Hey. Halo. Udah 15 minggu nih saya jadi bumil.

Bismillah.

Hey. Halo.

Udah lama gak ngeblog, hehehe.. Maafkanlah dakuuu pemirsah.

Ada hal yang bikin saya bersemangat beberapa waktu ini. Ini gara-garanya saya kenal sama yang namanya Gentle Birth (GB). Kenalnya dari sebelum tau kalo saya hamil sih. Terus jadinya makin meresapi filosopinya setelah hamil, hehe πŸ™‚

Oh iya, GB itu apa ya *bingung jelasin* πŸ˜€ Kalau dari asal katanya, gentle itu kan artinya lembut ya, jadi Gentle Birth itu proses kelahiran yang lembut dan alami, yang minim trauma dan ramah jiwa, baik bagi ibu dan bayi. Proses ini adalah proses berkelanjutan, disiapkan sejak sebelum waktunya melahirkan. Sejak awal kehamilan, bahkan sejak konsepsi malah. Jadi lupain deh ya, adegan melahirkan di sinetron dan film yang teriak-teriak, penuh penderitaan, tegang dan genting. Menyesatkan itu.

Kunci dari GB ini ada di proses memberdayakan diri si ibu. Iya, si ibu harus memberdayakan diri untuk bisa mendapatkan pengalaman hamil dan melahirkan yang lembut dan nyaman. Caranya banyak, terutama harus mau belajar. Belajar apa aja? Ya banyak, tentang gizi, relaksasi hypnobirthing, yoga, sistem hormon, perubahan tubuh si ibu, perkembangan janin, bagaimana melibatkan suami, dll dll. Belajar apapun, karena KNOWLEDGE IS POWER.

Nah, kalau sudah memberdayakan diri dengan dipenuhi knowledge kita akan lebih siap dan percaya diri menghadapi segala rintangan yang menghadang *halah* Dengan rajin nge-charge knowledge, kita juga bisa jadi konsumen kesehatan yang lebih cerdas. Setiap ketemu dokter/bidan, kita bisa jadi teman diskusi yang nyambung, yang gak sekedar nurut, tapi bener2 bisa mendapatkan informasi yang kita butuhkan.

Dengan memberdayakan diri, kita juga bisa menghindari intervensi medis yang tidak perlu. Melahirkan itu kan sejatinya peristiwa alami ya. Kecuali ada indikasi medis tertentu yang menyebabkan proses melahirkan itu jadi beresiko tinggi bagi si ibu dan bayi. Beberapa pengalaman yang saya baca di internet, ada juga ibu yang sebenarnya sehat dan beresiko rendah tapi malah dilakukan intervensi medis yang tidak perlu. Si ibu mau2 saja menerima intervensi tersebut. Kenapa? Ya karena dia ga tahu, ga cukup knowledge untuk mengetahui alternatif lain yang lebih alami selain intervensi tersebut. Jadi ya mau ga mau manut. Akibatnya bisa saja menyakitkan bagi pengalaman melahirkan si ibu.

Waktu saya ngobrol sama teman yang anak kebidanan, menurut dia GB itu sejalan dengan apa yang dipelajari selama dia kuliah. Tapi, pada praktiknya masih banyak yang ga sesuai. Males mengaplikasikan, begitu kata teman saya. Walhasil terjadilah kelahiran normal tapi nggak cukup alami (beda tuh ‘normal’ sama ‘alami’? hehe.. belajar GB aja ya..) Nah, makannya kita mesti jadi bumil yang full of knowledge ya πŸ˜‰

Oh iya, banyak yang gagal paham tentang GB. GB itu filosopi ya, bukan metode. Jadi mau metodenya apapun, mau kasur birth, water birth, lotus birth, operasi sesar, semuanya bisa dilakukan dengan GB. Dalam GB, ibu adalah pemeran utama, bukan dokter/bidan. Kenyamanan ibu adalah nomer satu. Ibu boleh merancang birthplan-nya sendiri πŸ™‚ Selengkapnya tentang GB, googling aja ya, hehhe.. Tulisan-tulisan Bidan Yessie di website bidankita.com banyak membantu saya memahami filosopi GB. Buku yang beliau tulis juga oke banget, ini penampakannya. Yang jelas, nggak rugi belajar tentang GB.

Etapi, saya sebenernya ngeblog bukan mau cerita soal GB sih, hehehe.. Saya mau cerita soal Kelas EdukASI Prenatal AIMI Jabar (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) yang saya ikuti pekan lalu (Ahad 13/1). Ceritanya ngikut kelas ini kan bagian dari usaha saya memberdayakan diri. Belajar tentang ASI? Masih jauuuh.. Tapiiiii.. inget ya, knowledge is power. Ciat! *lempar shuriken* *awas kena* *apa deh*

Tapi setelah diliat-liat, ini tulisan udah panjang juga ya. Dibikin bersambung aja deh ya. *teu puguh pisan* Ngga apa-apalah teu puguh juga. Yang penting posting di blog lagi setelah sekian lama *ngeles* πŸ˜›

the day i marry my best friend

“tanggal 12, ya?”

“kenapa?”

“bu ainun sama pak habibie nikah tanggal 12 mei loh.”

“kita bikin sejarah kita sendiri aja.”

mei, bulan yang keluarga maya pilih. 19, tanggal yang keluarga bram pilih. 19 mei 2012, maya dan bram menikah, mencatatkan sejarah bersama.

kami berada di kelas yang sama sejak 2007, tapi bahkan tidak saling mengenal satu sama lain sampai 2 tahun lamanya. tidak saling menyapa, sekedar tahu saja.

kisah kami ya begitu saja. bagaimana mula berteman baik lupa persisnya. dua pribadi yang sangat bertolak belakang, dibesarkan dengan cara yang sama sekali berbeda. maya mudah menangis, sementara bram mudah marah. maya tidak banyak bercerita, sementara bram kisahnya tak pernah habis persediaan. maya susah makan, sementara bram susah berhenti makan. maya akrab dengan EYD, sementara bram selalu saja salah eja.

setelah beberapa perbincangan dengan orang tua, maya memutuskan berproses untuk menikah pada bulan desember 2011. iya, itu si maya duluan yang ngajak bram nikah.

mungkin bram kaget karena maya tiba-tiba ngajak nikah. yang lebih kaget lagi mungkin keluarga bram, anak laki-lakinya tiba-tiba minta nikah πŸ˜€

tidak ada perasaan membuncah seperti di film-film drama yang biasa maya tonton. keputusan untuk menikah diwarnai perasaan tenang, malah cenderung ‘terlalu tiis’ kalau menurut beberapa orang teman.

sempat merasa agak sinetron ketika ternyata keluarga bram tidak bisa meng-acc pernikahan anaknya dalam waktu dekat. pasrah sudah maya.

tapi rupanya sailormoon benar, “ini keajaiban alam, aku mempercayainya.” rumah maya tiba-tiba kedatangan keripik pisang aneka rasa, kopi lampung, kerupuk ikan tenggiri, dan sepasang ibu dan bapak calon mertua, beserta anak laki-lakinya tentu saja. dua keluarga bertemu pada bulan maret itu, akhirnya. tapi tanpa maya!

mungkin itu yang namanya lamaran. dan maya tidak menghadiri acara lamarannya sendiri.

setelah itu, maya semakin rajin berdoa agar dihindarkan dari dosa-dosa ekologis. dosa pada bumi tercinta.

bahkan bapak maya bilang maya terlalu mengada-ngada dengan tidak mau pake air minum dalam kemasan. atau bahasa lumrahnya, aqua gelas. ibunya maya bahkan sempat bilang tidak apa-apa pakai piring kertas. ah, tapi sungguh dosa ekologis itu mengerikan. tapi untungnya lama-lama mengerti juga.

beruntung pula Riung Gunung mau membantu mewujudkan keinginan maya yang ‘aneh-aneh’.

maaf ya, tidak ada buah potong seperti di pesta-pesta pernikahan lain. Riung Gunung tidak punya cukup pisin beling untuk menggantikan piring-piring kertas. tapi semoga jus buah yang disediakan bisa teman-teman terima dengan bahagia.

maya dan bram masih harus cari akal menghindari penggunaan tisu. lalu si maya tiba-tiba punya cita-cita pengen bikin selimut, taplak meja, dan peralatan rumah lainnya dengan kerajinan patchwork. dibelilah banyak kain, dipotong-potong, dijadikan serbet untuk tamu. baru kemudian akan dicuci dan jadi bahan kerajinan patchwork maya πŸ˜€

meski belum bisa sepenuhnya membuat pernikahan yang nol sampah, tapi kami senang karena telah mengusahakannya sebaik mungkin.

suasana akad πŸ™‚

dan ya begitulah. maya dan bram telah menikah kini.

terima kasih terbaik kami untuk teman-teman yang telah turut berbahagia. doa-doa dari kalian sungguh melipatgandakan kebahagiaan kami.

doakan kami agar tetap lurus di jalan-Nya dan senantiasa ada dalam ridha dan keberkahan-Nya.

nostalgia dari panggung dangdut

mana ada.

iya. mana ada!

itu kata yang terus terngiang di kepala saya waktu itu.

saya lupa kapan, waktu terakhir kali mengunjungi Tasik Fair.

saya takjub menghadapi kenyataan saya berada di depan panggung dangdut, bersama sahabat-sabahat ter-yahud sepanjang masa.

mana ada orang yang mau diajak dangdutan secara spontan seperti mereka. mana ada!

saya pribadi tidak terlalu akrab dengan dangdut. tapi bahwa rhoma irama dan evi tamala adalah legenda, iya kami mengakuinya.

panggung dangdut. pusat kegilaan kami dimulai.

Zaky dan Nanaw. hanya dengan mereka dangdut bisa jadi topik diskusi ilmiah πŸ™‚

padamu Bang Haji…

selamat malam duhai Evi Tamala…

*foto dari kamera Nanaw

Guru yang Dirindukan

Saya masih ingat perasaan saya saat pertama kali bertemu Bu Endang Yuli Purwati (52). Saking terkesimanya, saya yakin wajah saya nggak kekontrol pas ketemu beliau. Tampang cengo, kalau kata orang mah.

Bersama teman-teman dari Pojok Pendidikan, untuk pertama kalinya saya bertemu Bu Yuli di Sate Ponorogo (Dipati Ukur, Bandung) pada Jumat malam, akhir tahun lalu (30/12). Awalnya saya tidak tahu akan bertemu dengan siapa. Pak Djadja sempat menjelaskan sedikit tentang beliau, namun tidak banyak yang bisa saya ingat. Yang saya bisa ingat hanya sebatas informasi bahwa Bu Yuli pernah menjadi bintang tamu acara Kick Andy.

Kemudian sampailah kami pada saat yang ditunggu. Bertemu Bu Yuli.

Saya dan Bu Yuli. Foto oleh Kang Asep Sufyan Tsauri.

Berjilbab merah, Bu Yuli malam itu. Setelah kami selesai santap sate, beliau ikut duduk di meja kami. Dimulailah obrolan hangat yang –saya bilang tadi bikin saya cengo– luar biasa inspiratif.

Sosok Bu Yuli sebagai ibu yang memiliki banyak anak asuh mungkin sudah banyak diceritakan media. Hal itu pula yang membuat beliau menjadi bintang tamu dalam acara Kick Andy. Jika Anda terbiasa merasakan haru saat menonton Kick Andy lewat perantara televisi, maka bayangkanlah bagaimana jika berkesempatan untuk bertemu secara langsung dengan si narasumber.

Itulah yang terjadi pada saya. Berkali-kali saya menahan haru luar biasa saat beliau menceritakan anak-anak asuhnya. Ada yang ditinggalkan begitu saja di paraji (dukun beranak), ada yang merupakan hasil pemerkosaan, pokoknya kisah-kisah hidup yang selama ini hanya saya dengar di berita kriminal, atau –okelah– sinetron.

Belakangan baru saya tahu kalau kisah-kisah beliau dengan anak-anak asuhnya juga beliau ceritakan dalam buku berjudul “Rumah Seribu Malaikat”. Jadi saya nggak perlu cerita panjang lebar tentang ini ya, hehehe πŸ™‚ Saya ingin menceritakan beliau sebagai seorang guru pelajaran agama Islam. Tapi bukan sembarangan guru, lho..

Guru Agama yang Kreatif

Apa yang Anda ingat dari pelajaran Agama waktu sekolah dulu? Kalau saya pribadi, langsung teringat kata BBE alias “Buronan Bu Eti”. Bu Eti, Guru Agama saya ketika SMA sering memberikan tugas hafalan ayat. Saya tidak terlalu cemerlang sih dalam hafalan ayat ini. Tapi beruntung saya tidak masuk dalam barisan BBE. BBE ini sebutan yang masyhur di kalangan teman-teman sekelas untuk teman yang menunggak setoran hafalan ayat πŸ˜€

Layaknya pelajaran Agama pada umumnya, Bu Yuli juga memiliki daftar ayat-ayat yang harus dihafalkan anak didiknya. Bu Yuli menerapkan metode tutor sebaya untuk hafalan dan membaca alquran.

“Pada awal tahun ajaran saya biasa melakukan placement test, jadi saya tahu anak-anak mana yang sudah bagus bacaan quran-nya. Mereka kemudian dijadikan tutor untuk membimbing teman-temannya,” kisah Bu Yuli. Para tutor sebaya ini setelah lulus pun masih sering berkumpul. “Para ‘alumni tutor’ ini kemudian tersebar di beberapa perguruan tinggi dan menjadi dai/daiyah di kampusnya,” tutur Bu Yuli bangga.

Ada juga anak yang pada awalnya tidak bisa membaca quran tapi bertekad ingin jadi tutor. Dengan kerja keras anak tersebut kemudian dapat menyelesaikan hafalan untuk satu semester hanya dalam waktu dua bulan saja, dan kemudian berhasil menjadi tutor.

Bu Yuli sering melibatkan siswa-siswinya dalam mengajar. “Di kelas tidak selalu saya yang menerangkan, kadang saya ajak siswa juga. Saya terangkan apa itu kompetensi, apa itu indikator keberhasilan belajar. Saya berikan kebebasan kepada anak tersebut untuk membuat materi dengan media apapun. Mau membuat presentasi dengan power point silahkan, saya beri kepercayaan kepada anak tersebut.”

Pada sebuah kesempatan Bu Yuli pernah membawa manequine (boneka manusia) ke kelas. Tidak lupa Bu Yuli membawa baju dan perhiasan untuk si manequine tersebut. Kemudian siswa laki-laki diminta untuk mendandani si manequine. Setelah itu teman-temannya boleh berkomentar. Di antara komentar-komentar tersebut muncul siswa-siswi yang memberikan pandangan tentang bagaimana berbusana yang sesuai syariat Islam, malah ada yang lengkap dengan ayatnya. Bu Yuli praktis tidak perlu menerangkan lagi.

“Saya jadi fasilitator saja,” ungkap Bu Yuli.

Dalam kesempatan lain, Bu Yuli bekerjasama dengan guru kimia untuk menjelaskan peristiwa kiamat. Selain itu masih ada alat-alat peraga lain yang Bu Yuli gunakan untuk membuat pelajaran agama menjadi menyenangkan.

Orang yang Selalu Belajar

Bu Yuli berkali-kali menegaskan, bahwa dirinya bukanlah malaikat seperti yang sering dikatakan orang-orang. Yang ikut membiayai murid-muridnya yang tidak mampu bukan hanya dirinya, tapi juga teman-teman pengajar yang mau turut menyisihkan uang dengan sukarela.

Pada kesempatan kedua bertemu Bu Yuli di Comlabs ITB, beliau menceritakan bahwa dulunya dirinya mengajar biasa-biasa saja. Bu Yuli mulai mengubah cara mengajarnya pada pertengahan tahun 90-an ketika anaknya yang pada waktu itu kelas 1 SD mengaku kangen sama gurunya.

“Anak saya kan sekolahnya Senin sampai Jumat. Begitu Jumat dia sepertinya resah, bingung menghadapi libur. Suatu hari anak saya minta izin untuk menginap di rumah gurunya saat akhir pekan tiba. Kata anak saya, Umi aku kangen sama ibu guru,” kisah Bu Yuli.

Bu Yuli mengaku heran dengan apa yang terjadi pada anaknya. Karena penasaran, Bu Yuli berusaha mencari tahu bagaimana keseharian guru-guru anaknya ketika mengajar. Dari situ dirinya terinsipirasi untuk memperbaiki cara mengajarnya dan menjadi guru yang dirindukan murid-muridnya.

***

Bertemu orang-orang hebat membuat saya senang, tapi juga sekaligus malu. Bu Yuli semakin mengingatkan saya untuk peduli terhadap sesama dan terus belajar untuk meningkatkan kualitas pengabdian saya πŸ™‚

Ke Situ Gede, Yuk!

Situ Gede pagi hari

Awal Desember tahun lalu, saya, Bram, Zia dan Kang Yudha berkesempatan main ke Situ Gede. Situ Gede ini salah satu objek wisata alam di kecamatan Mangkubumi, kota Tasikmalaya.

Seperti namanya, di sana terdapat danau yang lumayan besar. Di sekeliling danau ada trek ber-pavingblock untuk pejalan kaki kurang lebih sepanjang 6 kilometer.

Trek ini biasanya ramai pada hari Minggu, ada yang jogging, bersepeda, atau sekedar jalan santai. Kami sendiri memilih untuk jalan santai saja, sambil menikmati keindahan Situ Gede.

Sepanjang jalan mengitari Situ Gede, kami menemukan banyak orang memancing. Ada yang pake rakit, ada juga yang sekedar duduk di pinggir Situ. Kami juga menemukan bunga-bunga semak yang cantik. Selain itu ada rumah-rumah warga, yang entah kenapa, saya suka sekali motret jemurannya, hehe πŸ˜€

Mancing di atas rakit.

bunga putri malu yang kami temukan di sekeliling Situ Gede.

jemuran milik warga di pinggir Situ Gede.

Zia dan Bram, pose ala pahlawan bertopeng.

Sehabis khatam satu putaran keliling Situ Gede, kami memutuskan untuk makan di warung yang ada lesehan di bawah pohon kersennya. Saya lupa detail harganya, tapi makanan di sini relatif murah. Untuk berempat saja hanya menghabiskan 50-an ribu, itu pun menunya sudah lengkap (kalau tidak salah, kami pesan: nasi 5 porsi, 2 kelapa muda, 1 jus, 2 ikan bakar, 1 ayam goreng, 1 oseng pakis, lalab-sambel, tahu tempe, lupa lagi, hehe..)

Menunggu pesanan πŸ˜€

Menyenangkan, tapi…

Secara keseluruhan, Situ Gede tempat yang menyenangkan. Tapi masalah kebersihan masih kurang terjaga. Di beberapa titik di Situ, terdapat tumpukan sampah yang mengambang. Selain itu jumlah tempat sampah sangat sangat minim. Rambu-rambu peringatan untuk tidak buang sampah sembarangan (apalagi buang sampah ke Situ) tidak ada. Padahal banyak yang datang ke Situ Gede sambil bawa makanan untuk botram (makan bersama). Rata-rata menggunakan kertas nasi dan kantong plastik.

Selain itu terdapat keanehan saat membeli tiket. Petugas mengenakan tarif 2.500 rupiah untuk 1 orang, tapi kami tidak diberi tiket. Saat saya meminta tiket, petugasnya bilang kalau pake tiket 4.000.

Saya bilang tidak apa-apa. Akhirnya kami membayar 10.000 (untuk 4 orang), tapi hanya diberi 2 lembar tiket berlabelkan 4.000. Nah, loh, ini maksudnya apa? Uang kami lari kemana kalau tanpa tiket?? 😦

Sepertinya hal ini hanya terjadi pada hari Minggu saja saat banyak pengunjung. Menurut informasi dari teman saya yang datang ke Situ Gede di luar hari Minggu, dirinya tetap dikenakan tarif 4.000 dengan tiket berlabel 4.000.

Semoga pengelola Situ Gede mau berbenah diri.

More photos here.

Akhirnya Punya Foto Keluarga :D

ki-ka: Bapak, Maya, Mbu, Teteh

Dee-M: “Apakah aku tampak bahagia?”

Nanaw: “Kamu tampak dewasa, M.”

–pada sebuah percakapan

Setelah 22 tahun hidup sama keluarga, akhirnya punya foto keluarga juga πŸ˜€

Aslinya, saya ga pernah punya foto keluarga sebelum ini.

Dulu waktu P2M Ilkom di Karangnunggal, pas taun 2008 kalo ga salah, dm ikut bantuin Kang Wisnu di Stand Foto Keluarga. Jadi waktu itu kami punya banyak program, kaya baksos, puskesmas keliling, lomba mancing dll, sama salah satunya program foto keluarga gratis.

Dari posko P2M, kami masih harus naik truk melewati medan terjal untuk sampai pada lokasi acara. Naik truk berasa naik jetcoaster aja pokoknya. Saya lupa nama desanya. Waktu itu kegiatan kami pusatkan di sebuah sekolah dasar.

Desanya lumayan terpencil, buat bisa ke puskesmas terdekat aja medannya kaya jetcoaster tadi. Kalau kata warga di sana sih, “keburu mati di jalan.” Makannya mereka senang sekali waktu kami bawakan petugas puskesmas datang ke desa. Mereka juga senang dengan stand foto kami.

Kami hanya berbekal kamera digital biasa, dengan sebuah tripod, printer dan laptop. Sebuah ruang kelas kami sulap jadi studio foto berlatarkan dinding kelas.

Awalnya mereka malu-malu, khasnya orang desa. “Alim ah abi mah acukna butut,” ada yang bilang begitu. Lalu saya membujuk untuk sekedar mandi dan berhias seadanya, stand foto kami tidak akan buru-buru bubar ini. Akhirnya puluhan orang mengantri, sanak famili diajaki.

Saya masih ingat perasaan yang saya rasakan saat itu. Terharu gimana gitu melihat binar bahagia orang-orang karena akan difoto.

Foto keluarga. Agaknya sederhana barangnya, selembar kertas saja wujudnya. Tapi luar biasa nilainya.

Oh iya, saya baru beberapa bulan pindah rumah. Tidak seperti lingkungan perumahan tempat tinggal saya sebelumnya, rumah saya sekarang dekat sawah loh. Tetangga-tetangga saya banyak yang berasal dari keluarga menengah ke bawah.

Selalu punya mimpi bisa menyediakan foto keluarga gratis buat tetangga-tetangga di sekitar rumah. Semoga terwujud ya. Amin πŸ™‚

pizzaria

Sibuk ngiris bawang bombay buat saos toping, Sibuk juga nguleni adonan roti πŸ™‚

bram, ojan, kang adam

maenin gadget sambil nunggu pizza mateng πŸ™‚

bandung view from the top

makan pizza sambil liat pemandangan bandung dari atas πŸ™‚

kata bram, pose dm jelek banget 😐

asik banget punya balkon kaya gini

roti isi ala cigiringsing πŸ™‚

Kang Alif, Ojan, dan Bram, setelah seminar proposal.

Oke, saya udah pernah bikin pizza sebelumnya. Tapi baru kali ini saya terlibat hal bernama bikin pizza dengan 1 kilogram tepung O.o

Yap, 1 kilo tepung bisa menghasilkan 8 pan pizza medium. Sesuatu kan yah.

Hari Minggu kemarin (13/11), saya sama Bram sama Ojan main ke rumah Kang Alif, nun jauh di Cijambe sana. Dari Gerlong kami naik angkot sampai Cicaheum. Terus dari Cicaheum naik angkot jurusan Cileunyi, berhenti di Cijambe.

Nah, ga disangka di Cijambe kami ketemu Kang Adam. Dengan perban di kepala, Kang Adam tetap ceria ketemu kami, hehe..

Waktu idul adha kemarin, Kang Adam kena musibah, dipukulin orang entah siapa 😦 Tidak kurang 12 jahitan sekarang menghiasi kepala Kang Adam. Sekarang kondisinya sudah mulai membaik.

Jadi Kang Adam ini jam setengah 4 pagi nunggu angkot di depan bank mandiri setiabudi. Maksud hati ingin mengejar sholat ied di Ujung Berung, di kediaman kakaknya. Dua buah motor berisi 4 orang tiba-tiba berhenti, menanyakan alamat. Tiba-tiba 4 orang ini ngeroyok Kang Adam, pake pentungan pula. Setelah Kang Adam berdarah-darah orang-orang itu pergi begitu saja 😦

Dalam kondisi jalanan sepi, Kang Adam harus jalan kaki dulu sampai ketemu orang di Gerlong. Katanya di Gerlong ramai orang-orang yang lagi takbiran di masjid. Aduuh.. miris banget denger ceritanya. Semoga kejadian ini menjadi penggugur dosa untuk Kang Adam.

Kata Bram, menurut cerita temannya, pelakunya bukan orang Bandung. Mereka juga cuma ngincer orang luar Bandung, makannya tanya-tanya alamat dulu buat ngetes. Yah, apapun itulah, tetep aja atuh mukulin orang teh ga ada kerjaan bangettt 😦

Eh, udah ah, kembali ke cerita pizza, hehe πŸ™‚

Selain ketemu Kang Adam, ternyata ada Kang Agung juga. Akhirnya kami naik ojeg ke rumah Kang Alif di Cigiringsing dengan Kang Agung sebagai penunjuk jalan. Tapi terus Kang Agung gak lama di sana, Kang Adam juga, ada perlu katanya. Tapi Kang Adam balik lagi karena penasaran sama si pizza, hehe πŸ™‚

Singkat cerita, terlibatlah kami dengan tepung 1 kilogram itu. Ojan sama Bram sih yang nguleni, saya bagian menangani saos toping. Awalnya mikir ini 8 pan nanti siapa yang bakal makan coba. Tapi ya emang banyak orang sih. Ada saya, Kang Alif, Ojan, Bram, Kang Adam. Belum lagi ada orang tua Kang Alif, adiknya, sama pacarnya.

Lucunya, walaupun kami masak banyak, tapi ga berasa. Soalnya oven yang ada cuma bisa nampung 2 pan kan. Jadi kerjaan kami itu, giling 2 pan, isi toping, masukin oven, nunggu mateng sambil ngobrol, terus makan. Terus giling lagi 2 pan, isi toping, masukin oven, ngobrol, makan. Gitu aja sampe tiga kali, alias 6 pan pizza πŸ˜€

Nah, karena persediaan toping menipis, akhirnya diputuskan adonan terakhir akan dibuat roti isi saja. Saya dan Ojan memutuskan untuk membuat 2 jenis roti isi. Roti asin berisi daging cincang, sedangkan roti manis berisi keju dan gula. Dan sumpah ya, itu enak bangettt. Kang Alif aja sampe melotot makannya, haha πŸ™‚ Oh iya, Kang Adam harus pulang duluan karena motornya mau dipake kakaknya, jadi tidak menikmati roti isi.

Akhirnya kami pulang setelah magrib. Sempat menikmati pemandangan dari atas balkon di rumah Kang Alif, bagus banget loh liat Bandung dari atas πŸ™‚

***

Terima kasih Kang Alif atas jamuannya πŸ™‚ Sebenernya udah lama pengen masak-masak gini teh. Tapi ya baru sempet sekarang. Itung-itung merayakan seminar proposal Kang Alif, Ojan dan Bram aja kali ya.

Soklah, semoga pizza ini bikin kalian rajin bimbingan #loh >.<

Ayooo, biar cepet sarjana, hihi πŸ™‚