MARKINON: Bukan Nonton Biasa

Pernah nonton film rame-rame? Terus habis nonton haha-hihi bubar gitu aja? Itu sih biasa ya..

Bukan sulap bukan sihir, Jumat (14/1) kantor WALHI berubah jadi bioskop dadakan. Lebih istimewa lagi, puluhan orang dari berbagai latar belakang berkumpul di kantor yang beralamat di Jalan Piit nomor 5 Bandung. Semua pandangan mata tertuju pada dinding berbalut kain yang beralih fungsi menjadi layar “bioskop”. Adalah program MARKINON (MARi KIta NONton) gelaran YPBB bekerjasama dengan WALHI Jabar yang tengah dihadiri beramai-ramai sore itu.

Seperti nama acaranya, salah satu kegiatan utama dalam MARKINON ini adalah nonton bareng. Yang membuat tidak biasa adalah, usai semua film ditayangkan dimulailah diskusi santai tapi serius dengan seluruh penonton yang hadir. MARKINON selalu mengangkat sebuah tema untuk didiskusikan, tentu saja tema tersebut juga relevan dengan film yang disajikan. MARKINON kali ini bertajuk “Sampah Elektronik”.

sebagian penonton di "studio 1", sebagian di sebelah.. (dok. YPBB)

sebagian penonton di "studio 1", sebagian di sebelah.. (dok. YPBB)

Serunya Cerita Tentang Barang-Barang di Sekitar Kita

“Media make us feel WRONG. So just go shopping!” kata Annie Leonard dalam video yang berjudul “The Story of Stuff”. Pernahkah merasakan hal seperti itu? Kita menonton TV dan secara tidak langsung TV mengatakan gadget yang kita gunakan sudah ketinggalan zaman. Lalu kita ingin membeli gadget baru yang ada di TV dan bahkan menjadi terobsesi karenanya. Begitu mudah membeli, begitu mudah membuang dan menggantinya dengan yang baru. Sebenarnya, seperti apakah perjalanan barang-barang yang kita pakai itu? Dari manakah asalnya, akan ke manakah kelanjutannya?

Sebagian besar kegiatan produksi dan konsumsi yang biasa kita lakukan sehari-hari membentuk sebuah diagram linear. Artinya, keberlanjutannya terputus begitu saja pada rangkaian aktivitas tertentu. Teman-teman bisa lihat screenshoot dibawah ini:

Ada 5 kegiatan utama di sana. Yang pertama adalah ekstraksi (sebenarnya merupakan kata lain untuk ekploitasi sumber daya alam). Semua sumber yang ada di alam digunakan oleh manusia. Air, logam, hutan. Kenyataannya kita menghabiskan terlalu banyak sumber daya. Bahkan di hutan Amazon saja, terhitung 2000 pohon ditebang tiap menitnya. Hanya dalam waktu 30 tahun saja 1/3 sumber daya yang ada di bumi telah dihabiskan. Manusia menebang, menambang, melubangi dan menyampah di berbagai tempat dengan sangat cepat.

Berikutnya material-material dari alam ini masuk ke tahap produksi. Dalam dunia perdagangan, dalam proses produksi ada lebih dari 100.000 bahan kimia sintetis digunakan. Hanya sebagian kecil saja dari bahan-bahan tersebut yang telah diuji dampak kesehatannya. Artinya, kemungkinan kita belum tahu dampak kesehatan dari sebagian besar barang yang ada di sekitar kita. Prinsipnya, “toxic in toxic out“. Jika ada racun yang masuk, maka akan ada pula racun yang (dilepaskan) keluar.

Contohnya adalah BFR (Brominated Flame Retardans). BFR adalah bahan kimia yang membuat barang jadi tahan api, tapi sangat berbahaya jika sampai masuk ke tubuh. BFR ini pada kenyataannya banyak digunakan dalam komputer, alat rumah tangga, kursi, kasur, bahkan bantal. Pada kasus ini, para pekerja pabriklah yang paling rentan terkena bahan kimia berbahaya. Ingat prinsipnya, racun masuk, racun keluar. Banyak racun meninggalkan pabrik dalam bentuk barang produksi, tetapi lebih banyak lagi yang keluar sebagai hasil sampingan atau polusi. Di Amerika, kalangan industri mengakui bahwa mereka mengeluarkan 4 miliar pound bahan kimia beracun setiap tahun.

Setelah sumber daya ini berubah menjadi produk, masuklah mereka ke tahap distribusi. Distribusi berarti bagaimana caranya membuat barang terjual secepat mungkin. Tujuannya adalah membuat harga serendah mungkin, agar orang tetap membeli dan membuat barang-barang terus bergerak. Hal ini menuntut kegiatan produksi terus dan terus dilakukan. Tentu saja semakin banyak kerusakan yang tercipta karenanya.

Kemudian terjadi proses konsumsi, dimana barang-barang akhirnya sampai ke tangan kita. Kita membeli, memakai, dan akhirnya sampailah pada tahap membuang.

Ya, membuang sampah. Selama ini orang mengubur sampah, atau membakarnya. Kedua cara itu sama-sama mencemari tanah, air, dan udara. Ingat konsep racun masuk racun keluar? Pada penanganan sampah yang tidak tepat racun-racun bisa terlepas, bahkan berubah menjadi racun yang lebih berbahaya. Contohnya pada proses pembakaran sampah yang dapat menghasilkan dioxin.

Seperti itulah “riwayat” barang-barang terputus, dari alam tidak kembali ke alam.

Design for The Dump

Rasanya handphone tidak lagi menjadi barang aneh untuk kita saat ini. Pernahkan terpikirkan, kenapa charger handphone berbeda-beda colokan padahal masih satu merk? Kenapa seri-seri baru dari merk handphone terus saja bermunculan? Kenapa handphone saya mulai tidak bisa dipakai lama-lama?

Begitulah industri merancang alat elektronik, design for the dump. Dirancang untuk dibuang. Sementara itu, alat elektronik yang sudah tidak digunakan sangat sulit untuk dibuang. Karena pada dasarnya, ketika kita membuang sampah elektronik ke TPA, itu hanya memindahkan saja. Dalam hal ini, industri selaku produsen seharusnya bertanggungjawab mengolah sendiri sampah yang dihasilkan dari barang hasil produksinya. Sampah elektronik biasanya mengandung logam berat yang berbahaya jika sampai terlepas ke alam dan masuk ke tubuh manusia.

Salah satu tujuan pembuangan favorit sampah-sampah elektronik adalah negara-negara berkembang seperti Ghana dan India. Kisah mengenai sampah-sampah elektronik kiriman tersaji dalam video dokumenter berjudul “How The West Dump Electronic Waste in Africa and India”. Kebanyakan dari sampah elektronik yang diterima berupa seperangkat komputer. Barang-barang ini diklaim sebagai “secondhand good” atau barang bekas yang masih bisa dipakai. Komputer bekas ini dikirim dari Eropa dengan tujuan mulia untuk mengurangi kesenjangan digital. Namun tidak demikian kenyataan yang terjadi.

Sebagian besar komputer datang dalam kondisi sudah menjadi sampah. Rusak dan tidak bisa dipakai. Sementara itu tidak ada alat yang memadai untuk mengolah sampah-sampah elektronik tersebut. “We are killing our people,” ujar salah seorang narasumber dalam film dokumenter. Pembunuhan yang dimaksud adalah proses pengolahan sampah elektronik yang melepaskan racun dan logam berat. Sebagai contoh, untuk mendapatkan logamnya, kabel dibakar. Hal tersebut dilakukan tanpa alat pelindung sama sekali.

Apa Yang Bisa Kita Lakukan?

Banyak ekspresi tertangkap selama pemutaran film. Di bagian awal penonton tertawa karena tayangan animasi lucu, namun kemudian miris melihat dokumentasi yang terjadi di Ghana dan India. Pengetahuan baru tentang sampah elektronik agaknya mengundang setiap penonton untuk turut memikirkan solusi dari masalah ini. Segera setelah film selesai diputar, Rikrik dan Taruna yang bertugas sebagai MC dan moderator langsung memimpin diskusi.

ki-ka: Taruna dan Rikrik (dok. YPBB)

ki-ka: Taruna dan Rikrik (dok. YPBB)

“Kenang nilai historisnya,” ujar Kang Ari. Menurut Kang Ari, salah satu upaya untuk mempertahankan barang elektronik yang kita punya adalah dengan mengenang nilai historisnya. “Misalkan kita sayang mengganti HP kita, soalnya ini HP pertama yang bisa dibeli dengan uang sendiri. Sebisa mungkin kenang nilai historisnya.”

Lalu Ami bercerita tentang kebiasaan Ayahnya di rumah yang suka membeli barang bekas dan memperbaikinya. Kisahnya lagi, di rumahnya masih menggunakan TV 8 channel yang tidak memiliki remote. “Padahal stasiun TV kan sekarang banyak, lebih dari 8,” kata Ami. “Itu TV sehat,” timpal Rikrik, “membuat kita sering berjalan kalau mau ganti channel,” candanya mengundang tawa peserta MARKINON yang lain.

“Jaman sekarang bukan hanya keris yang diwariskan, tapi HP juga,” salah seorang peserta bercerita tentang handphone jadul yang diwarisinya dari Sang Kakak.

“Kalau beli sekalian yang bagus, jangan abal-abal,” begitu kata Kang Dea. Diyakininya dengan melakukan hal tersebut barang elektronik terbukti lebih awet.

“Di luar negeri, barang bekas seperti komputer dijadikan produk seni. Solusinya adalah kenapa di Indonesia ga dibuat sampah itu menjadi produk seni,” ujar Cecep. Kemudian Bani menambahkan ia pernah melihat di UPI ada semacam tugu yang ditempeli barang-barang elektronik bekas sebagai hiasan utamanya.

Lain halnya dengan Bram, di kampusnya ia melakukan riset mengenai teknologi clustering yang dapat memanfaatkan komputer-komputer yang sudah tidak dipakai dan masih berfungsi.

Kiki mengajak kita meneladani kembali Nabi Muhammad yang dalam kesehariannya tidak pernah berlebihan.

Yang tidak kalah penting kita harus ingat bahwa setiap hal kecil yang kita lakukan untuk bumi pasti ada manfaatnya.

Akhir diskusi ditutup oleh Taruna yang mereview ulang hasil diskusi. “Kita harus sabar dan syukuri dengan apa yang kita miliki” tambah Rikrik sambil menutup acara.

Nonton apa lagi selanjutnya? Yang jelas YPBB sudah mendata relawan yang mau menjadi panitia untuk mempersiapkan markinon selanjutnya.

Dan kamu, hey kamu. Sudah punya jurus apa untuk menghadapi sampah elektronik? Setiap orang bisa berkontribusi kok untuk mengatasi hal ini. SEMANGAT!

Mau Filmnya?

1. Story of Stuff

2. Story of Electronics (2010)

3. Behind the Stuff : Electronics

4. How the west dump Electronic Waste in Africa and India

Pembenaran yang Tidak Berlaku Lagi

Penggunaan perangkat lunak ilegal juga terjadi di Salman. Bagaimana pendapat para pakar IT mengenai hal ini?

Dijumpai saat menghadiri Ubuntu 10.04 Release Party (3/5) yang diselenggarakan POSS UPI (Pendayagunaan Open Source Software UPI), Eko Mursito dan Eko Nurdiyanto turut memberikan pendapat. Kedua Eko ini merupakan pegiat IGOS (Indonesia Go Open Source) Center Bandung.

“Urgensinya buat Salman jelas, halal,” ujar Eko Mursito, Pembina IGOS Center Bandung yang juga Kepala POSS ITB ini.

Lebih lanjut Eko Mursito mengungkapkan bahwa perasaan waktu menggunakan perangkat lunak legal itu berbeda. “Pertama perasaan bahwa saya tidak mencuri, yang kedua perasaan bangga karena menggunakan barang legal,” tutur Dosen Teknik Fisika ITB ini.

“Ya itu aja sih kalau buat saya pribadi, ngerasa nggak dosa kalau mau ngapa-ngapain. Kaya kalau kita menikah,” canda Eko Mursito.

Ditanya mengenai fakta penggunaan perangkat lunak ilegal masih marak terjadi, Eko Mursito berpendapat hal itu memang terjadi karena masalah ketersediaan. “Lha wong yang adanya itu kan, memang nggak ada pilihan.”

Kalau memang sudah tidak ada pilihan, yang haram pun bisa halal. Tapi kalau sudah ada pilihan, pembenaran itu tidak berlaku lagi.

Proprietary Atau Open Source Sama Saja

Pilihan untuk masyarakat jika ingin menggunakan perangkat lunak legal adalah dengan membelinya. Namun demikian hal ini masih menjadi kendala terkait harga perangkat lunak proprietary (berpemilik) yang terbilang tinggi.

Pilihan lain adalah dengan menggunakan perangkat lunak open source. Berbeda dengan perangkat lunak proprietary, perangkat lunak open source berlisensi GPL (General Public Lisence). Dengan lisensi ini memungkinkan orang untuk menggunakan, mendistribusikan, memodifikasi, mengadaptasi dan memperbaiki perangkat lunak tanpa harus membayar.

Di masyarakat sendiri berkembang paradigma kalau menggunakan perangkat lunak open source itu sulit. “Kalau masih bilang gitu berarti masih kuno,” ujar Eko Mursito.

Eko Mursito kemudian memberikan dua contoh yang dialaminya sendiri. “Saya biasa pakai Microsoft office 2003, begitu keluar versi 2007 saya malas belajar. Akhirnya sampai sekarang saya masih pakai yang 2003. Terus anak saya, dia biasa pakai linux. Begitu anak saya lihat Windows Vista, dia bilangnya itu mirip linux.”

Eko Nurdiyanto, Technical Manager IGOS Center Bandung, berpendapat senada. “Kata siapa open source susah? Orang juga pake Windows kan nggak langsung bisa, tapi belajar dulu. Tetap meraba-raba juga pada awalnya.”

Menggunakan perangkat lunak proprietary atau open source sama saja. Harus percaya diri dan punya semangat mengeksplor.

Eko Mursito menambahkan bahwa perangkat lunak tidak terbatas hanya sistem operasi saja. Jika sudah menggunakan sistem operasi yang proprietary, didalamnya masih bisa dipasang aplikasi yang sifatnya freeware. Freeware bisa diunduh dengan mudah di internet.

Masalah Mental dan Budaya

Pembenaran yang sering terjadi di masyarakat diyakini kedua narasumber ini sebagai masalah mental dan budaya.

“Ada kepala sekolah yang bilang ngapain susah-susah pakai open source, orang Windows aja udah banyak. Emang ada polisi yang bakal ngerazia sekolah?” ujar Eko Nurdiyanto membagi pengalamannya pada sebuah acara workshop bersama kepala sekolah dan guru TIK.

Eko Nurdiyanto melanjutkan, masalah utama ada pada aspek legalitas. Kalau membeli tidak masalah, kalau membajak lain lagi ceritanya. “Itu sama saja tidak mendidik, mendidik kan harus dengan cara yang benar. Mungkin banyak orang yang tidak peduli karena belum pernah merasakan hasil karyanya dibajak oleh orang lain.”

Eko Mursito menambahkan, masalah memang ada di mental masyarakat. Kalau mau menunggu penegakan hukum susah. “Lihat saja di jalanan banyak motor naik trotoar, polisinya nggak akan sempat. Balik lagi ke mental masyarakatnya.”

Keduanya juga berpendapat sama bahwa ini merupakan tugas kita bersama untuk mengedukasi masyarakat dan menanamkan keyakinan untuk menghargai hasil karya orang lain.

Budhiana Kartawijaya: “Kita tidak boleh mencuri”

Salman sebagai masjid kampus merupakan lembaga yang mendorong orang untuk produktif dan mandiri. “Semangatnya sudah sejalan dengan semangat open source”, ujar Budhiana Kartawijaya, Ketua Divisi Pengkajian dan Penerbitan YPM Salman ITB.

Budhiana mengakui fakta bahwa penggunaan perangkat lunak ilegal memang masih banyak terjadi di Salman. Budhiana mengungkapkan ingin mengatasi masalah ini, namun belum ada lembaga khusus yang menangani.

Kita tidak boleh mencuri,” ujar Budhiana. Budhiana setuju untuk mendorong unit-unit kegiatan di Salman untuk menghargai aspek legalitas ini. “Apalagi Indonesia sudah meratifikasi konvensi internasional dalam bidang hak cipta,” tambah Budhiana.

Sampai akhir tahun ini, Salman mempunyai target untuk menata kultur unit-unitnya supaya aktif membuat informasi. Setiap unit diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, namun juga sebagai produsen informasi. Setelah kultur ini terbangun, penanaman pemahaman pentingnya legallitas dalam menggunakan perangkat lunak dirasa akan lebih mudah.

Budhiana menuturkan, Salman mungkin akan membeli lisensi atau menggunakan perangkat lunak open source. Tidak menutup kemungkinan juga melakukan kerjasama dengan pihak-pihak terkait seperti IGOS.