kang kasep, kita menang :)

wah. ini teh lomba ternyata. dm pikir bukan. hehehe..

bulan lalu ngirim tulisan buat website jalan remaja, temanya “satu bola satu bangsa”.

eh, hari ini dapat kabar katanya menang, dapet hadiah buku/novel 🙂

kang kasep, kita menang. alhamdulillah..

repost di sini ah yaaaa 🙂

Kumpul Keluarga feat. Si Kasep Bachdim

Tiba-tiba saja obrolan teman-teman saya diwarnai istilah “pemain naturalisasi”. Hah apa itu, saya tahu yang mereka bicarakan adalah sepak bola. Apalagi coba, walaupun nggak punya tv di kosan saya tau turnamen AFF sedang berlangsung. Ternyata istilah yang satu ini tidak sulit saya mengerti maksudnya ketimbang mengerti apa itu offside, hehehe.. Pemain naturalisasi adalah istilah untuk pemain yang pindah kewarganegaraan. Saya tidak tahu apa sebelum ini pernah ada pemain timnas sepakbola Indonesia hasil naturalisasi. Yang jelas, istilah ini ramai dibicarakan selama AFF berlangsung.

Christian Gonzales dan Irfan Haarys Bachdim si pemain naturalisasi yang ramai disebut-sebut itu. Kalau Gonzales, saya kenal. Sudah tiga tahun lebih saya tinggal di kota tempat Persib merumput. Orang Bandung mana yang nggak tau Gonzales coba? Lain halnya dengan Bachdim, sosok yang kebanjiran follower twitter ini baru saya kenal di AFF ini. Parasnya memang kasep (bahasa sunda untuk ganteng), pantas banyak penggemar perempuan yang histeris sama Kang Bachdim ini. Semoga kasep-nya Bachdim tidak membuat dia ikut-ikutan main sinetron setelah AFF ini, amin. (loh?)

Si kasep Bachdim ini tidak lantas membuat saya menunggu-nunggu pertandingan final AFF antara Indonesia dan Malaysia. Yang saya tunggu dari pertandingan final AFF adalah.. pulang ke Tasik. Iya, selain menghadiri resepsi pernikahan seorang teman, menonton final AFF bersama keluarga adalah salah satu agenda utama saya pulang ke Tasik.

Selama babak penyisihan grup, saya lebih suka mengikuti perkembangan AFF dari berita di internet daripada ikut nonton di kamar kosan sebelah. Beberapa kali ibu saya pernah sms, “Ya, nuju nonton bola teu?” Ya, lagi nonton bola nggak?. “Henteu Mbu, mangkaning rame nya” Nggak Mbu, padahal rame ya. “Palaur eleh” Takut kalah. Ketawa sendiri saya, jarang-jarang loh ibu saya sms. Perjuangan timnas Indonesia di AFF telah mengikat rasa. Saya yakin tidak hanya antara saya dan keluarga saya, tapi seluruh indonesia sudah terikat rasa dengan perjuangan timnas bersimbah peluh mengejar si kulit bundar ini.

Bapak saya juga cerita, “Si Mbu mah sieuneun nonton bola nyalira” Si Mbu takut nonton bola sendiri. “Bapak nuju di dapur disauran” Bapak lagi di dapur dipanggil-panggil. Saya jadi lucu sendiri membayangkan kedua orang tua saya nonton bola di rumah, hihihi.. 🙂 Teteh (kakak perempuan) saya di Jakarta tak mau kalah juga dengan euforia sepak bola ini. Teteh sempat menelepon ke rumah, Bapak mau dibelikan kaos timnas ukurannya apa, katanya. Wah, lengkap sudah seluruh anggota keluarga kami saling terhubung satu sama lain karena pesta garuda di dada ini.

Kedua laga final saya tonton di rumah bersama Mbu dan Bapak. Selain meributkan baju apa yang harus saya kenakan di acara resepsi pernikahan teman saya, kami tak kalah seru membicarakan si kasep Bachdim dan anggota tim lainnya. Oh itu Markus protes karena laser, oh itu Bepe menggantikan Firman Utina. Wah Arif Suyono keren, Eka Ramdani lincah sangat, Nasuha dan Bustomi keukeuh ngejar bola. Yaaah, itu gol Gonzales dianulir. Eh, itu Bachdim nangis ya?!

Kumpul keluarga kami ramai jadinya. Terima kasih timnas Indonesia, perjuangan kalian keren sekali. Kalian merekatkan kami. Satu bola yang kalian kejar merekatkan satu bangsa Indonesia.

Repost dari http://www.jalanremaja1208.org/2011/01/kumpul-keluarga-feat-si-kasep-bachdim/