Emak-emak di Era Facebook

Sungguhpun saya masih merasa diri imut-imut (kecuali perutnya), tapi tetaplah saya ini calon ibu. Udah mau jadi emak-emak aja nih si Dee-M 😀

Belakangan, saya menemukan suatu hal yang bikin saya makin merasa beruntung hidup di jaman internet ini. Suatu hal itu bernama fitur Grup di jejaring sosial Facebook (FB).

Menggunakan fitur ini sih sudah sejak lama ya. Tapi menemukan Grup FB yang dikelola dengan baik barulah saya temukan beberapa bulan belakangan ini. (Kemana aja gueeeh -__-)

Selama ini, kalau saya tergabung dalam sebuah Grup FB, biasanya grup tersebut hanya sebatas digunakan untuk berbagi info dengan lingkup orang tertentu, misalkan grup teman SMA, grup teman satu kuliah, grup teman satu jurusan, grup-grup komunitas, dan semacamnya. Beberapa grup FB yang saya ikuti tidak jarang yang tujuan grupnya ga jelas, semacam ngumpulin orang semata. Akibatnya banyak grup yang garing, sepi postingan, hanya ramai di awal, selebihnya sepi dan jadi ladang promo atau minta vote. Jarang sekali ada diskusi yang termoderasi dengan baik.

Grup FB sebagai pusat edukasi

Awalnya saya ketemu GBUS (Gentle Birth untuk Semua), grup ini secara spesifik membahas seputar proses kehamilan dan persalinan dengan mengusung filosopi Gentle Birth. Melihat GBUS, saya sempat ihwow sendiri. Para admin GBUS berhasil bikin fitur Grup di FB –yang tadinya saya pandang biasa saja– jadi sesuatu yang keren nan cetar membahana #apeu.

Grup ini punya visi yang jelas yaitu menjembatani berbagai aspek yang ada dalam memandang kehamilan dan persalinan. Berbagai aspek seperti ilmu pengetahuan, teknologi, spiritual, kearifan lokal diposisikan supaya berjalan sesuai fungsinya untuk diupayakan saling bersinergi. Dalam hal ini, pemberdayaan diri si ibu hamil adalah kuncinya agar dapat menjalani proses kehamilan dan persalinan yang nyaman dan minim trauma.

Itu maksudnya sesuai fungsinya dan sinergi teh gimana? Hubungannya sama pemberdayaan diri teh gimana? Nyaman dan minim trauma teh nu kumaha?

Misalkan begini. Ada ibu hamil sudah masuk HPL (Hari Perkiraan Lahir, biasanya minggu ke-40) tapi belum ada tanda2 bayi akan lahir. Lalu dokternya menyarankan untuk induksi untuk memancing kontraksi persalinan. Dokternya bilang sudah terjadi pengapuran plasenta dan air ketuban tinggal sedikit. Lalu dilakukanlah induksi. Ternyata si ibu tidak tahan dengan rasa sakit karena induksi, akhirnya bayinya lahir dengan normal tapi si ibu mengalami trauma luar biasa.

Dari contoh di atas, bisa terjadi skenario lain. Di akhir masa kehamilan, plasenta dan ketuban memang akan mengalami penurunan kinerja. Si ibu bisa lebih kritis bertanya pada dokternya, pengapuran plasentanya grade berapa, indeks ketubannya masih sisa berapa. Kalau perlu, bisa cari opini kedua dari dokter lain. Misal dokter lain menyatakan hal berbeda, kondisi bayi baik-baik saja. Berarti masih bisa ditunggu sampai minggu ke-42 sambil melakukan usaha2 induksi alami.

Atau bisa saja sudah 2-3 dokter diagnosanya sama. Lalu si ibu bisa apa? Ya manut dokter. Tapi kan beda, manut setelah berusaha dan cari solusi, sama manut yang pasrah begitu saja karena kurangnya pengetahuan. Ada rasa ikhlas karena sudah berusaha yang terbaik. Nah, ikhlas ini aspek spiritual yang berperan.

Kalau ditarik jauuuh lagi ke belakang. Si ibu dari awal kehamilan sudah mencari tahu apa dan bagaimana sih fungsi plasenta dan ketuban dalam kehamilan. Bagaimana agar bisa menjaga keduanya bertahan dalam kinerja yang baik. Oh ternyata harus konsumsi vitamin C yang cukup, oh ternyata harus minum air putih minimal 8 gelas sehari.

Terus kalau diinduksi itu diapain. Oh, induksi itu ibu disuntikan hormon oksitosin buatan. Hormon oksitosin ini yang bisa menyebabkan kontraksi dalam persalinan. Masalahnya, karena hormonnya buatan, otak jadi tidak bisa mengontrolnya, jadi kadang kontraksi yang terjadi juga diluar kendali. Proses ini bisa saja menjadi sangat menyakitkan karena resistensi setiap orang terhadap rasa sakit itu berbeda-beda. Jadi ada ga cara “memancing” persalinan yang alami? Ya ada dong. Tapi tidak bisa instan tentu saja.

Kalau ibu hamil banyak tau, biasanya akan lebih bijak dan lebih siap menghadapi apapun. Nah, peran grup GBUS di sini menyediakan ilmu dalam bentuk artikel dan diskusi. Si ibu ya tetap harus memberdayakan diri sendiri. Dengan membaca, mencari tau, bertanya jika belum mengerti, mempraktekan ilmu dari hasil membaca.

Saya perhatikan, ada 4 hal utama yang dilakukan oleh admin dalam mengelola grup.

Pertama. Menyediakan dokumen sebagai rujukan ilmiah. Kadang artikel ulasan dari pakar, ada juga jurnal ilmiah yg butuh effort buat ngerti, ehehhe.. Pokoknya bahan bacaan untuk menepis segala bentuk “katanya” agar jadi berdasar.

Kedua. Memandu diskusi tetap dalam topik dengan melibatkan pakar (dokter, bidan). Jika ada komentar yang membuat bias diluruskan admin. Sifat diskusi santun dan terbuka.

Ketiga. Baik dokumen maupun thread diskusi, didokumentasikan link-nya sehingga mudah dicari/diakses kembali (salah satu bentuk knowledge management yang sederhana tapi powerful). Jika ada pertanyaan sejenis yang pernah dibahas, biasanya akan diarahkan ke link dokumen/thread diskusi yang berkaitan.

Keempat. Member diajak untuk membaca sebelum bertanya. Agar sebisa mungkin menanyakan hal-hal yang belum pernah dibahas saja. Dengan begitu keilmuan Grup diharapkan akan berkembang dan semakin kaya.

Keempat resep di atas rasanya sudah membuat aktivitas ubek-ubek dokumen jadi seperti kuliah gratis. Grup menjadi pusat edukasi bagi membernya.

Walalupun demikian ada saja member yang ngeyel dan menjadikan grup tempat rumpi dan “memeriksakan” kondisi kesehatan. Padahal, diskusi atau interaksi di dalam grup bukan untuk menggantikan saran medis, grup adalah tempat belajar, bukan tempat minta diagnosa. Dengan banyak belajar, diharapkan si member lebih luas wawasannya, lebih nyambung waktu ngobrol sama dokter/bidannya, lebih memahami kondisinya secara holistik. Kalau sudah begini suka salut sama admin yang dengan sabar mengingatkan, padahal ngelola grup nggak ada yang gaji, hehe…

Setiap rumah punya aturannya sendiri

Dari awalnya cuma kenal GBUS aja, ternyata banyak grup lain dengan cara pengelolaan sejenis namun topiknya berbeda-beda. Ada yang bahas ASI, MPASI, imunisasi, dlsb.

Kebanyakan grup-grup tersebut punya aturan yang mirip-mirip. Diantaranya, tidak boleh jualan/promo, tidak menggunakan bahasa alay atau menyingkat tulisan, bersikap santun dalam diskusi, tidak menyebutkan merek tertentu, tidak menjelekkan orang lain, tidak OOT (out of topic), membaca dan menggunakan fasilitas search untuk mencari topik yang akan ditanyakan untuk menghindari pertanyaan dengan tema yang sama terus berulang, dll.

Peraturan grup ini biasanya dijadikan Pinned Post, sehingga selalu nangkring sticky di postingan paling atas grup. Tapi ya, adaaaaa aja member yang ngelewatin baca peraturan ini.

Gak sekali dua kali nemu postingan bunyinya kurleb begini, diawali dengan “makasih ya admin udah blh gabung” lalu menanyakan hal yang udah sueriiiing bgt ditanyain “lalu diakhiri dengan “share ea bunda”. Kalo udah nemu ginian super tepok jidat deh. Gemes gitu.

Masalah tidak boleh menyingkat tulisan terlihat sepele tapiii kadang susah juga. Kalau diingatkan ada yang mau nerima, ada yang ngeles karena udah kebiasaan, ada yang menganggap peraturan grupnya ribet. Nah lo, tulisan yang disingkat2 itu kalo jumlahnya sedikit nggak masalah. Kalau diskusinya berkembang dan komennya panjang2 bisa bikin pusing loh bacanya. Belum lagi kalau singkatan yang dipake nggak umum.

Terus kalo udah nemu yang OOT-OOT juga suka gemes. Pernah ada ibu2 yang ngebanggain anaknya MPASI dini (4 bulan) dengan makanan instan di grup yang bahas MPASI non-instan yang ikut standar WHO (mulai MPASI start 6 bulan). Nah lo. Ada juga yang nanya obat batuk pilek buat bayi di grup yang bahas makanan bayi, kan sebenarnya udah OOT. Alasan yang diungkapkan biasanya, “kan nggak ada salahnya berbagi”. Iya betul. Tapi kan ibaratnya grup itu adalah sebuah rumah, maka kita adalah tamunya. Dan tiap rumah punya aturannya sendiri.

Fenomena alay dan serba instan

Ini perasaan saya aja apa gimana. Saya banyak menemukan ibu-ibu muda dengan akun bernama alay. Dan kecenderungan mereka adalah tidak baca peraturan, menggunakan singkatan2 yang tidak umum dan karakteristik pertanyaannya bertipe “tolong jawab ya” bukan “dimana saya bisa mencari tahu lebih banyak tentang masalah yang saya hadapi”.

Terus kadang suka nemu pertanyaan ajaib. Contoh nih ya, di grup yang bahas ASI ada yang nanya kenapa anaknya nggak mau nyusu ke payudaranya yang sebelah kanan.

Haaalllooooo… Cuma cenayang yang bisa jawab pertanyaan ajaib macam itu. Banyak faktor yang menentukan keberhasilan sebuah proses ngASI. Perlekatannya gimana. Apa bayinya kalo madep kanan tangannya sakit apa kejepit jadinya rewel. Apa belum bener posisinya. Dll dll. Yang tau hal-hal itu kan si ibunya. Yang bisa jawab pertanyaan itu ya si ibunya sendiri.

Read more and be galau-less

Selama mengikuti beberapa grup FB yang bertema seputar dunia emak-emak ini, alhamdulillah saya hanya jadi silent reader alias belum pernah posting. Pernah beberapa kali komen aja mengarahkan ke link dokumen dengan tema yang ditanyakan. Seriiiing sekali dalam hati berujar, “yang gini-gini kenapa ditanyain bu, kan ada di dokumen, kan udah sering dibahas.” Ahahaha.. 😀

Mungkin emak-emak ini belum pada baca ya. Makannya jadi galau dan bertanya. Mungkin panik karena anak pertama. Yuk ah, budayakan membaca dan mencari tahu, halau galau dengan membaca.

IMHO, untuk jadi orang tua hebat tidak bisa dengan cara biasa. Rajin belajar dan membaca hanya salah satu upayanya saja.

Rekomendasi

Beberapa rekomendasi grup FB untuk emak-emak kece:
Gentle Birth Untuk Semua (GBUS), grup tentang kehamilan dan persalinan.
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), grup tentang ASI dan menyusui.
Homemade Healthy Baby Food (HHBF), grup tentang MPASI (Makanan Pendamping ASI) rumahan dan non instan.
Preschool On Line, grup tentang pendidikan anak usia dini.
Room for Children (RFC), grup tentang tumbuh kembang dan kesehatan anak.
Gerakan Sadar Imunisasi (Gesamun), grup tentang imunisasi.

Semua grup di atas berbahasa Indonesia dan kalau gak salah Closed Group semua, jadi request kita untuk gabung harus di-approve admin terlebih dahulu. Jika ingin bergabung dan turut menimba ilmu di sana, ingat ya, kenali dulu grupnya, baca dan hormati aturannya, jangan asal posting. Meski grup-grup di atas dikelola secara sukarela, di dalamnya banyak profesional yang memang kompeten. Ada bidan di GBUS, dokter di RFC, Konselor Laktasi di AIMI, dll. Sebagai tamu yang dapat limpahan ilmu gratis, menjaga sikap untuk tetap santun rasanya sudah menjadi kewajiban.

Salam damai 🙂

3 thoughts on “Emak-emak di Era Facebook

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s