama alay. Dan kecenderungan mereka adalah tidak baca peraturan, menggunakan singkatan2 yang tidak umum dan karakteristik pertanyaannya bertipe “tolong jawab ya” bukan “dimana saya bisa mencari tahu lebih banyak tentang masalah yang saya hadapi”.

Terus kadang suka nemu pertanyaan ajaib. Contoh nih ya, di grup yang bahas ASI ada yang nanya kenapa anaknya nggak mau nyusu ke payudaranya yang sebelah kanan.

Haaalllooooo… Cuma cenayang yang bisa jawab pertanyaan ajaib macam itu. Banyak faktor yang menentukan keberhasilan sebuah proses ngASI. Perlekatannya gimana. Apa bayinya kalo madep kanan tangannya sakit apa kejepit jadinya rewel. Apa belum bener posisinya. Dll dll. Yang tau hal-hal itu kan si ibunya. Yang bisa jawab pertanyaan itu ya si ibunya sendiri.

Read more and be galau-less

Selama mengikuti beberapa grup FB yang bertema seputar dunia emak-emak ini, alhamdulillah saya hanya jadi silent reader alias belum pernah posting. Pernah beberapa kali komen aja mengarahkan ke link dokumen dengan tema yang ditanyakan. Seriiiing sekali dalam hati berujar, “yang gini-gini kenapa ditanyain bu, kan ada di dokumen, kan udah sering dibahas.” Ahahaha.. πŸ˜€

Mungkin emak-emak ini belum pada baca ya. Makannya jadi galau dan bertanya. Mungkin panik karena anak pertama. Yuk ah, budayakan membaca dan mencari tahu, halau galau dengan membaca.

IMHO, untuk jadi orang tua hebat tidak bisa dengan cara biasa. Rajin belajar dan membaca hanya salah satu upayanya saja.

Rekomendasi

Beberapa rekomendasi grup FB untuk emak-emak kece:
Gentle Birth Untuk Semua (GBUS), grup tentang kehamilan dan persalinan.
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), grup tentang ASI dan menyusui.
Homemade Healthy Baby Food (HHBF), grup tentang MPASI (Makanan Pendamping ASI) rumahan dan non instan.
Preschool On Line, grup tentang pendidikan anak usia dini.
Room for Children (RFC), grup tentang tumbuh kembang dan kesehatan anak.
Gerakan Sadar Imunisasi (Gesamun), grup tentang imunisasi.

Semua grup di atas berbahasa Indonesia dan kalau gak salah Closed Group semua, jadi request kita untuk gabung harus di-approve admin terlebih dahulu. Jika ingin bergabung dan turut menimba ilmu di sana, ingat ya, kenali dulu grupnya, baca dan hormati aturannya, jangan asal posting. Meski grup-grup di atas dikelola secara sukarela, di dalamnya banyak profesional yang memang kompeten. Ada bidan di GBUS, dokter di RFC, Konselor Laktasi di AIMI, dll. Sebagai tamu yang dapat limpahan ilmu gratis, menjaga sikap untuk tetap santun rasanya sudah menjadi kewajiban.

Salam damai πŸ™‚

be happy and make happiness for other

Seorang teman saya bilang, “kamu kok hamil semangat-semangat aja sih, M?”

He? Ya memang kalo hamil mesti gimana gitu?

Menurut pengamatan teman saya itu, saya selalu tampak bahagia dan antusias dengan kehamilan saya. Padahal saya merasa biasa saja. Cuma ya kalo ada yang ngajak ngobrol tentang hamil dan melahirkan saya suka semangat berbagi apa yang saya tahu. Ya namanya juga lagi hamil, wajar kan kalau banyak belajar tentang seluk-beluknya. Apalagi saya tipe yang senang mencari tahu dan ga gampang percaya sama orang. Jadinya lumayan banyak juga buku/artikel yang saya pelajari. Kadang suka ga kontrol semua yang pernah saya baca saya ceritain, hehe.. Tapi kaya gitu cuma kalo teman ngobrolnya antusias juga sih. Kalo engga mah males banget nyerocos sendiri, hihi..

Usut diusut, teman saya itu punya teman lain yang juga sedang hamil. Nah, temannya teman saya itu *ribet amat* sering mengeluh tentang kehamilannya. Sampai-sampai teman saya ini jadi berpendapat kalau hamil itu memang merepotkan dan dirinya jadi ikutan males buat hamil (tapi nyari calon suami masih teuteup antusias kayaknya, kekekekekkkkk).

Wah, sayang banget itu.

Saya bukannya tidak mengalami keluhan selama kehamilan. Di trimester awal saya sempat mual muntah kok. Tapi walopun gitu tetap bahagia dong, “oh begini rasanya”. Awalnya pas ngalamin keluhan ini suka sedih gitu, udah mah susah makannya, eh malah keluar lagi. Tapi lama-lama santai aja. Ya kalo muntah tinggal makan lagi, hihihi.. Tapi memang berpikir positif itu harus dilatih sih ya. Kalo saya, saya curiga ketularan Mbu saya yang super kalem gitu kalo ngadepin masalah.

Tapi memang ga bisa dipukul rata juga sih. Kondisi kehamilan tiap orang pasti berbeda-beda. Gimanapun kondisinya, jangan sampai pikiran negatif menguasai. Kuncinya adalah belajar dan belajar, juga berpikir positif selalu. Kalo udah ga tahan dan pengen ngeluh sebisa mungkin ditahan. Keseringan ngeluh nanti dikira ga bersyukur loh πŸ˜€

Salah satu yang bikin santai saat menghadapi ketidaknyamanan dalam kehamilan adalah karena saya tau apa yang sedang terjadi dengan tubuh saya. Taunya darimana? Ya belajar, hihi πŸ™‚ Misalkan saya jadi gampang mual. Saya tau itu disebabkan karena sistem pencernaan saya sedang terganggu karena naiknya hormon kehamilan. Si hormon kehamilan ini kan tugasnya mendukung segala proses kehamilan agar tetap berjalan sehat. Senang dong kalau adik bayi dalam kandungan tumbuh sehat.

Terus di awal kehamilan saya jadi gampang cape. Hellow, your body is producing baby, masa aja gak butuh energi lebih buat itu. Rasa cape jadi alarm super canggih buat saving energy. Keren kan tubuh kita.

Banyak lagi deh kasus-kasus kegalauan yang sebenarnya bisa dihalau dengan ilmu pengetahuan. Hayu ah, be happy and make happiness for other πŸ˜€