ini budi. ini ibu budi. budi siapa?

bulan lalu, saya bantuin temen jadi panitia seminar di desa tempat temen saya KKN. tapi yaa saya lupa nama desanya apa, hehehe.. pokoknya di pangalengan, kabupaten bandung.
anak-anak di desa tersebut tingkat kemampuan membacanya masih rendah. malah banyak siswa yang sudah kelas 2 SD juga belum bisa membaca. seminar yang kami adakan ini ditujukan untuk orang tua siswa agar mau berperan aktif membantu anak-anak mereka belajar membaca. karena bagaimanapun, anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama orangtuanya daripada bersama guru di sekolah.

pemateri dalam seminar itu namanya pak syarif. beliau, waktu ngobrol-ngobrol di mobil, saya ketahui ternyata sering menulis untuk ruangmuslim.com. pak syarif membagi materi dalam dua sesi. sesi pertama lebih banyak berisi motivasi-motivasi untuk para orangtua agar mau turut serta berperan aktif dalam proses belajar anak, tidak hanya mengandalkan guru di sekolah.

“masa mau kalah sama guru di sekolah? nanti anak baca apa-apa gurunya kebagian pahala dari anak kita, karena gurunya yang ngajarin. kan sayang yah, mending pahalanya buat kita,” kata pak syarif.

sesi kedua, pak syarif mengajarkan teknik yang mudah dan efektif untuk mengajarkan anak membaca. menurut pak syarif, anak-anak itu punya rasa ingin tau dan semangat belajar yang tinggi. tugas orang tua adalah mendorong agar potensi si anak dapat berkembang.

Pak Syarif Niskala

berikut tujuh langkah yang saya sarikan dari materi yang beliau sampaikan.

1. pilih 100 kata pendek, terdiri dari 2-3 suku kata. buatlah daftar kata yang dekat dengan keseharian anak. misalkan ibu, ayah, adik, ibak, cau, bola, bibi, dll. kalau di sekolah kan biasanya “ini budi. ini ibu budi” padahal siapa budi? tidak ada teman yang namanya budi, dan tidak juga si anak memanggil ibu, tapi mamah. kata-kata yang dekat dan sering ditemui sehari-hari diyakini akan lebih mudah diserap anak.

2. tulis kata-kata tersebut pada karton, kira-kira ukuran setengah A4. disarankan gunakan kertas yang tebal, agar tidak mudah rusak. memanfaatkan kardus bekas juga bisa.

3. perlihatkan sambil bacakan. ya, perlihatkan karton-karton kata tersebut secara bergiliran sambil dibacakan. tidak usah lama-lama, lima menit saja, dua kali sehari. sebelum si anak mandi pagi dan mandi sore, misalnya. untuk awal-awal mungkin si anak bakal bengong. setelah 4-5 hari anak akan mulai terbiasa, biarkan anak mengucap ulang setiap kata yang kita bacakan (sambil diperlihatkan tulisannya). gunakan 10 kata yang sama selama 1 minggu.

4. setelah 1 bulan, mulai kenalkan anak dengan ‘ng’ dan ‘ny’. “anak saya pas awal-awal baca angin itu an-gin, biarkan saja nanti juga tau sendiri,” kata pak syarif berbagi pengalaman.

5. taruh karton-karton kata di tempat yang terjangkau anak. hal ini memungkinkan anak jika ingin mengulang “pelajarannya” kapan saja. biasanya anak akan senang dengan pengetahuan barunya.

6. jangan dieja. hindari mengenalkan huruf. banyak kasus terjadi anak hafal alfabet dari a-z, tapi belum bisa membaca dan merangkainya menjadi kata-kata.

7. doronglah anak untuk membaca. ketika di warung, di jalan, di mana saja. “itu yamaha, ayah!” dulu anak saya begitu, kenang pak syarif.

teknik ini bisa diterapkan sedini mungkin, sehingga pada usia 3-4 tahun anak sudah bisa membaca. jika dirasa sudah cukup, orang tua bisa mulai mengenalkan buku cerita untuk dibaca sendiri oleh anak.

saya ga punya adik, belum punya anak, dan ga ada anak kecil yang bisa saya jadikan korban untuk mempraktekan teknik ini.
temen-temen mungkin ada yang mau nyoba teknik ini, ke anak orang, atau anak sendiri, hehehe..
semoga bermanfaat.