Serunya Belajar Belly Mapping

Di kunjungan terakhir kami dengan Bidan Okke bulan lalu, suami saya, Mas Bram, sempat diajari oleh Teh Okke bagaimana meraba kepala janin dalam rahim. Waktu konsultasi bersama teteh bidan yang cantik ini selalu membuat kami bahagia. Teh Okke ramah dan baik hati. Saat-saat konsultasi dengan beliau adalah saat diskusi santai dan tidak terburu-buru. Teh Okke tidak pernah menggurui kami, perannya lebih banyak sebagai fasilitator saja. Senang deh πŸ™‚

Sejak saat itu, kalau si adik lagi pendiem, saya suka minta Bram nyari kepala si adik. Just to make sure kepalanya di bawah. Kalo lagi lincah mah tinggal minta tendang aja ke si adik. Kalau udah tau kakinya dimana, otomatis tau kepalanya dimana, hehehe πŸ™‚

Nah, Ahad kemarin (19/5) kami berkesempatan belajar Belly Mapping (pemetaan kandungan) bersama Bidan Yesie dan Tim Hypno-Birthing Indonesia. Seru loh. Ini bisa dibilang versi lengkapnya dari sekedar meraba kepala, ehehe..

Posisi Ideal Bayi

Sebelum membahas teknik Belly Mapping, kita belajar soal posisi bayi dulu yuk.

Posisi paling ideal bagi bayi lahir adalah letak kepala, alias kepalanya di bawah. Tapi gak sekedar di bawah juga ternyata.

Idealnya, bayi menghadap punggung Ibu. Dalam posisi ini, kepala bayi mudah “tertekuk”, yaitu dagunya nyelip ke dada. Jadi bagian terkecil dari kepalanya dapat masuk ke “pintu atas” panggul. Posisi ini disebut Occiput Anterior (OA).

Kebayang ga? Misalkan kalo kita mau pake kaos turtle neck. Ketika memasukan kaos ke leher kan lebih mudah kalo kepala kita nunduk (dagunya nempel ke dada), dibanding kalo kepala kita tengadah. Kalo kita sambil nunduk, ujung kepala duluan yang masuk ke kaos. Kalo sambil tengadah, dahi duluan yang masuk ke kaos. Posisi ujung kepala ini lebih lancip (diameternya lebih kecil) kalo dibandingkan dengan posisi dahi (diameternya lebih besar).

Kebayang kan yah beda posisi anterior sama posterior, sama pengaruhnya pas dia mau masuk jalan lahir? Perhatiin deh gambarnya. sumber gambar dari http://anthrodoula.blogspot.com

anterior (kiri) vs posterior (kanan). sumber gambar dari http://anthrodoula.blogspot.com

Nah, begitupun dengan panggul Ibu. Yang paling pas dan mudah dimasuki adalah kepala dengan posisi “nunduk” tadi, alias anterior.

Kalau bayi madep perut Ibu (disebut Occiput Posterior/OP), dia akan lebih lama masuk ke panggul, soalnya dia agak tengadah. Biasanya kalau posisinya posterior, proses persalinan akan berlangsung lebih lama, dan ngasih efek sakit punggung yang lumayan buat si Ibu.

Si bayi akan butuh waktu dulu buat muter ke posisi anterior. Soalnya kan kalo masih posterior butuh diameter yang lebih luas buat masuk panggul Ibu. Kalau begini biasanya si Ibu ngalamin serotinus (hamil melebihi HPL) dan kontraksi palsu (Braxton Hicks) yang lebih sering.

Ketahui Posisi Bayi dengan Belly Mapping

Belly mapping bisa dilakukan di dua bulan terakhir kehamilan. Dengan belly mapping, diharapkan si ibu bisa mengetahui posisi bayinya dan mengoptimalkan posisi bayi sehingga proses persalinan berjalan lancar dan nyaman πŸ™‚ Langkahnya sederhana kok.

1. Kenali gerakannya, gambar petanya

Untuk bisa mulai memetakan letak bayi dalam kandungan, ibu harus mengenali gerakan bayi. Jika perlu, lakukanlah pengamatan dalam beberapa hari di mana gerakan bayi biasa muncul, bagaimana pola gerakannya.

Di mana ibu biasa merasakan gerakan (tendangan) yang kuat dan gerakan kecil? Di mana ibu biasa merasakan adanya tonjolan? Di mana ibu bisa meraba detak jantung bayi?

Buatlah gambar lingkaran, bisa langsung di perut ibu atau di kertas. Bagilah lingkaran tersebut menjadi 4 bagian (kuadran). Jika digambar di kertas, maka cara melihatnya adalah seperti kita bercermin (sisi kanan ibu berada di sisi kiri peta kertas, dan sebaliknya).

Buatlah tanda pada lingkaran di mana gerakan bayi biasa dirasakan.

Kuadran belly mapping.

Kuadran belly mapping.

Jika ibu merasakan tonjolan, kemungkinan itu kepala atau bokong. Untuk memastikannya carilah detak jantung bayi. Detak jantung bayi akan terdengar dekat kepala.

Untuk menemukan punggung bayi, cobalah raba dengan dua tangan di dua sisi berbeda (bisa minta tolong suami, atau bidan). Jika menemukan sisi yang terasa firm/flat, itulah punggung.

belly-map2

Setelah memetakan tipe gerakan di tiap kuadran bisa digambar deh posisi bayinya.

Untuk bisa memetakan sangat mudah, cukup ingat tiga hal ini:

  • Kepala dan bokong
  • Punggung dan sisi perut
  • Kaki dan tangan

2. Visualisasikan letak bayi

Untuk melakukan hal ini, bisa dibantu dengan menggunakan boneka. Cocokan peta yang sudah dibuat dengan boneka. Lebih jelas seperti gambar di bawah ini.

Ayo cocokan :)

Ayo cocokan πŸ™‚ Kalau gambarnya kurang jelas klik aja ya πŸ™‚

Nah, ketauan kan posisinya. Pada bayi dengan letak posterior tendangan dapat dirasakan ibu di dekat pusar. Kalau bayi anterior biasanya terasa agak atas dekat rusuk. Jika setelah melakukan belly mapping ternyata posisi bayi belum optimal, jangan khawatir. Ada banyak cara untuk mengoptimalkan posisi bayi πŸ™‚ Ini bersambung ke next post aja yah πŸ™‚

***

Kegiatan belly mapping bisa meningkatkan bonding juga loh, antara ibu, bayi dan bapak. Kegiatan ini bisa sangat menyenangkan jika dilakukan bersama pasangan di saat santai. Kegiatan ini bisa dilakukan sambil ngajak ngobrol bayi. Selama proses belly mapping, jika ibu ragu, ibu bisa meminta bayi menunjukkan dimana kakinya dengan meminta sebuah tendangan yang kuat.

Oh iya, jika suami ragu untuk meraba perut ibu, bisa minta tolong diajari bidan saat ANC. Bayi diselimuti cairan ketuban kok, gak apa-apa perut ibu dipegang-pegang, hehe…

ki: foto bareng bidan yesie | ka: hasil karya bram nge-bellymapping dm

ki: foto bareng bidan yesie | ka: hasil karya bram nge-bellymapping dm

***

sumber gambar Belly Mapping Parent Handout. 2006 Maternity House Publishing, Inc. Gail Tully http://www.SpinningBabies.com