Kalau Setuju Tendang Satu Kali, Ya

“Berkomunikasi dengan bayi di dalam rahim adalah hak asasi setiap orang tua dan juga merupakan hak bayi untuk diakui dan dihargai sebagai seorang manusia seutuhnya. Komunikasi pra-kelahiran sebenarnya merupakan sesuatu yang mudah, karena komunikasi antara orang tua dan anak muncul dari hati ke hati yang mengalahkan segala bahasa di dunia.”
— Modul Tim HBI —

Bumil-bumil cantik, adek janinnya suka diajak ngobrol nggak? Harus lho. Walaupun masih janin bukan berarti bukan orang dan dianggap belum ada yaaa. Ibu-ibu kalau ngobrol sama janin ngerasa lagi ngobrol sendiri? Yuk yuk, belajar komunikasi efektif (dua arah) sama adik janin πŸ™‚

Komunikasi pra-kelahiran bermanfaat buat meningkatkan kepekaan dan koneksi intuitif terutama antara ibu dan bayi. Ibu dan bayi jadi lebih terhubung, nantinya saat proses kelahiran tiba, ibu dan bayi bisa saling “bekerjasama”. Bayi dalam kandungan juga baiknya sudah “dikenalkan” dengan calon penolong persalinannya nanti (bidan/dokter), biar bonding πŸ™‚

Komunikasi efektif dengan bayi bisa dilakukan dengan metode tendangan. Yang perlu diingat, ibu harus dalam keadaan nyaman (tidak sedang lapar, ingin ke toilet, emosi, dll), sediakan waktu khusus minimal 30 menit. Usahakan serileks mungkin, lakukan relaksasi hypnobirthing ya, bisa sendiri atau dengan bantuan suami. Nah terus, lakukan saat bayi dalam keadaan bangun.

Mulai deh ajak ngobrol bayi. Bayinya disapa, bilang kalau kita pengen ngobrol. Kalau adik bayi setuju, mintalah ia menendang satu kali. Tunggu balasannya. Kalau bayi menendang, artinya dia setuju mau ngobrol sama kita. Lanjutin deh obrolannya. Ngobrolnya ya tentang apa aja, tanyain kabarnya, apakah hari ini senang dan sehat, nama apa yang dia pilih, daaannn pertanyaan lainnya yang kepikiran sesuai intuisi masing-masing πŸ™‚

Perlu diingat, karakter bayi beda-beda. Ada yang sangat komunikatif, ada juga yang tipe pendengar setia yang hanya ngasih jawaban di saat yang dia rasa perlu saja.

Sekilas kaya main-main ya. Ini teh bayi bales nendang emang beneran ngasih jawaban apa kebetulan aja lagi gerak. Hihihi.. Ibu mesti yakin. Komunikasi dengan bayi sejak dalam kandungan itu semacam nutrisi batin buat bayi. Karena masih dalam kandungan dan ga keliatan wujudnya, bukan berarti dia nggak ada kan yah? Teh Okke, Bidan saya suatu kali malah pernah bilang gini; “kalau mau berantem lewat SMS aja ya, biar ga kedengeran dede bayi.”

Pengalaman-Pengalaman

Materi tentang komunikasi efektif dengan janin ini saya dapatkan waktu pelatihan bareng tim HypnoBirthing Indonesia. Waktu itu Bidan Kristina Sembiring yang membuka acara sempat cerita pengalamannya berkomunikasi dengan janin. Bidan Kristina meminta anak keduanya, Key, yang masih dalam kandungan untuk memberi tanda berupa ketukan panjang jika mendekati waktu kelahiran. Dan benar, Key ngasih ketukan panjang selama tiga hari berturut-turut di jam yang sama.

Komunikasi sama janin itu asik banget deh. Waktu hamil Dhuha usia kandungan 29 minggu, dia posisinya masih melintang loh. Terus saya treatment pake posisi knee chest (sujud gitu). Nah, biar efektif, saya nunggingnya sambil ngajak ngobrol si adik. Saya memilih waktu pagi hari setelah salat subuh, biar ngantuk dan ketiduran, jadi ga berasa pegel karena melakukan knee chest-nya mesti lumayan lama (10-15 menit). Sepengetahuan saya, kita bisa lebih konek sama janin kalau rileks. Nah, waktu paling rileks itu adalah sesaat sebelum tertidur dan sesaat sebelum bangun tidur. Sambil nungging sambil diajak ngobrol deh si adik, dan bener aja saya ketiduran. Dua kali knee chest akhirnya muter deh si adik, sampe waktunya lahir dengan posisi letak kepala.

Nah terus, saya pake metode tendangan juga waktu nanya si adik jenis kelaminnya apa. Kalau ditanya, nanti mau dipanggil Mbak? Dia ga respon tuh. Tapi pas ditanya, nanti mau dipanggil Mas? Selaluu merespon πŸ˜€

Seneng kaaan bisa ngobrol sama janin?

Selain buat senang-senang, komunikasi sama janin bisa dipake buat melakukan koreksi. Koreksi posisi janin, koreksi buat ngelepasin lilitan tali pusat. Seperti pengalaman saya mengoreksi letak si adik yang masih melintang di atas.

Nah untuk masalah koreksi-koreksi ini saya salinkan materi dari Tim HBI di bawah ini yah πŸ™‚

Koreksi Lilitan Tali Pusar

Untuk koreksi lilitan tali pusat, lakukan metode tendangan yang sudah saya jelaskan di atas. Ingat-ingat, mesti rileks yah. Kalau si adik setuju diajak ngobrol, lakukan pertanyaan lanjutan:

“Apakah ada tali pusar yang melilit di sekitar tubuh adik yang membuat adik kurang nyaman dan tidak bisa bergerak bebas? Jika iya jawab dengan tendangan 2 kali, jika tidak jawab dengan tendangan 1 kali.”

Tunggu jawaban bayi, jika menjawab tidak, lanjutkan dengan obrolan santai lainnya. Jika bayi menjawab iya, katakan sama si adik,

“Apakah adik nyaman dengan keadaan sekarang? Jika nyaman tendang 1 kali, jika tidak tendang 2 kali.”

“Adik sayang, Ibu berharap adik dapat melonggarkan dan meletakkan kembali tali pusar adik di tempat semula, agar adik bisa bermain dengan bebas di rahim Ibu. Jika adik mengerti tendang perut Ibu 1 kali”

Kalo respon bayinya mengerti, lanjut dengan, “Kalau adik sudah melonggarkan dan meletakan tali pusar di tempatnya semula sehingga adik bayi nyaman dan dapat bergerak bebas kembali, tendang perut Ibu 3 kali berturut-turut seperti ini ya (contohkan dengan 3 tepukan lembut di perit Ibu). Jika adik mengerti tendang perut Ibu 1 kali.”

Kalau nggak ada respon, tunggu sebentar, ulangi lagi beberapa kali. Tapiiii.. ingat, jangan memaksa bayi melakukan kehendak orang tuanya, kita hanya mencoba mengkomunikasikan keinginan kita untuk si bayi.

Kalau nggak respon, bisa berikan pilihan, “Adik sayang, silakan pilih waktu yang tepat buat adik melonggarkan dan meletakkan kembali tali pusarmu di tempat yang baik. Jika sudah selesai tolong beritahu Ibu dengan tendang perut Ibu 3 kali berturut-turut.”

Gitu deh. Kata-kata di atas cuma contoh aja ya, bisa diubah dan disesuaikan dengan kenyamanan masing-masing. Buat koreksi posisi tinggal ubah juga aja kata-katanya.

Sip. Selamat senang-senang πŸ˜€

*sumber bacaan modul pelatihan “Effective Communication with Your Spirit Baby”,Β  Tim HypnoBirthing Indonesia, 19 Mei 2013Β 

Serunya Belajar Belly Mapping

Di kunjungan terakhir kami dengan Bidan Okke bulan lalu, suami saya, Mas Bram, sempat diajari oleh Teh Okke bagaimana meraba kepala janin dalam rahim. Waktu konsultasi bersama teteh bidan yang cantik ini selalu membuat kami bahagia. Teh Okke ramah dan baik hati. Saat-saat konsultasi dengan beliau adalah saat diskusi santai dan tidak terburu-buru. Teh Okke tidak pernah menggurui kami, perannya lebih banyak sebagai fasilitator saja. Senang deh πŸ™‚

Sejak saat itu, kalau si adik lagi pendiem, saya suka minta Bram nyari kepala si adik. Just to make sure kepalanya di bawah. Kalo lagi lincah mah tinggal minta tendang aja ke si adik. Kalau udah tau kakinya dimana, otomatis tau kepalanya dimana, hehehe πŸ™‚

Nah, Ahad kemarin (19/5) kami berkesempatan belajar Belly Mapping (pemetaan kandungan) bersama Bidan Yesie dan Tim Hypno-Birthing Indonesia. Seru loh. Ini bisa dibilang versi lengkapnya dari sekedar meraba kepala, ehehe..

Posisi Ideal Bayi

Sebelum membahas teknik Belly Mapping, kita belajar soal posisi bayi dulu yuk.

Posisi paling ideal bagi bayi lahir adalah letak kepala, alias kepalanya di bawah. Tapi gak sekedar di bawah juga ternyata.

Idealnya, bayi menghadap punggung Ibu. Dalam posisi ini, kepala bayi mudah “tertekuk”, yaitu dagunya nyelip ke dada. Jadi bagian terkecil dari kepalanya dapat masuk ke “pintu atas” panggul. Posisi ini disebut Occiput Anterior (OA).

Kebayang ga? Misalkan kalo kita mau pake kaos turtle neck. Ketika memasukan kaos ke leher kan lebih mudah kalo kepala kita nunduk (dagunya nempel ke dada), dibanding kalo kepala kita tengadah. Kalo kita sambil nunduk, ujung kepala duluan yang masuk ke kaos. Kalo sambil tengadah, dahi duluan yang masuk ke kaos. Posisi ujung kepala ini lebih lancip (diameternya lebih kecil) kalo dibandingkan dengan posisi dahi (diameternya lebih besar).

Kebayang kan yah beda posisi anterior sama posterior, sama pengaruhnya pas dia mau masuk jalan lahir? Perhatiin deh gambarnya. sumber gambar dari http://anthrodoula.blogspot.com

anterior (kiri) vs posterior (kanan). sumber gambar dari http://anthrodoula.blogspot.com

Nah, begitupun dengan panggul Ibu. Yang paling pas dan mudah dimasuki adalah kepala dengan posisi “nunduk” tadi, alias anterior.

Kalau bayi madep perut Ibu (disebut Occiput Posterior/OP), dia akan lebih lama masuk ke panggul, soalnya dia agak tengadah. Biasanya kalau posisinya posterior, proses persalinan akan berlangsung lebih lama, dan ngasih efek sakit punggung yang lumayan buat si Ibu.

Si bayi akan butuh waktu dulu buat muter ke posisi anterior. Soalnya kan kalo masih posterior butuh diameter yang lebih luas buat masuk panggul Ibu. Kalau begini biasanya si Ibu ngalamin serotinus (hamil melebihi HPL) dan kontraksi palsu (Braxton Hicks) yang lebih sering.

Ketahui Posisi Bayi dengan Belly Mapping

Belly mapping bisa dilakukan di dua bulan terakhir kehamilan. Dengan belly mapping, diharapkan si ibu bisa mengetahui posisi bayinya dan mengoptimalkan posisi bayi sehingga proses persalinan berjalan lancar dan nyaman πŸ™‚ Langkahnya sederhana kok.

1. Kenali gerakannya, gambar petanya

Untuk bisa mulai memetakan letak bayi dalam kandungan, ibu harus mengenali gerakan bayi. Jika perlu, lakukanlah pengamatan dalam beberapa hari di mana gerakan bayi biasa muncul, bagaimana pola gerakannya.

Di mana ibu biasa merasakan gerakan (tendangan) yang kuat dan gerakan kecil? Di mana ibu biasa merasakan adanya tonjolan? Di mana ibu bisa meraba detak jantung bayi?

Buatlah gambar lingkaran, bisa langsung di perut ibu atau di kertas. Bagilah lingkaran tersebut menjadi 4 bagian (kuadran). Jika digambar di kertas, maka cara melihatnya adalah seperti kita bercermin (sisi kanan ibu berada di sisi kiri peta kertas, dan sebaliknya).

Buatlah tanda pada lingkaran di mana gerakan bayi biasa dirasakan.

Kuadran belly mapping.

Kuadran belly mapping.

Jika ibu merasakan tonjolan, kemungkinan itu kepala atau bokong. Untuk memastikannya carilah detak jantung bayi. Detak jantung bayi akan terdengar dekat kepala.

Untuk menemukan punggung bayi, cobalah raba dengan dua tangan di dua sisi berbeda (bisa minta tolong suami, atau bidan). Jika menemukan sisi yang terasa firm/flat, itulah punggung.

belly-map2

Setelah memetakan tipe gerakan di tiap kuadran bisa digambar deh posisi bayinya.

Untuk bisa memetakan sangat mudah, cukup ingat tiga hal ini:

  • Kepala dan bokong
  • Punggung dan sisi perut
  • Kaki dan tangan

2. Visualisasikan letak bayi

Untuk melakukan hal ini, bisa dibantu dengan menggunakan boneka. Cocokan peta yang sudah dibuat dengan boneka. Lebih jelas seperti gambar di bawah ini.

Ayo cocokan :)

Ayo cocokan πŸ™‚ Kalau gambarnya kurang jelas klik aja ya πŸ™‚

Nah, ketauan kan posisinya. Pada bayi dengan letak posterior tendangan dapat dirasakan ibu di dekat pusar. Kalau bayi anterior biasanya terasa agak atas dekat rusuk. Jika setelah melakukan belly mapping ternyata posisi bayi belum optimal, jangan khawatir. Ada banyak cara untuk mengoptimalkan posisi bayi πŸ™‚ Ini bersambung ke next post aja yah πŸ™‚

***

Kegiatan belly mapping bisa meningkatkan bonding juga loh, antara ibu, bayi dan bapak. Kegiatan ini bisa sangat menyenangkan jika dilakukan bersama pasangan di saat santai. Kegiatan ini bisa dilakukan sambil ngajak ngobrol bayi. Selama proses belly mapping, jika ibu ragu, ibu bisa meminta bayi menunjukkan dimana kakinya dengan meminta sebuah tendangan yang kuat.

Oh iya, jika suami ragu untuk meraba perut ibu, bisa minta tolong diajari bidan saat ANC. Bayi diselimuti cairan ketuban kok, gak apa-apa perut ibu dipegang-pegang, hehe…

ki: foto bareng bidan yesie | ka: hasil karya bram nge-bellymapping dm

ki: foto bareng bidan yesie | ka: hasil karya bram nge-bellymapping dm

***

sumber gambar Belly Mapping Parent Handout. 2006 Maternity House Publishing, Inc. Gail Tully http://www.SpinningBabies.com

Emak-emak di Era Facebook

Sungguhpun saya masih merasa diri imut-imut (kecuali perutnya), tapi tetaplah saya ini calon ibu. Udah mau jadi emak-emak aja nih si Dee-M πŸ˜€

Belakangan, saya menemukan suatu hal yang bikin saya makin merasa beruntung hidup di jaman internet ini. Suatu hal itu bernama fitur Grup di jejaring sosial Facebook (FB).

Menggunakan fitur ini sih sudah sejak lama ya. Tapi menemukan Grup FB yang dikelola dengan baik barulah saya temukan beberapa bulan belakangan ini. (Kemana aja gueeeh -__-)

Selama ini, kalau saya tergabung dalam sebuah Grup FB, biasanya grup tersebut hanya sebatas digunakan untuk berbagi info dengan lingkup orang tertentu, misalkan grup teman SMA, grup teman satu kuliah, grup teman satu jurusan, grup-grup komunitas, dan semacamnya. Beberapa grup FB yang saya ikuti tidak jarang yang tujuan grupnya ga jelas, semacam ngumpulin orang semata. Akibatnya banyak grup yang garing, sepi postingan, hanya ramai di awal, selebihnya sepi dan jadi ladang promo atau minta vote. Jarang sekali ada diskusi yang termoderasi dengan baik.

Grup FB sebagai pusat edukasi

Awalnya saya ketemu GBUS (Gentle Birth untuk Semua), grup ini secara spesifik membahas seputar proses kehamilan dan persalinan dengan mengusung filosopi Gentle Birth. Melihat GBUS, saya sempat ihwow sendiri. Para admin GBUS berhasil bikin fitur Grup di FB –yang tadinya saya pandang biasa saja– jadi sesuatu yang keren nan cetar membahana #apeu.

Grup ini punya visi yang jelas yaitu menjembatani berbagai aspek yang ada dalam memandang kehamilan dan persalinan. Berbagai aspek seperti ilmu pengetahuan, teknologi, spiritual, kearifan lokal diposisikan supaya berjalan sesuai fungsinya untuk diupayakan saling bersinergi. Dalam hal ini, pemberdayaan diri si ibu hamil adalah kuncinya agar dapat menjalani proses kehamilan dan persalinan yang nyaman dan minim trauma.

Itu maksudnya sesuai fungsinya dan sinergi teh gimana? Hubungannya sama pemberdayaan diri teh gimana? Nyaman dan minim trauma teh nu kumaha?

Misalkan begini. Ada ibu hamil sudah masuk HPL (Hari Perkiraan Lahir, biasanya minggu ke-40) tapi belum ada tanda2 bayi akan lahir. Lalu dokternya menyarankan untuk induksi untuk memancing kontraksi persalinan. Dokternya bilang sudah terjadi pengapuran plasenta dan air ketuban tinggal sedikit. Lalu dilakukanlah induksi. Ternyata si ibu tidak tahan dengan rasa sakit karena induksi, akhirnya bayinya lahir dengan normal tapi si ibu mengalami trauma luar biasa.

Dari contoh di atas, bisa terjadi skenario lain. Di akhir masa kehamilan, plasenta dan ketuban memang akan mengalami penurunan kinerja. Si ibu bisa lebih kritis bertanya pada dokternya, pengapuran plasentanya grade berapa, indeks ketubannya masih sisa berapa. Kalau perlu, bisa cari opini kedua dari dokter lain. Misal dokter lain menyatakan hal berbeda, kondisi bayi baik-baik saja. Berarti masih bisa ditunggu sampai minggu ke-42 sambil melakukan usaha2 induksi alami.

Atau bisa saja sudah 2-3 dokter diagnosanya sama. Lalu si ibu bisa apa? Ya manut dokter. Tapi kan beda, manut setelah berusaha dan cari solusi, sama manut yang pasrah begitu saja karena kurangnya pengetahuan. Ada rasa ikhlas karena sudah berusaha yang terbaik. Nah, ikhlas ini aspek spiritual yang berperan.

Kalau ditarik jauuuh lagi ke belakang. Si ibu dari awal kehamilan sudah mencari tahu apa dan bagaimana sih fungsi plasenta dan ketuban dalam kehamilan. Bagaimana agar bisa menjaga keduanya bertahan dalam kinerja yang baik. Oh ternyata harus konsumsi vitamin C yang cukup, oh ternyata harus minum air putih minimal 8 gelas sehari.

Terus kalau diinduksi itu diapain. Oh, induksi itu ibu disuntikan hormon oksitosin buatan. Hormon oksitosin ini yang bisa menyebabkan kontraksi dalam persalinan. Masalahnya, karena hormonnya buatan, otak jadi tidak bisa mengontrolnya, jadi kadang kontraksi yang terjadi juga diluar kendali. Proses ini bisa saja menjadi sangat menyakitkan karena resistensi setiap orang terhadap rasa sakit itu berbeda-beda. Jadi ada ga cara “memancing” persalinan yang alami? Ya ada dong. Tapi tidak bisa instan tentu saja.

Kalau ibu hamil banyak tau, biasanya akan lebih bijak dan lebih siap menghadapi apapun. Nah, peran grup GBUS di sini menyediakan ilmu dalam bentuk artikel dan diskusi. Si ibu ya tetap harus memberdayakan diri sendiri. Dengan membaca, mencari tau, bertanya jika belum mengerti, mempraktekan ilmu dari hasil membaca.

Saya perhatikan, ada 4 hal utama yang dilakukan oleh admin dalam mengelola grup.

Pertama. Menyediakan dokumen sebagai rujukan ilmiah. Kadang artikel ulasan dari pakar, ada juga jurnal ilmiah yg butuh effort buat ngerti, ehehhe.. Pokoknya bahan bacaan untuk menepis segala bentuk “katanya” agar jadi berdasar.

Kedua. Memandu diskusi tetap dalam topik dengan melibatkan pakar (dokter, bidan). Jika ada komentar yang membuat bias diluruskan admin. Sifat diskusi santun dan terbuka.

Ketiga. Baik dokumen maupun thread diskusi, didokumentasikan link-nya sehingga mudah dicari/diakses kembali (salah satu bentuk knowledge management yang sederhana tapi powerful). Jika ada pertanyaan sejenis yang pernah dibahas, biasanya akan diarahkan ke link dokumen/thread diskusi yang berkaitan.

Keempat. Member diajak untuk membaca sebelum bertanya. Agar sebisa mungkin menanyakan hal-hal yang belum pernah dibahas saja. Dengan begitu keilmuan Grup diharapkan akan berkembang dan semakin kaya.

Keempat resep di atas rasanya sudah membuat aktivitas ubek-ubek dokumen jadi seperti kuliah gratis. Grup menjadi pusat edukasi bagi membernya.

Walalupun demikian ada saja member yang ngeyel dan menjadikan grup tempat rumpi dan “memeriksakan” kondisi kesehatan. Padahal, diskusi atau interaksi di dalam grup bukan untuk menggantikan saran medis, grup adalah tempat belajar, bukan tempat minta diagnosa. Dengan banyak belajar, diharapkan si member lebih luas wawasannya, lebih nyambung waktu ngobrol sama dokter/bidannya, lebih memahami kondisinya secara holistik. Kalau sudah begini suka salut sama admin yang dengan sabar mengingatkan, padahal ngelola grup nggak ada yang gaji, hehe…

Setiap rumah punya aturannya sendiri

Dari awalnya cuma kenal GBUS aja, ternyata banyak grup lain dengan cara pengelolaan sejenis namun topiknya berbeda-beda. Ada yang bahas ASI, MPASI, imunisasi, dlsb.

Kebanyakan grup-grup tersebut punya aturan yang mirip-mirip. Diantaranya, tidak boleh jualan/promo, tidak menggunakan bahasa alay atau menyingkat tulisan, bersikap santun dalam diskusi, tidak menyebutkan merek tertentu, tidak menjelekkan orang lain, tidak OOT (out of topic), membaca dan menggunakan fasilitas search untuk mencari topik yang akan ditanyakan untuk menghindari pertanyaan dengan tema yang sama terus berulang, dll.

Peraturan grup ini biasanya dijadikan Pinned Post, sehingga selalu nangkring sticky di postingan paling atas grup. Tapi ya, adaaaaa aja member yang ngelewatin baca peraturan ini.

Gak sekali dua kali nemu postingan bunyinya kurleb begini, diawali dengan “makasih ya admin udah blh gabung” lalu menanyakan hal yang udah sueriiiing bgt ditanyain “lalu diakhiri dengan “share ea bunda”. Kalo udah nemu ginian super tepok jidat deh. Gemes gitu.

Masalah tidak boleh menyingkat tulisan terlihat sepele tapiii kadang susah juga. Kalau diingatkan ada yang mau nerima, ada yang ngeles karena udah kebiasaan, ada yang menganggap peraturan grupnya ribet. Nah lo, tulisan yang disingkat2 itu kalo jumlahnya sedikit nggak masalah. Kalau diskusinya berkembang dan komennya panjang2 bisa bikin pusing loh bacanya. Belum lagi kalau singkatan yang dipake nggak umum.

Terus kalo udah nemu yang OOT-OOT juga suka gemes. Pernah ada ibu2 yang ngebanggain anaknya MPASI dini (4 bulan) dengan makanan instan di grup yang bahas MPASI non-instan yang ikut standar WHO (mulai MPASI start 6 bulan). Nah lo. Ada juga yang nanya obat batuk pilek buat bayi di grup yang bahas makanan bayi, kan sebenarnya udah OOT. Alasan yang diungkapkan biasanya, “kan nggak ada salahnya berbagi”. Iya betul. Tapi kan ibaratnya grup itu adalah sebuah rumah, maka kita adalah tamunya. Dan tiap rumah punya aturannya sendiri.

Fenomena alay dan serba instan

Ini perasaan saya aja apa gimana. Saya banyak menemukan ibu-ibu muda dengan akun bernama alay. Dan kecenderungan mereka adalah tidak baca peraturan, menggunakan singkatan2 yang tidak umum dan karakteristik pertanyaannya bertipe “tolong jawab ya” bukan “dimana saya bisa mencari tahu lebih banyak tentang masalah yang saya hadapi”.

Terus kadang suka nemu pertanyaan ajaib. Contoh nih ya, di grup yang bahas ASI ada yang nanya kenapa anaknya nggak mau nyusu ke payudaranya yang sebelah kanan.

Haaalllooooo… Cuma cenayang yang bisa jawab pertanyaan ajaib macam itu. Banyak faktor yang menentukan keberhasilan sebuah proses ngASI. Perlekatannya gimana. Apa bayinya kalo madep kanan tangannya sakit apa kejepit jadinya rewel. Apa belum bener posisinya. Dll dll. Yang tau hal-hal itu kan si ibunya. Yang bisa jawab pertanyaan itu ya si ibunya sendiri.

Read more and be galau-less

Selama mengikuti beberapa grup FB yang bertema seputar dunia emak-emak ini, alhamdulillah saya hanya jadi silent reader alias belum pernah posting. Pernah beberapa kali komen aja mengarahkan ke link dokumen dengan tema yang ditanyakan. Seriiiing sekali dalam hati berujar, “yang gini-gini kenapa ditanyain bu, kan ada di dokumen, kan udah sering dibahas.” Ahahaha.. πŸ˜€

Mungkin emak-emak ini belum pada baca ya. Makannya jadi galau dan bertanya. Mungkin panik karena anak pertama. Yuk ah, budayakan membaca dan mencari tahu, halau galau dengan membaca.

IMHO, untuk jadi orang tua hebat tidak bisa dengan cara biasa. Rajin belajar dan membaca hanya salah satu upayanya saja.

Rekomendasi

Beberapa rekomendasi grup FB untuk emak-emak kece:
Gentle Birth Untuk Semua (GBUS), grup tentang kehamilan dan persalinan.
Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), grup tentang ASI dan menyusui.
Homemade Healthy Baby Food (HHBF), grup tentang MPASI (Makanan Pendamping ASI) rumahan dan non instan.
Preschool On Line, grup tentang pendidikan anak usia dini.
Room for Children (RFC), grup tentang tumbuh kembang dan kesehatan anak.
Gerakan Sadar Imunisasi (Gesamun), grup tentang imunisasi.

Semua grup di atas berbahasa Indonesia dan kalau gak salah Closed Group semua, jadi request kita untuk gabung harus di-approve admin terlebih dahulu. Jika ingin bergabung dan turut menimba ilmu di sana, ingat ya, kenali dulu grupnya, baca dan hormati aturannya, jangan asal posting. Meski grup-grup di atas dikelola secara sukarela, di dalamnya banyak profesional yang memang kompeten. Ada bidan di GBUS, dokter di RFC, Konselor Laktasi di AIMI, dll. Sebagai tamu yang dapat limpahan ilmu gratis, menjaga sikap untuk tetap santun rasanya sudah menjadi kewajiban.

Salam damai πŸ™‚

be happy and make happiness for other

Seorang teman saya bilang, “kamu kok hamil semangat-semangat aja sih, M?”

He? Ya memang kalo hamil mesti gimana gitu?

Menurut pengamatan teman saya itu, saya selalu tampak bahagia dan antusias dengan kehamilan saya. Padahal saya merasa biasa saja. Cuma ya kalo ada yang ngajak ngobrol tentang hamil dan melahirkan saya suka semangat berbagi apa yang saya tahu. Ya namanya juga lagi hamil, wajar kan kalau banyak belajar tentang seluk-beluknya. Apalagi saya tipe yang senang mencari tahu dan ga gampang percaya sama orang. Jadinya lumayan banyak juga buku/artikel yang saya pelajari. Kadang suka ga kontrol semua yang pernah saya baca saya ceritain, hehe.. Tapi kaya gitu cuma kalo teman ngobrolnya antusias juga sih. Kalo engga mah males banget nyerocos sendiri, hihi..

Usut diusut, teman saya itu punya teman lain yang juga sedang hamil. Nah, temannya teman saya itu *ribet amat* sering mengeluh tentang kehamilannya. Sampai-sampai teman saya ini jadi berpendapat kalau hamil itu memang merepotkan dan dirinya jadi ikutan males buat hamil (tapi nyari calon suami masih teuteup antusias kayaknya, kekekekekkkkk).

Wah, sayang banget itu.

Saya bukannya tidak mengalami keluhan selama kehamilan. Di trimester awal saya sempat mual muntah kok. Tapi walopun gitu tetap bahagia dong, “oh begini rasanya”. Awalnya pas ngalamin keluhan ini suka sedih gitu, udah mah susah makannya, eh malah keluar lagi. Tapi lama-lama santai aja. Ya kalo muntah tinggal makan lagi, hihihi.. Tapi memang berpikir positif itu harus dilatih sih ya. Kalo saya, saya curiga ketularan Mbu saya yang super kalem gitu kalo ngadepin masalah.

Tapi memang ga bisa dipukul rata juga sih. Kondisi kehamilan tiap orang pasti berbeda-beda. Gimanapun kondisinya, jangan sampai pikiran negatif menguasai. Kuncinya adalah belajar dan belajar, juga berpikir positif selalu. Kalo udah ga tahan dan pengen ngeluh sebisa mungkin ditahan. Keseringan ngeluh nanti dikira ga bersyukur loh πŸ˜€

Salah satu yang bikin santai saat menghadapi ketidaknyamanan dalam kehamilan adalah karena saya tau apa yang sedang terjadi dengan tubuh saya. Taunya darimana? Ya belajar, hihi πŸ™‚ Misalkan saya jadi gampang mual. Saya tau itu disebabkan karena sistem pencernaan saya sedang terganggu karena naiknya hormon kehamilan. Si hormon kehamilan ini kan tugasnya mendukung segala proses kehamilan agar tetap berjalan sehat. Senang dong kalau adik bayi dalam kandungan tumbuh sehat.

Terus di awal kehamilan saya jadi gampang cape. Hellow, your body is producing baby, masa aja gak butuh energi lebih buat itu. Rasa cape jadi alarm super canggih buat saving energy. Keren kan tubuh kita.

Banyak lagi deh kasus-kasus kegalauan yang sebenarnya bisa dihalau dengan ilmu pengetahuan. Hayu ah, be happy and make happiness for other πŸ˜€

Hey. Halo. Udah 15 minggu nih saya jadi bumil.

Bismillah.

Hey. Halo.

Udah lama gak ngeblog, hehehe.. Maafkanlah dakuuu pemirsah.

Ada hal yang bikin saya bersemangat beberapa waktu ini. Ini gara-garanya saya kenal sama yang namanya Gentle Birth (GB). Kenalnya dari sebelum tau kalo saya hamil sih. Terus jadinya makin meresapi filosopinya setelah hamil, hehe πŸ™‚

Oh iya, GB itu apa ya *bingung jelasin* πŸ˜€ Kalau dari asal katanya, gentle itu kan artinya lembut ya, jadi Gentle Birth itu proses kelahiran yang lembut dan alami, yang minim trauma dan ramah jiwa, baik bagi ibu dan bayi. Proses ini adalah proses berkelanjutan, disiapkan sejak sebelum waktunya melahirkan. Sejak awal kehamilan, bahkan sejak konsepsi malah. Jadi lupain deh ya, adegan melahirkan di sinetron dan film yang teriak-teriak, penuh penderitaan, tegang dan genting. Menyesatkan itu.

Kunci dari GB ini ada di proses memberdayakan diri si ibu. Iya, si ibu harus memberdayakan diri untuk bisa mendapatkan pengalaman hamil dan melahirkan yang lembut dan nyaman. Caranya banyak, terutama harus mau belajar. Belajar apa aja? Ya banyak, tentang gizi, relaksasi hypnobirthing, yoga, sistem hormon, perubahan tubuh si ibu, perkembangan janin, bagaimana melibatkan suami, dll dll. Belajar apapun, karena KNOWLEDGE IS POWER.

Nah, kalau sudah memberdayakan diri dengan dipenuhi knowledge kita akan lebih siap dan percaya diri menghadapi segala rintangan yang menghadang *halah* Dengan rajin nge-charge knowledge, kita juga bisa jadi konsumen kesehatan yang lebih cerdas. Setiap ketemu dokter/bidan, kita bisa jadi teman diskusi yang nyambung, yang gak sekedar nurut, tapi bener2 bisa mendapatkan informasi yang kita butuhkan.

Dengan memberdayakan diri, kita juga bisa menghindari intervensi medis yang tidak perlu. Melahirkan itu kan sejatinya peristiwa alami ya. Kecuali ada indikasi medis tertentu yang menyebabkan proses melahirkan itu jadi beresiko tinggi bagi si ibu dan bayi. Beberapa pengalaman yang saya baca di internet, ada juga ibu yang sebenarnya sehat dan beresiko rendah tapi malah dilakukan intervensi medis yang tidak perlu. Si ibu mau2 saja menerima intervensi tersebut. Kenapa? Ya karena dia ga tahu, ga cukup knowledge untuk mengetahui alternatif lain yang lebih alami selain intervensi tersebut. Jadi ya mau ga mau manut. Akibatnya bisa saja menyakitkan bagi pengalaman melahirkan si ibu.

Waktu saya ngobrol sama teman yang anak kebidanan, menurut dia GB itu sejalan dengan apa yang dipelajari selama dia kuliah. Tapi, pada praktiknya masih banyak yang ga sesuai. Males mengaplikasikan, begitu kata teman saya. Walhasil terjadilah kelahiran normal tapi nggak cukup alami (beda tuh ‘normal’ sama ‘alami’? hehe.. belajar GB aja ya..) Nah, makannya kita mesti jadi bumil yang full of knowledge ya πŸ˜‰

Oh iya, banyak yang gagal paham tentang GB. GB itu filosopi ya, bukan metode. Jadi mau metodenya apapun, mau kasur birth, water birth, lotus birth, operasi sesar, semuanya bisa dilakukan dengan GB. Dalam GB, ibu adalah pemeran utama, bukan dokter/bidan. Kenyamanan ibu adalah nomer satu. Ibu boleh merancang birthplan-nya sendiri πŸ™‚ Selengkapnya tentang GB, googling aja ya, hehhe.. Tulisan-tulisan Bidan Yessie di website bidankita.com banyak membantu saya memahami filosopi GB. Buku yang beliau tulis juga oke banget, ini penampakannya. Yang jelas, nggak rugi belajar tentang GB.

Etapi, saya sebenernya ngeblog bukan mau cerita soal GB sih, hehehe.. Saya mau cerita soal Kelas EdukASI Prenatal AIMI Jabar (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) yang saya ikuti pekan lalu (Ahad 13/1). Ceritanya ngikut kelas ini kan bagian dari usaha saya memberdayakan diri. Belajar tentang ASI? Masih jauuuh.. Tapiiiii.. inget ya, knowledge is power. Ciat! *lempar shuriken* *awas kena* *apa deh*

Tapi setelah diliat-liat, ini tulisan udah panjang juga ya. Dibikin bersambung aja deh ya. *teu puguh pisan* Ngga apa-apalah teu puguh juga. Yang penting posting di blog lagi setelah sekian lama *ngeles* πŸ˜›