Akhirnya Punya Foto Keluarga :D

ki-ka: Bapak, Maya, Mbu, Teteh

Dee-M: “Apakah aku tampak bahagia?”

Nanaw: “Kamu tampak dewasa, M.”

–pada sebuah percakapan

Setelah 22 tahun hidup sama keluarga, akhirnya punya foto keluarga juga 😀

Aslinya, saya ga pernah punya foto keluarga sebelum ini.

Dulu waktu P2M Ilkom di Karangnunggal, pas taun 2008 kalo ga salah, dm ikut bantuin Kang Wisnu di Stand Foto Keluarga. Jadi waktu itu kami punya banyak program, kaya baksos, puskesmas keliling, lomba mancing dll, sama salah satunya program foto keluarga gratis.

Dari posko P2M, kami masih harus naik truk melewati medan terjal untuk sampai pada lokasi acara. Naik truk berasa naik jetcoaster aja pokoknya. Saya lupa nama desanya. Waktu itu kegiatan kami pusatkan di sebuah sekolah dasar.

Desanya lumayan terpencil, buat bisa ke puskesmas terdekat aja medannya kaya jetcoaster tadi. Kalau kata warga di sana sih, “keburu mati di jalan.” Makannya mereka senang sekali waktu kami bawakan petugas puskesmas datang ke desa. Mereka juga senang dengan stand foto kami.

Kami hanya berbekal kamera digital biasa, dengan sebuah tripod, printer dan laptop. Sebuah ruang kelas kami sulap jadi studio foto berlatarkan dinding kelas.

Awalnya mereka malu-malu, khasnya orang desa. “Alim ah abi mah acukna butut,” ada yang bilang begitu. Lalu saya membujuk untuk sekedar mandi dan berhias seadanya, stand foto kami tidak akan buru-buru bubar ini. Akhirnya puluhan orang mengantri, sanak famili diajaki.

Saya masih ingat perasaan yang saya rasakan saat itu. Terharu gimana gitu melihat binar bahagia orang-orang karena akan difoto.

Foto keluarga. Agaknya sederhana barangnya, selembar kertas saja wujudnya. Tapi luar biasa nilainya.

Oh iya, saya baru beberapa bulan pindah rumah. Tidak seperti lingkungan perumahan tempat tinggal saya sebelumnya, rumah saya sekarang dekat sawah loh. Tetangga-tetangga saya banyak yang berasal dari keluarga menengah ke bawah.

Selalu punya mimpi bisa menyediakan foto keluarga gratis buat tetangga-tetangga di sekitar rumah. Semoga terwujud ya. Amin 🙂

#ilkomunite

sisa beberapa hari saja sampai saya dinyatakan lulus dari sini (amin).

saya cuma mahasiswa yang diharapkan dosen2 cepat lulus saja, karena jumlah mahasiswa yang lulus tepat waktu menjadi poin yang dipertimbangkan dalam akreditasi. saya menghabiskan waktu kuliah 4 tahun 2 bulan. cukup lah ya, ga kecepetan, ga kelamaan, untuk ukuran saya.

tahun ke-5 saya di sini, kerjaan saya banyaknya ngurusin dokumen. semacam skripsi dan kawan2nya.

lalu tiba-tiba ramai diperbincangkan masalah kemakom dan non-kemakom.
bah, apa pula itu. sebagai angkatan yang sudah diharapkan meninggalkan ilkom, udah lama saya ga ngikutin kegiatan kemahasiswaan di ilkom.

apa itu namanya Badan Eksekutif Mahasiswa, Himpunan Mahasiswa, yang gitu-gitu saya emang ga terlalu paham. yang saya tau di jurusan tempat saya kuliah mah namanya Kemakom, Keluarga Mahasiswa Ilmu Komputer.

dari hasil kepo ke adik2 tingkat, ada dua pihak utama yang sebenarnya damai-damai aja, tapi seolah digambarkan berseteru.

pihak pertama adalah kubu yang beranggapan bahwa yang namanya kemakom itu ya semua mahasiswa ilkom, bukan hanya pengurusnya saja. pihak pertama ini secara umum diwakili oleh orang-orang yang memang adalah pengurus kemakom.

pihak kedua adalah kubu yang pernah merasa dikecewakan oleh pengurus kemakom. umumnya kubu ini adalah orang-orang yang tidak mengikuti alur kaderisasi yang ditentukan pengurus kemakom saat mereka masih mahasiswa baru. pas saya ngobrol2 sama orang2 ini, jiwa mereka mah ilkom banget, ga diragukan lah mereka ini bagian dari keluarga mahasiswa ilkom. hanya memang kekecewaan itu sedikit banyak menimbulkan ketidakpercayaan terhadap pengurus kemakom.

kenapa tadi saya bilang kedua pihak ini sebenarnya damai-damai saja? orang-orang yang dicap non-kemakom ga pernah melakukan hal-hal macam bikin kemakom tandingan gitu, atau ngeboikot acara2 yang diadakan pengurus kemakom. dua pihak ini juga ga pernah saling adu golok.

lantas di bagian mana berseterunya?
kalau buat saya, sebagai orang yang mengamati di balik kacamata minus tiga, sebagai orang yang hidup berdampingan dengan pihak-pihak yang saya ceritakan tadi, tidak ada perseteruan, hanya ada masalah di pelabelan mahasiswa.

kata “kemakom” yang umum dipahami diantara kami memiliki arti “pengurus kemakom”. sehingganya ada yang merasa “orang kemakom” ada juga yang “bukan kemakom”, padahal intinya sama aja anak ilkom.

ada juga label “anggota biasa” untuk anak ilkom yang lulus kaderisasi kemakom pas tingkat awal, dengan sendirinya ada juga “bukan anggota biasa”. padahal, ya sama aja anak ilkom juga.

nama-nama itu jadinya, kalo buat saya, apa banget sih, ya intinya juga ilkom-ilkom juga kan.

tapi itu kan kata saya yah, hehe 😛

ada memang yang beranggapan bahwa nama “kemakom” itu penting dan harus merasa dimiliki oleh semua mahasiswa ilkom. saat kata “kemakom” masih identik dengan kata “pengurus kemakom”, lagi-lagi menurut saya, akan susah memaksakan sense of belonging mahasiswa ilkom terhadap kata “kemakom” itu sendiri. jadi ya ga usah saling memaksakan, toh di keluarga beneran juga tiap anggota keluarga ga mesti sama.

dengan nama itu atau tidak, hayulah yang penting #ilkomunite.

Langit-Langit dan Tangga Kertas

“Emang anggaran negara yang 20% itu kemana, sih?” kata seorang teman saya setengah berteriak. Ada kesal dan kecewa dalam nada bicaranya, juga gemas dan sedih. Tidak tahu. Saya tidak tahu. Pun malas kami untuk sekedar menduga-duga. Berbincang tentang mahalnya pendidikan tinggi di negri ini mengaduk emosi kami sedemikian rupa. Ada sirkus apa lagi di negri ini?

“Itu duit berjuta-juta buat bayar apa, sih?” tanya teman saya lagi. Sekali lagi saya tidak tahu. Kenapa bangku kuliah bisa mahal selangit. Ya, selangit! Di kampus pendidikan, di kampus teknologi, semua sama saja. Beramai-ramai calon mahasiswa minta keringanan biaya. Ada juga yang mengurungkan niatnya untuk mengecap status paling agung sejagat pendidikan Indonesia itu: maha-siswa. Sejatinya engkaulah langit, wahai bangku kuliah, tak tersentuh walau seujung kuku..

Biarlah tetap langit dirimu itu, wahai kau yang bertajuk pendidikan tinggi. Tak kuasa kami mengubahmu.

Tapi langit-langit rumah saja, ya?

Negri ini memang menuntut penghuninya kreatif. Hayu.. Kita bahu-membahu bikin tangga buat sekedar bisa kesentuh itu langit-langit. Tangga kamu bentuknya bisa apa saja. Tangga koin, bahkan tangga kertas!

Kamu yang anak kuliahan, yuk beres-beres kosan yuk. Fotokopi-fotokopi diktat peninggalan zaman firaun yang sudah tidak terpakai dikumpulkan. Kamu yang anak sekolahan, kertas-kertas bekas ulangan dikumpul yuk. Bantu orang tua juga di rumah, beres-beres sambil memisahkan koran bekas.

Atau hey, adakah dosen atau guru yang ruang kerjanya sesak oleh kertas-kertas laporan dan makalah siswa? Dipilah yuk, yang sudah kadaluarsa dikilo saja. Dan itu hey kamu, aktivis-aktivis kampus, beres-beres sekre yuk cyinnn… Siapa tahu banyak dokumen yang sudah tidak terpakai, karton-karton bekas demo mungkin, daripada numpuk jadi sarang nyamuk.

Hayu.. Dikilo yuk kertas-kertasnya, dijual. Mamang pemulung untung, kosan/rumah/sekre jadi beres, uangnya bisa buat bantu orang. Nah, tiga kebaikan terlampaui, kan! Terus cobalah rada kepo sedikit, cari tahu siapa saja sih yang lagi mengumpulkan dana. Tim advokasi di himpunan pasti banyak yang lagi bingung tah nyari uang buat nebus mahasiswa baru.

Sekali lagi hey, hayu!

Kisah mereka dan langit-langitnya:

http://salmanitb.com/2011/07/pantaskah-kita-renungan-mahalnya-biaya-di-perguruan-tinggi-negeri/
http://edukasi.kompas.com/read/2011/05/20/10261678/Nak.Urungkan.Niatmu.Jadi.Sarjana.
http://edukasi.kompasiana.com/2011/07/16/prihatin-jutaan-alumni-sma-tidak-bisa-kuliah/
http://salmanitb.com/2011/07/anis-balqis-akan-terus-berusaha/

melunakkan hati

menurut hadis yang teman saya baca tadi pagi, hanya dengan mengingat Allah lah hati kita akan lunak.

maka katanya kemudian, “aku harus sering ingat Allah kalau gitu.”

ya, kata saya.

mengingat Allah (dzikrullah) itu tidak melulu harus dengan wiridan (membaca kalimat tahmid, tahlil, takbir, tasbih) saja. iya betul, itu salah satu bentuk dzikrullah, tapi bukan hanya itu saja kaaan bentuk mengingat Allah itu 😉

lantas bagaimana perkara melunakkan hati ini?

kata saya ngasih usul, “bagaimana kalau kita biasakan mendoakan orang lain?”

begini alurnya: saat kita berdoa, berarti kita minta sama Allah kan –sama siapa lagi?– maka saat berdoa, otomatis kita jadi mengingat Allah kan? nah, dengan berdoa, kita juga jadi terasah kalau kita ya hanya makhluk, mau nyombongin apa coba, orang Yang Maha Segalanya itu bukan kita.

nah, lalu siapa saja yang mesti didoakan ini?

ya siapa saja. supir angkot yang walaupun macet tetap ngasih kamu uang kembalian dengan nominal yang tepat. ya Allah, sesungguhnya selama macet tadi bapak ini telah bersabar, maka permudahlah urusan rizkinya, amin. atau kamu nguping sekelompok ababil ga lebay-lebay amat ngomongin ujian masuk PTN, itu juga doakan saja lulus. atau kamu beli lotek terus si ibu loteknya ternyata super ramah, berdoalah semoga lotek si ibu cepat laku, dan makin enak dari hari ke hari, amin.

ya siapa sajalah, yang sekiranya kelihatan, didoakan saja yang baik-baik. sampai kamu terlatih, dan tanpa pake presto pun lunak sudah hatimu karenanya.

sstt..
kalau kamu berdoa untuk orang lain tanpa sepengetahuan orang yang bersangkutan, malaikat akan mengamininya dan mendoakan hal yang sama buat kamu. that would be great, right? didoakan malaikat dong. ini kata hadis loh, bukan kata saya. tapi lupa perawinya siapa, hehe.. cari sendiri lah ya.

mari mengingat Allah, mari berdoa, mari melunakkan hati 😉

Lulu, Siti dan Tompi

Belakangan ini lagu-lagu tompi lagi-lagi saya tambahkan di playlist audacious saya. Di sela-sela episode “tinjauan pustaka”, saya kepikiran sama si Lulu dan si Siti di lagunya Tompi.

Berpikir ini jarang sekali, setidaknya belum pernah saya temui dari lagu-lagu yang pernah lewat di telinga saya. Dua nama wanita dalam satu lagu.

Dengarlah Duta menyebut-nyebut Shepia, atau pada lagu lain adalah Rani. Ebiet G. Ade punya Camelia yang melegenda itu. Pongki menghibur Putri dalam lagunya. Ariel menyebut-nyebut Sally yang selalu sendiri. Bahkan, hey, itu Kangen Band punya Yolanda.

Dan Tompi punya Lulu dan Siti sekaligus. Wow. Dan –menurut saya– berbeda dengan yang lain, lagunya tidak fokus kepada si wanita-wanita, melainkan pada kesialan si Tompi yang ditinggalkan wanita-wanita ini. Dan alih-alih meratapi, cara Tompi menyanyikan lagu ini, dan aransemen musiknya, membuat lagu ini jadi ringan, lucu, dan asik di telinga.

Inilah ini, diantara skripsi, ada si lulu, siti dan tompi 😉

Lulu dan Siti

inilah cerita tragis cintaku/ tentang si lulu pacarku yang dulu/ sering aku mati dalam cemburu/ dia bercinta dengan sahabatku

terakhir kekasihku namanya siti/ rajin mengaji jago bikin puisi/ aku cinta padanya setengah mati/ kini dia pergi tak kembali

mengapa cintaku begini/ selalu ku ditinggal pergi/ apa mungkin ini takdirku/ menjadi jomblo sejati

mengapa cintaku begini/ selalu ku ditinggal pergi/ akankah suatu hari nanti/ akan datang padaku sang putri

Enjoy the song 🙂

khadijah

khadijah adalah wanita terhormat. bangsa arab mengenalnya sebagai pedagang yang jujur dan sukses.

khadijah jatuh hati pada muhammad, sang terpercaya.  khadijah adalah wanita yang melamar muhammad.

khadijah adalah pendamping muhammad selama 25 tahun.

khadijah adalah orang yang menenangkan muhammad setiap kali tubuhnya bergetar karena datangnya wahyu.

khadijah adalah istri yang setia menemani perjuangan muhammad, dalam setiap tekanan, hujatan dan pengasingan.

zerowaste KTP

berawal dari status fb, berlanjut chat ym. dengan beberapa penyesuaian agar lebih enak dibaca.

dee-m dan nanaw.

*jrengjrengjreeeeeng..*

baru saja mencetuskan teori usia 22 #gapenting

apaan? 🙂

lebih tepatnya teori KTP. KTP pertama kan usia 17, expired 5 tahun kmudian, usia 22. nah, untuk menghemat kertas, baiknya pergantian status dilakukan bersamaan dengan pergantian KTP. agar KTP tetap dibuat 5 tahun sekali, tanpa adanya kejadian yg membuat data KTP tidak lagi valid sebelum jatuh tempo. #gapentingbgttkann

kikikik… status marital yah maksudnya?

bisa itu. bisa status gawe. bisa pindah alamat.

hihihi.. status gawe apa aja?

pelajar, mahasiswa, pns, swasta.. apalagi, ya?

jobless?

biasanya dikamuflase dengan kata swasta.

hahahahaaa masaa?

iya.

tau dari mana?

pernah liat.

dari siapa?

ada deh 😛

kikikikik.. baiklah.. tapi tapi, kalo pake teorimu itu, teori hemat kertas, pak erte dan bu erte akan kehilangan pemasukan.

hahahaha… lebih parah lagi, kalau pake teori itu, pilihan waktu menikahku jadi 5 bulan lagi ATAU 5 tahun 5 bulan lagi..

ahahaaaa.. aku bulan depannn!!!!

nah lo, hihihihi.. 😉

iya yah… curiga (kamu) lima bulan lagi 🙂 lima bulan lagi, status mahasiswanya ilang hehehe..

amin..  aduh jangan (jadi) ngomongin skripsi  -___-

nggaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak..  ngomongin ktpeeeee..

itu sedang jadi topik tabu.

akakakakak… sensitif.  ya udah,, soal nikah aja berarti..

wew.

aku bulan depan yah. bulan depan, di 3 taun yang akan datang 😉

adeueueueueuh..

adeuh kumaha? ah serem kalo harus ngikutin teori kamu..

ya itu kan teori hemat ga penting. zerowaste 🙂 emang kamu expired kapan KTP? si inoy masa 2012, padahal kan lebih tua dari dm.

belum cek lagi, bentar aku cari deh.

hahahaha.. ya ampun..  teori ini walopun gj bisa mendatangkan pembicaraan yang menyenangkan yaa..

ahaha… iyaaa.. kangeeeeun. (expired KTP-nya) 10-04-2012.

masih ada waktu setahun berarti, naw.

berarti kemungkinan pergantian status zero waste ala kamu, aku nikah di usia 23, selanjutnya 28. kikikikikikik..  duadelapan dooooooooooong!!!  kamu kamu?

aduh jangan 28 ah, kelamaan. aku 22 aja deh, tapi mepet berarti yah. huahahahaha 😀

ehh pastiin dulu expirednya kapan!

30-07-2011

lima bulan lagi, bener.. ahaha… selamat nyari pasangan yang mau ganti status KTP ala zero waste yah.

mudah2an nemu deh 😛  kikikikikkkk 🙂

kalo itu baik, Amin… 🙂

hadeuh. bijak euy si nanaw.

kikikik… soal jodoh, kalo kamu orang yang kuat, insya Allah nggak akan menghalangi karir mahasiswanya. hehehe..

aku mau posting chat ini ah di blog.

ahahaha… bolehh…aku tersandunggg.

#geje #seru #zerowaste #22