Amazon, Riwayatmu Dulu

Akhirnya nonton film dokumenter panjang lagi! Menontonnya pun terasa istimewa, karena rame-rame dan langsung berdiskusi pula. Yep, YPBB bekerjasama sama Walhi bikin acara Markinon lagi. Kali ini film yang kita tonton bersama judulnya “Children of the Amazone”.

Film produksi tahun 2008 ini sudah saya nobatkan menjadi salah satu film dokumenter favorit saya. Si pembuatnya, Denise Zmekhol, bertutur dengan luwes sekali membawa saya ke dalam Hutan Amazon. Saya suka sekali cara Zmekhol bermain kamera πŸ™‚

Hutan Amazon merupakan hutan terluas di dunia, wilayahnya merupakan bagian dari 9 negara di Amerika Latin. Pada 1987, Zmekhol yang asal Brazil ini datang ke Amazon untuk mengabadikan keindahannya. Zmekhol mendokumentasikan kehidupan Suku Surui dan Suku Negarote, juga kehidupan para penyadap karet yang telah menjadikan hutan sebagai rumah mereka. 15 tahun kemudian Zmekhol kembali, banyak perubahan ia temui dari Amazon.

“When I first came to the amazone, the forrest was like a dream. A beautiful mistery.”

–Denise Zmekhol

Sejak era 60-an, suku asli Amazon mulai mengalami kontak dengan pendatang. Sejak terjadi kontak tersebut, mereka mulai terserang penyakit. Flu, peunomia dan campak bahkan membuat jumlah Suku Surui berkurang secara drastis. 700 orang meninggal, tersisa hanya 200 orang saja. Kebanyakan yang meninggal adalah para tetua. Seiring dengan meninggalnya para tetua, begitu juga dengan cerita, lagu dan upacara dari mereka. Ini karena Surui hanya memiliki budaya lisan yang diwariskan secara turun-temurun.

Kehidupan suku pedalaman ini berubah seiring aspal mengokohkan jalan melintasi Amazon. Tak urung Bank Dunia yang mendanainya. Pemerintah Brazil pun menjanjikan imbalan untuk warganya yang akan membuka hutan. Lahan hutan baik untuk pertanian dan peternakan, begitu bujuk rayunya.

Benarkah baik? Sayangnya jalan menuju hal baik ini tidak dijalani dengan baik. Membuka hutan dengan seenak udel, dibakar, ditebangi, tanpa perencanaan untuk hutan dan penghuninya. Konflik tak diundang pun terundang, para suku indian dan penyadap karet mempertahankan Amazon, rumah mereka, melawan pendatang yang semena-mena ingin menguasai hutan.

Di garis depan adalah Chico Mendes, bos penyadap karet ini berbicara di depan khalayak internasional untuk menyelamatkan Amazon. Dituntutnya wilayah konservari khusus dan jaminan perlindungan untuk hutan, untuk orang-orang indian, untuk para penyadap karet.

Hutan Amazon adalah penghasil 20% oksigen dunia. Kini lebih dari 600.000 km2 pabrik oksigen ini hancur, tergilas roda pembangunan.

Itu kan Amazon, Kita?

Sebagai orang yang tinggal di kota, rasanya yang kebayang kalau ditanya hutan ya mana lagi kalau bukan Taman Hutan Raya Juanda, hehe πŸ™‚

Setelah berbagi kesan dan komentar tentang film yang baru ditonton, Kang Rikrik sang MC melontarkan pertanyaan, “Ada yang punya pengalaman dengan hutan?”

Dan tada! OVJ dimulai.

Yang paling panjang ceritanya adalah Bram dan Kang Adhi, Teh Anil bahkan senang sekali ada “tukang ocon baru” πŸ™‚

Kang Adhi dan Bram

“Saya pernah membuka hutan,” kata Bram. Jadi, dulu di Lampung Bram pernah beli gunung yang sebenarnya bingung juga mau beli ke siapa. Tidak jelas lahan milik siapa. Setelah negosiasi dengan (oknum) penduduk setempat dan memberikan sejumlah uang, ditebanglah pohon-pohonnya. “Ya gundul, penduduk setempat protes.”

Menurut Bram, sebenarnya penduduk di sana punya hukum adat tersendiri yang mengharuskan menanam sejumlah pohon untuk setiap pohon yang ditebang. “Tapi ada oknum yang nawarin, masih penduduk situ juga, dia yang ngurus saya tinggal bayar uang.”

Kang Adhi menambahkan, biasanya pihak-pihak yang berkepentingan menjadi provokator saat pemerintah membuat kebijakan.

Ami juga cerita tentang pengalaman temannnya di Bogor. Mereka terpaksa menjual lahan hutan kota untuk kepentingan bisnis.

Teh Desra dari Aceh, lain lagi ceritanya. Pemerintah disana berencana akan membuka hutan untuk kepentingan wisata dan lain-lain. Pihak pemerintah beralasan “hutannya masih luas ini”. Lalu kami berbagi pendapat..

Bram: “Unjuk rasa aja se-Aceh.” Β #langsung ditolak forum

Kang Supe: “Kalau memang mau dibuka, harus ada aturan yang jelas.”

Kang Rikrik: “Kumpulkan fakta-fakta yang mendukung argumen kita agar lebih kuat baru disampaikan.”

Kabar tentang Aceh ini menjadi bahasan terakhir diskusi kami.

semua peserta Markinon "Children of the Amazone"

Saya pribadi jadi berpikir, benarkah kebutuhan manusia sebanyak itu, sampai harus terjadi kerusakan? Cuma pengen atau beneran butuh? Selama ini interaksi saya dengan hutan kebanyakan hanyalah sebatas interaksi tidak langsung. Mungkin secara tidak langsung saya pernah merugikan hutan. Dan tentu saja, walaupun secara tidak langsung kita juga bisa ikut menolong hutan agar tetap lestari.

“Sekecilnya apapun tindakan kita coba dipikirkan, pasti akan ada efek logisnya,” kata Kang Rikrik.

Hayu ah, bertindak. πŸ™‚

cinta dalam sepotong roti

Katakan saya ketinggalan jaman atau apalah. Saya baru tahu kalau Museum Konferensi Asia Afrika punya kegiatan Movie Week tiap hari Selasa. Demi ubur-ubur, ingin lompat-lompat rasanya.

Senang sekali bisa nonton film tanpa tiket, di ruang temaram dengan dukungan audio visual yang oke, disuguhi camilan dan minuman hangat pula. Setelah itu masih ada diskusi tentang film yang telah diputar. PR buat saya, kalau ikut Movie Week lagi jangan lupa bawa gelas sendiri, karena di sana hanya disediakan gelas plastik. Hohho.. belum tau medan sih ya, taunya tasik πŸ™‚

Karena baru pertama ikutan juga, selama diskusi saya lebih senang memperhatikan. Film yang tadi saya tonton judulnya “Cinta dalam Sepotong Roti”.

Saya baru tau loh ada film Indonesia yang satu ini. Film peraih penghargaan Film Terbaik FFI 1991 dan 4 piala Citra lain untuk artistic, editing, musik, dan sinematografi ini merupakan salah satu debut Garin Nugroho.

Film ini memiliki tiga tokoh utama, Haris (Adjie Massaid), Mayang (Cut Rizky Theo), dan Topan (Tio Pakusadewo). Alur kisahnya sederhana saja, mereka bertiga teman sejak kecil. Ketika dewasa, Haris menikah dengan Mayang. Namun kemudian, Haris yang memiliki trauma masa kecil karena ibunya, ternyata tidak bisa memuaskan istrinya dalam urusan nafkah batin. Kala itu Topanlah teman yang selalu ada untuk Mayang. Seolah terlambat menyadari, sebenarnya Topan dan Mayang sudah saling menyukai sejak dahulu.

Benarkah sesederhana itu?

Cara Lain Garin

Menurut salah seorang penonton –saya lupa namanya– akang yang “satu era” dengan film ini, film ini dibuat saat jamannya GDN (Gerakan Disiplin Nasional), jamannya P4 (apa sih, lupa, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila?). Film ini dibuat dalam masa kejayaan TVRI, saat semua orang menonton “Dunia dalam Berita” dan “Aneka Ria Safari”. Dengan kata lain, film ini dibuat ketika selera masyarakat belum beragam. Lalu Garin membawakan sesuatu yang tidak biasa; sebuah film syarat simbol.

Lihatlah bagaimana roti selai serikaya disukai oleh Topan dan Mayang. Haris? selai arbei yang disukainya. Roti selai serikaya ini agaknya gambaran keterikatan hati Topan dan Mayang. Lihatlah bagaiman cincin kawin Mayang direkam kamera saat berdua dengan Topan. Seolah itulah tanda harus berhenti, betapapun gejolak hati ingin terus melampaui batas.

Mas Tobing –semoga tidak salah namanya– mengatakan, film era awal 90-an ini dari segi teknis, okelah diakui, ada terasa gambar yang kaku, terutama shoot2 dari atas dengan menggunakan helikopter. Tapi lihatlah bagaimana Garin berkembang di film-film selanjutnya. Sangat lain dengan orang yang bahkan sudah puluhan kali bikin film masih saja sampah. (#dukung p*nj*b* deportasi ke india!!) Inilah film yang bahkan 20 tahun kemudian masih mengundang orang untuk mendiskusikannya, untuk sekedar beradu pandangan tentang “ini oke gak sih?”

Penonton juga menyoroti permasalahan utama dalam film ini: Haris tidak bisa melayani Mayang dalam urusan ranjang. Aslinya, kalau dipikir-pikir ya memang itulah sumber konflik di film ini. Dan aslinya juga, Garin tidak menyajikan permasalahan seks ini dengan vulgar, tapi tetap dewasa.

Film Puitis

Garin tidak memilih Onky Alexander yang lagi ngetop-ngetopnya saat itu. Ingin membawa suasana berbeda, si pendatang baru Adjie Massaid dan Cut Rizky Theo yang dipilihnya sebagai bintang utama bersama Tio Pakusadewo.

Kompensasinya adalah, dalam beberapa adegan yang close-up, Adjie dan Rizky Theo dirasa kurang greget mengolah ekspresi. Tapi kemudian tergantikan oleh gambar-gambar puitis arahan Garin.

Pantai yang indah, langit biru tanpa batas, padang rumput, gunung dan bukit-bukit. Memanjakan mata! Setiap penonton bertanya-tanya, “ini di sebelah mananya Jawa? sebelah mananya Indonesia?” terjawab sudah setelah kata “baluran, banyuwangi” tertangkap mata di bagian Credit Title. Oooh..

Kata Kang Adew, “film ini puitis, bahasanya mungkin terdengar sangat ber-EYD, baku, tapi indah. liat aja berantem juga latarnya pantai yang indah.”

Oh iya, salah satu sumber ke-puitis-an film ini adalah puisi2 karya kakek Sapardi Djoko Damono yang turut muncul di film ini. Salah satunya puisi berjudul “Aku Ingin”.

Tentang Credit Title

Ini bincang-bincang Mas Tobing sih. Menurut saya menarik. Beliau itu pegiat LayarKita, salah satu komunitas yang mempelopori kegiatan Movie Week ini. Bahwa, credit title sebenarnya adalah bagian penting dalam film. PENTING.

Tapi kenyataannya, 21 sudah menyalakan lampu saat credit title masih diputar (kata beliau, blitz ga gitu). Lebih parah lagi, stasiun TV kerap kali memotong bagian credit title sewaktu menayangkan film.

OMG. Padahal orang sampai minjem duit sana-sini buat modal bikin film. Credit title itu hanya sebagian saja dari upaya penghargaan kepada seluruh komponen pembuat film.

Ok, sekian saja, sodara-sodara. Maaf kalau tulisan saya ga stabil.
Can’t wait for the next πŸ™‚

surat, untuk riri riza

ini saya baru saja nonton (lagi) film Petualangan Sherina. entah sudah keberapakalinya sejak saya pertama kali nonton film ini di bioskop, 10 tahun yang lalu.

oh iya, saya lupa. kenalkan saya maya, mahasiswa tingkat akhir jurusan ilmu komputer. kita dulu pernah ketemu di Bali. di acara malam anugrah Festival Film Dokumenter Kawanusa Award 2007. iya saya tau, pasti lupa kan. waktu itu, mbak Cicilia Maharani dari Kampung Halaman yang memperkenalkan mas riri sama saya. lupa juga ga apa-apa kok. ya masa aja masih inget, ajaib bener, hehehe..

saya rasanya menyesal, kenapa dulu waktu ketemu mas riri saya gak bilang apa-apa. cuma senyum-senyum doang. ya waktu itu mas riri nya juga sibuk sih ya, jadi juri sama mbak dian sastro yang cantik, dan pak ahmad mahmudi yang (menurut saya terlihat) kalem.

sekarang saya baru kepikiran. saya mau bilang terima kasih.

terima kasih sudah membuat film Petualangan Sherina. aslinya terima kasih banyak.
terima kasih telah melengkapi masa kecil saya dengan sebuah film yang keren.
kelas 6 SD adalah ketika saya menonton film di bioskop untuk pertama kali, film Petualangan Sherina.
dari Tasik saya harus ke Bandung dulu, kakak saya yang cantik membawa saya ke bioskop.
sekarang, di semester ke-8 kuliah, rasanya saya masih bisa merasakan kenangan masa kecil itu.

terima kasih, ya πŸ™‚

MARKINON: Bukan Nonton Biasa

Pernah nonton film rame-rame? Terus habis nonton haha-hihi bubar gitu aja? Itu sih biasa ya..

Bukan sulap bukan sihir, Jumat (14/1) kantor WALHI berubah jadi bioskop dadakan. Lebih istimewa lagi, puluhan orang dari berbagai latar belakang berkumpul di kantor yang beralamat di Jalan Piit nomor 5 Bandung. Semua pandangan mata tertuju pada dinding berbalut kain yang beralih fungsi menjadi layar “bioskop”. Adalah program MARKINON (MARi KIta NONton) gelaran YPBB bekerjasama dengan WALHI Jabar yang tengah dihadiri beramai-ramai sore itu.

Seperti nama acaranya, salah satu kegiatan utama dalam MARKINON ini adalah nonton bareng. Yang membuat tidak biasa adalah, usai semua film ditayangkan dimulailah diskusi santai tapi serius dengan seluruh penonton yang hadir. MARKINON selalu mengangkat sebuah tema untuk didiskusikan, tentu saja tema tersebut juga relevan dengan film yang disajikan. MARKINON kali ini bertajuk “Sampah Elektronik”.

sebagian penonton di "studio 1", sebagian di sebelah.. (dok. YPBB)

sebagian penonton di "studio 1", sebagian di sebelah.. (dok. YPBB)

Serunya Cerita Tentang Barang-Barang di Sekitar Kita

“Media make us feel WRONG. So just go shopping!” kata Annie Leonard dalam video yang berjudul “The Story of Stuff”. Pernahkah merasakan hal seperti itu? Kita menonton TV dan secara tidak langsung TV mengatakan gadget yang kita gunakan sudah ketinggalan zaman. Lalu kita ingin membeli gadget baru yang ada di TV dan bahkan menjadi terobsesi karenanya. Begitu mudah membeli, begitu mudah membuang dan menggantinya dengan yang baru. Sebenarnya, seperti apakah perjalanan barang-barang yang kita pakai itu? Dari manakah asalnya, akan ke manakah kelanjutannya?

Sebagian besar kegiatan produksi dan konsumsi yang biasa kita lakukan sehari-hari membentuk sebuah diagram linear. Artinya, keberlanjutannya terputus begitu saja pada rangkaian aktivitas tertentu. Teman-teman bisa lihat screenshoot dibawah ini:

Ada 5 kegiatan utama di sana. Yang pertama adalah ekstraksi (sebenarnya merupakan kata lain untuk ekploitasi sumber daya alam). Semua sumber yang ada di alam digunakan oleh manusia. Air, logam, hutan. Kenyataannya kita menghabiskan terlalu banyak sumber daya. Bahkan di hutan Amazon saja, terhitung 2000 pohon ditebang tiap menitnya. Hanya dalam waktu 30 tahun saja 1/3 sumber daya yang ada di bumi telah dihabiskan. Manusia menebang, menambang, melubangi dan menyampah di berbagai tempat dengan sangat cepat.

Berikutnya material-material dari alam ini masuk ke tahap produksi. Dalam dunia perdagangan, dalam proses produksi ada lebih dari 100.000 bahan kimia sintetis digunakan. Hanya sebagian kecil saja dari bahan-bahan tersebut yang telah diuji dampak kesehatannya. Artinya, kemungkinan kita belum tahu dampak kesehatan dari sebagian besar barang yang ada di sekitar kita. Prinsipnya, “toxic in toxic out“. Jika ada racun yang masuk, maka akan ada pula racun yang (dilepaskan) keluar.

Contohnya adalah BFR (Brominated Flame Retardans). BFR adalah bahan kimia yang membuat barang jadi tahan api, tapi sangat berbahaya jika sampai masuk ke tubuh. BFR ini pada kenyataannya banyak digunakan dalam komputer, alat rumah tangga, kursi, kasur, bahkan bantal. Pada kasus ini, para pekerja pabriklah yang paling rentan terkena bahan kimia berbahaya. Ingat prinsipnya, racun masuk, racun keluar. Banyak racun meninggalkan pabrik dalam bentuk barang produksi, tetapi lebih banyak lagi yang keluar sebagai hasil sampingan atau polusi. Di Amerika, kalangan industri mengakui bahwa mereka mengeluarkan 4 miliar pound bahan kimia beracun setiap tahun.

Setelah sumber daya ini berubah menjadi produk, masuklah mereka ke tahap distribusi. Distribusi berarti bagaimana caranya membuat barang terjual secepat mungkin. Tujuannya adalah membuat harga serendah mungkin, agar orang tetap membeli dan membuat barang-barang terus bergerak. Hal ini menuntut kegiatan produksi terus dan terus dilakukan. Tentu saja semakin banyak kerusakan yang tercipta karenanya.

Kemudian terjadi proses konsumsi, dimana barang-barang akhirnya sampai ke tangan kita. Kita membeli, memakai, dan akhirnya sampailah pada tahap membuang.

Ya, membuang sampah. Selama ini orang mengubur sampah, atau membakarnya. Kedua cara itu sama-sama mencemari tanah, air, dan udara. Ingat konsep racun masuk racun keluar? Pada penanganan sampah yang tidak tepat racun-racun bisa terlepas, bahkan berubah menjadi racun yang lebih berbahaya. Contohnya pada proses pembakaran sampah yang dapat menghasilkan dioxin.

Seperti itulah “riwayat” barang-barang terputus, dari alam tidak kembali ke alam.

Design for The Dump

Rasanya handphone tidak lagi menjadi barang aneh untuk kita saat ini. Pernahkan terpikirkan, kenapa charger handphone berbeda-beda colokan padahal masih satu merk? Kenapa seri-seri baru dari merk handphone terus saja bermunculan? Kenapa handphone saya mulai tidak bisa dipakai lama-lama?

Begitulah industri merancang alat elektronik, design for the dump. Dirancang untuk dibuang. Sementara itu, alat elektronik yang sudah tidak digunakan sangat sulit untuk dibuang. Karena pada dasarnya, ketika kita membuang sampah elektronik ke TPA, itu hanya memindahkan saja. Dalam hal ini, industri selaku produsen seharusnya bertanggungjawab mengolah sendiri sampah yang dihasilkan dari barang hasil produksinya. Sampah elektronik biasanya mengandung logam berat yang berbahaya jika sampai terlepas ke alam dan masuk ke tubuh manusia.

Salah satu tujuan pembuangan favorit sampah-sampah elektronik adalah negara-negara berkembang seperti Ghana dan India. Kisah mengenai sampah-sampah elektronik kiriman tersaji dalam video dokumenter berjudul “How The West Dump Electronic Waste in Africa and India”. Kebanyakan dari sampah elektronik yang diterima berupa seperangkat komputer. Barang-barang ini diklaim sebagai “secondhand good” atau barang bekas yang masih bisa dipakai. Komputer bekas ini dikirim dari Eropa dengan tujuan mulia untuk mengurangi kesenjangan digital. Namun tidak demikian kenyataan yang terjadi.

Sebagian besar komputer datang dalam kondisi sudah menjadi sampah. Rusak dan tidak bisa dipakai. Sementara itu tidak ada alat yang memadai untuk mengolah sampah-sampah elektronik tersebut. “We are killing our people,” ujar salah seorang narasumber dalam film dokumenter. Pembunuhan yang dimaksud adalah proses pengolahan sampah elektronik yang melepaskan racun dan logam berat. Sebagai contoh, untuk mendapatkan logamnya, kabel dibakar. Hal tersebut dilakukan tanpa alat pelindung sama sekali.

Apa Yang Bisa Kita Lakukan?

Banyak ekspresi tertangkap selama pemutaran film. Di bagian awal penonton tertawa karena tayangan animasi lucu, namun kemudian miris melihat dokumentasi yang terjadi di Ghana dan India. Pengetahuan baru tentang sampah elektronik agaknya mengundang setiap penonton untuk turut memikirkan solusi dari masalah ini. Segera setelah film selesai diputar, Rikrik dan Taruna yang bertugas sebagai MC dan moderator langsung memimpin diskusi.

ki-ka: Taruna dan Rikrik (dok. YPBB)

ki-ka: Taruna dan Rikrik (dok. YPBB)

“Kenang nilai historisnya,” ujar Kang Ari. Menurut Kang Ari, salah satu upaya untuk mempertahankan barang elektronik yang kita punya adalah dengan mengenang nilai historisnya. “Misalkan kita sayang mengganti HP kita, soalnya ini HP pertama yang bisa dibeli dengan uang sendiri. Sebisa mungkin kenang nilai historisnya.”

Lalu Ami bercerita tentang kebiasaan Ayahnya di rumah yang suka membeli barang bekas dan memperbaikinya. Kisahnya lagi, di rumahnya masih menggunakan TV 8 channel yang tidak memiliki remote. “Padahal stasiun TV kan sekarang banyak, lebih dari 8,” kata Ami. “Itu TV sehat,” timpal Rikrik, “membuat kita sering berjalan kalau mau ganti channel,” candanya mengundang tawa peserta MARKINON yang lain.

“Jaman sekarang bukan hanya keris yang diwariskan, tapi HP juga,” salah seorang peserta bercerita tentang handphone jadul yang diwarisinya dari Sang Kakak.

“Kalau beli sekalian yang bagus, jangan abal-abal,” begitu kata Kang Dea. Diyakininya dengan melakukan hal tersebut barang elektronik terbukti lebih awet.

“Di luar negeri, barang bekas seperti komputer dijadikan produk seni. Solusinya adalah kenapa di Indonesia ga dibuat sampah itu menjadi produk seni,” ujar Cecep. Kemudian Bani menambahkan ia pernah melihat di UPI ada semacam tugu yang ditempeli barang-barang elektronik bekas sebagai hiasan utamanya.

Lain halnya dengan Bram, di kampusnya ia melakukan riset mengenai teknologi clustering yang dapat memanfaatkan komputer-komputer yang sudah tidak dipakai dan masih berfungsi.

Kiki mengajak kita meneladani kembali Nabi Muhammad yang dalam kesehariannya tidak pernah berlebihan.

Yang tidak kalah penting kita harus ingat bahwa setiap hal kecil yang kita lakukan untuk bumi pasti ada manfaatnya.

Akhir diskusi ditutup oleh Taruna yang mereview ulang hasil diskusi. “Kita harus sabar dan syukuri dengan apa yang kita miliki” tambah Rikrik sambil menutup acara.

Nonton apa lagi selanjutnya? Yang jelas YPBB sudah mendata relawan yang mau menjadi panitia untuk mempersiapkan markinon selanjutnya.

Dan kamu, hey kamu. Sudah punya jurus apa untuk menghadapi sampah elektronik? Setiap orang bisa berkontribusi kok untuk mengatasi hal ini. SEMANGAT!

Mau Filmnya?

1. Story of Stuff

2. Story of Electronics (2010)

3. Behind the Stuff : Electronics

4. How the west dump Electronic Waste in Africa and India

yang mengganjal mata dan telinga

bukannya mata dan telinga saya iseng kalo lagi nonton film di bioskop.

bukan juga sok-sok jadi kritikus film atau yang sejenis. saya hanya penikmat film. seriusan, saya bukan anggota dari organisasi apapun, dan tidak punya kepentingan apapun.

ini, ada dua hal yang bikin saya gegerenyeman di hati.

di hati aja, kalo dikeluarin takut ngeganggu orang lain di bioskop,Β  saya lagi belajar jadi penonton yang beradab.

dulu, pengen langsung aja gitu ngomentarin macem2 pas nonton film Sang Pemimpi. itu, pas adegan Rima Melati yang hanya semenit-duamenit itu.

saya kok ya ngerasa aneh, film itu berseting Belitong tahun 80-90an, yang mana saya pikir belum jamannya orang menggunakan daleman kerudung topi. apalagi mengingat seting tempatnya adalah desa. seingat saya, daleman kerudung yang bentuknya kayak topi itu baru ada di “kota” awal taun 2000-an.

setelah susah payah mencari, akhirnya dapet juga gambar ini, salah satu scene yang menampilkan adegan yang ada rima melati sebagai nenek maryamah.

itu neneknya maryamah (rima melati), perhatiin kerudungnyaaaa

itu neneknya maryamah (rima melati), perhatiin kerudungnyaaaa

ada yang bisa ngasih penjelasan ke saya? bagian wardrobe film Sang Pemimpi mungkin? *seriusan, saya penasaran.

terus yaa… kemarin lusa saya nonton film Sang Pencerah. saya jadi penasaran dengan penggunaan kata ‘nggak’ dalam bahasa Indonesia. sejak kapan kata tidak baku itu turut mewarnai bahasa nasional kita?

ada yang merhatiin gak, Zaskia Adya Mecca ngucapin kata itu??? pas adegan dia sama Lukman Sardi, malem2 berdua makan ubi rebus di film berseting Jogja awal tahun 1900-an.

kalo ga salah ingat potongan kalimatnya gini, “kalau tidak begitu kita nggak belajar”. lupa detailnya, tapi saya denger dia bilang “nggak”, bukan “ndak” (penyederhanaan dari tidak, dalam bahasa jawa).

zaskia sebagai walidah (nyai ahmad dahlan) di film Sang Pencerah

zaskia sebagai walidah (nyai ahmad dahlan) di film Sang Pencerah

hmmm.. itu bikin saya jadi penasaran, soalnya di akhir film, di bagian credit tittle, ada credit untuk penanggung jawab riset dan bahasa.

jadi pengen tau… masa sih editornya kecolongan??

nonton sama bang patrick :p

darah garuda, darahnya para remaja..
*mabok 21, kemaren nonton film bang haji, hari ini nonton film perang…

darah garuda, film ini rame penontonnya.

ritme film ini lambat, sampai-sampai dia tidak berhasil menyajikan sensasi genting di tengah perang. entahlah.

untungnya itu agak termaafkan di seperempat terakhir bagian film ini.

tadi kan saya bilang penontonnya rame. saya gak bohong. mereka sampe teriak khawatir waktu kapten amir (lukman sardi) hampir ditembaki belanda. mereka tepuk tangan waktu dayan (rifnu wikana) berhasil naik ke pesawat dengan susah payah karena kakinya tertembak.

teater 3 di 21 tasik rame tadi, riuh. agak norak mungkin teriak-teriak sampe tepuk tangan di dalem bioskop. tapi mungkin itu salah satu indikator film ini akhirnya berhasil mengikat emosi penonton.

buat saya pribadi, walaupun ini film perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, film ini terasa kurang indonesia. mungkin karena script writer-nya bule ya. ada hal yang saya rasa terlalu barat di sana, terlalu bukan indonesia yang timur.

saya tidak bermasalah dengan karakter-karakter di film ini. selain karena diperankan oleh aktor-aktor ganteng :p seingat saya semua karakter berkembang dengan konsisten.

dan itu, si budi dan si thomas favorit saya.
*semoga setelah ini budi bisa bermain bola, tidak mengangkat senjata lagi.

oia, ini bukan review film darah garuda. ini catatan kecil saya, waktu saya nonton sama teman saya yang jangkung.

For Salt, Whoever You Are

Hey Salt, thank you for making our day enjoyable πŸ™‚

Itu starlet kami di dalamnya bertiga. Penuuhhh cari tempat parkir sampe ke atas-atas. Masuk teater tanpa pikir panjang beli tiket buat nonton kamu. “Jolie, jaminan mutu deh,” kata suara di kepala saya. Lalu bengong kami karena pesen tiket buat film yang baru bakal maen satu jam lagi. duh.

Berbekal pengalaman ngejailin tukang steak, mencari daging has dalam kemudian kami. Istilah kerennya tenderloin. Tentu saja bukan di bioskop, tapi di swalayan satu lantai di bawahnya. Bukan buat masak steak kami memilih daging has dalam. Tapi kami ini bertiga kebetulan punya komposisi begini: satu, terobsesi dengan beef teriyaki hokben dalam porsi suka-suka, suka makannya, suka bayarnya. dua, gak ikut acara buka bareng di hokben jadi gak nyambung waktu ngomongin beef teriyaki. tiga, punya keyakinan kalau masak beef teriyaki itu mudah dan menyenangkan, karena bumbunya bisa ditebak oleh lidah awamnya.

Jadi kami belanja, sampai pegal mengantri. Orang-orang banyak bukan kepalang.

Dan Salt, maafkan kami karena kehilangan dua menit pertama menonton kamu. Selanjutnya kamu membius saya, dan dua teman saya itu. “Oh, Jolie..”

Apa itu istilahnya, kamu meledak-ledak, dan susah ditebak. Mungkin karena saya sedang malas berpikir. Saya serahkan otak saya sepenuhnya sama kamu. Saya kamu bawa penasaran, dan kadang tertipu. Apapun itu Salt, itu menyenangkan.

Kamu keren. Dedikasi ya, hm? Yah, walaupun berdarah-darah..

Kamu kasihan. Kamu hebat.

Kamu tau, Salt, tukang parkir di mall itu menambah kesenangan kami hari itu. Berpikir tadinya sudah tiga jam lebih stralet itu singgah di tempat parkir. Ternyata 2000 rupiah saja untuk menebus agar palang parkiran mengizinkan mobil kami lewat. Pulang ke rumah bersuara air. Rumah saya, kalau kamu mau mampir.