Pembenaran yang Tidak Berlaku Lagi

Penggunaan perangkat lunak ilegal juga terjadi di Salman. Bagaimana pendapat para pakar IT mengenai hal ini?

Dijumpai saat menghadiri Ubuntu 10.04 Release Party (3/5) yang diselenggarakan POSS UPI (Pendayagunaan Open Source Software UPI), Eko Mursito dan Eko Nurdiyanto turut memberikan pendapat. Kedua Eko ini merupakan pegiat IGOS (Indonesia Go Open Source) Center Bandung.

“Urgensinya buat Salman jelas, halal,” ujar Eko Mursito, Pembina IGOS Center Bandung yang juga Kepala POSS ITB ini.

Lebih lanjut Eko Mursito mengungkapkan bahwa perasaan waktu menggunakan perangkat lunak legal itu berbeda. “Pertama perasaan bahwa saya tidak mencuri, yang kedua perasaan bangga karena menggunakan barang legal,” tutur Dosen Teknik Fisika ITB ini.

“Ya itu aja sih kalau buat saya pribadi, ngerasa nggak dosa kalau mau ngapa-ngapain. Kaya kalau kita menikah,” canda Eko Mursito.

Ditanya mengenai fakta penggunaan perangkat lunak ilegal masih marak terjadi, Eko Mursito berpendapat hal itu memang terjadi karena masalah ketersediaan. “Lha wong yang adanya itu kan, memang nggak ada pilihan.”

Kalau memang sudah tidak ada pilihan, yang haram pun bisa halal. Tapi kalau sudah ada pilihan, pembenaran itu tidak berlaku lagi.

Proprietary Atau Open Source Sama Saja

Pilihan untuk masyarakat jika ingin menggunakan perangkat lunak legal adalah dengan membelinya. Namun demikian hal ini masih menjadi kendala terkait harga perangkat lunak proprietary (berpemilik) yang terbilang tinggi.

Pilihan lain adalah dengan menggunakan perangkat lunak open source. Berbeda dengan perangkat lunak proprietary, perangkat lunak open source berlisensi GPL (General Public Lisence). Dengan lisensi ini memungkinkan orang untuk menggunakan, mendistribusikan, memodifikasi, mengadaptasi dan memperbaiki perangkat lunak tanpa harus membayar.

Di masyarakat sendiri berkembang paradigma kalau menggunakan perangkat lunak open source itu sulit. “Kalau masih bilang gitu berarti masih kuno,” ujar Eko Mursito.

Eko Mursito kemudian memberikan dua contoh yang dialaminya sendiri. “Saya biasa pakai Microsoft office 2003, begitu keluar versi 2007 saya malas belajar. Akhirnya sampai sekarang saya masih pakai yang 2003. Terus anak saya, dia biasa pakai linux. Begitu anak saya lihat Windows Vista, dia bilangnya itu mirip linux.”

Eko Nurdiyanto, Technical Manager IGOS Center Bandung, berpendapat senada. “Kata siapa open source susah? Orang juga pake Windows kan nggak langsung bisa, tapi belajar dulu. Tetap meraba-raba juga pada awalnya.”

Menggunakan perangkat lunak proprietary atau open source sama saja. Harus percaya diri dan punya semangat mengeksplor.

Eko Mursito menambahkan bahwa perangkat lunak tidak terbatas hanya sistem operasi saja. Jika sudah menggunakan sistem operasi yang proprietary, didalamnya masih bisa dipasang aplikasi yang sifatnya freeware. Freeware bisa diunduh dengan mudah di internet.

Masalah Mental dan Budaya

Pembenaran yang sering terjadi di masyarakat diyakini kedua narasumber ini sebagai masalah mental dan budaya.

“Ada kepala sekolah yang bilang ngapain susah-susah pakai open source, orang Windows aja udah banyak. Emang ada polisi yang bakal ngerazia sekolah?” ujar Eko Nurdiyanto membagi pengalamannya pada sebuah acara workshop bersama kepala sekolah dan guru TIK.

Eko Nurdiyanto melanjutkan, masalah utama ada pada aspek legalitas. Kalau membeli tidak masalah, kalau membajak lain lagi ceritanya. “Itu sama saja tidak mendidik, mendidik kan harus dengan cara yang benar. Mungkin banyak orang yang tidak peduli karena belum pernah merasakan hasil karyanya dibajak oleh orang lain.”

Eko Mursito menambahkan, masalah memang ada di mental masyarakat. Kalau mau menunggu penegakan hukum susah. “Lihat saja di jalanan banyak motor naik trotoar, polisinya nggak akan sempat. Balik lagi ke mental masyarakatnya.”

Keduanya juga berpendapat sama bahwa ini merupakan tugas kita bersama untuk mengedukasi masyarakat dan menanamkan keyakinan untuk menghargai hasil karya orang lain.

Budhiana Kartawijaya: “Kita tidak boleh mencuri”

Salman sebagai masjid kampus merupakan lembaga yang mendorong orang untuk produktif dan mandiri. “Semangatnya sudah sejalan dengan semangat open source”, ujar Budhiana Kartawijaya, Ketua Divisi Pengkajian dan Penerbitan YPM Salman ITB.

Budhiana mengakui fakta bahwa penggunaan perangkat lunak ilegal memang masih banyak terjadi di Salman. Budhiana mengungkapkan ingin mengatasi masalah ini, namun belum ada lembaga khusus yang menangani.

Kita tidak boleh mencuri,” ujar Budhiana. Budhiana setuju untuk mendorong unit-unit kegiatan di Salman untuk menghargai aspek legalitas ini. “Apalagi Indonesia sudah meratifikasi konvensi internasional dalam bidang hak cipta,” tambah Budhiana.

Sampai akhir tahun ini, Salman mempunyai target untuk menata kultur unit-unitnya supaya aktif membuat informasi. Setiap unit diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, namun juga sebagai produsen informasi. Setelah kultur ini terbangun, penanaman pemahaman pentingnya legallitas dalam menggunakan perangkat lunak dirasa akan lebih mudah.

Budhiana menuturkan, Salman mungkin akan membeli lisensi atau menggunakan perangkat lunak open source. Tidak menutup kemungkinan juga melakukan kerjasama dengan pihak-pihak terkait seperti IGOS.

kiriman buku dari kedubes Amerika

"Mencari Media yang Bebas dan Bertanggungjawab" && "Buku Pegangan Jurnalisme Independen";

"Tanda Persahabatan dari Rakyat Amerika", tulisan di belakang salah satu bukunya.

hiyah, karena udah upload lebih dari 5 berita di salmanitb.com, berhak dapet 2 buku ini deh 🙂

ini kiriman dari kedubes Amerika, semua relawan dapet (syarat dan ketentuan berlaku, hehe)
judulnya ‘Mencari Media yang Bebas dan Bertanggungjawab’ sama ‘Buku Pegangan Jurnalisme Independen’..

semoga nanti saya tidak malas membaca buku2 ini dan menulis review tentang isinya, amin.

(-_-)”

"Elemen-Elemen Jurnalisme", apa yang seharusnya diketahui wartawan dan diharapkan publik.

jam lima sore buuuuu, baru rapat, hehe..

nah ya, ini varian ketiga dari buku kiriman kedubes Amerika
judulnya “Elemen-Elemen Jurnalisme” karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel.

Berbeda dari dua buku sebelumnya, buku ini sementara baru bisa saya pegang (dan saya foto, hohhoho..).

Karena sodara2, kata kang yudha (itu yang nulis di papan tulis) buku ini harus ditebus dengan sebuah artikel ber-genre indepth reporting.

Ayo semangat, Tristi!! Kita selesaikan indepth reporting kitaaaa..

Saya sama Tristi satu tim, rencananya mau nulis indepth reporting tentang penggunaan software legal di lembaga dakwah. (udah pending 2 minggu ini, heuheu..)

Semoga bisa interview dengan Pak Budi Raharjo (POSS ITB) sama Pak Eko Mursito (IGOS Center Bandung), aminn..

Bismillah ya Rabb.

catatan kecil ketemu kang budhiana

 

Kemarin waktu rapat di Salman ketemu Kang Budhiana Kartawijaya, beliau wartawan senior, Wapemred PR kalau ga salah (hehe, belum sempet kenalan jauh^^). Bukan kali pertama sih ketemu beliau, dulu sempat ketemu pas saya ikut pelatihan jurnalistik di Salman, beliau jadi pematerinya.

Kang Budhiana cerita tentang filosopi jurnalistik, si saya mendengarkan dengan seksama, hehe, seneng deh. Bukan tentang apa yang kita ceritakan, tapi tentang bagaimana kita bercerita. Karena tidak ada hal kecil di dunia ini, semua bagaimana kita memaknainya. Jadi tidak ada hal yang tidak penting. Kita jadi dituntut untuk mengasah kepekaan kita.

Beliau juga berbagi pengalaman waktu menjadi wartawan. Full attention mode saya waktu beliau cerita meliput perang Irak dan menyaksikan langsung waktu patung Saddam rubuh. Wartawan yang meliput perang atau bencana biasanya setelah kembali dari tugas mendapat treatmen khusus. Tidak jarang kengerian disana menjadi trauma tersendiri buat mereka.

Kang Budhiana sendiri selama 4 bulan meliput perang Irak, menyaksikan langsung kejamnya perang di sana. Kota dibombardir, dijatuhi mesiu, langit jadi hitam, butuh beberapa hari sampai mesiu mengendap dan langit kembali normal.  Mesiu yang mengendap itu mencemari sungai tigris, sumber air minum warga di sana. Karena sumber air yang tercemar ini banyak bayi yang terkena ISPA. ASI para ibu ikut tercemar karena mengkonsumsi air yang tercemar mesiu.

Sementara rumah sakit tidak bisa memberikan pelayanan, listrik mati, obat habis. Akibatnya dokter tidak bisa melakukan operasi padahal korban perang terus berjatuhan. Hari itu sekitar 30 bayi masuk rumah sakit, cerita Kang Budhiana. Kebanyakan ISPA, ada juga yang tertembak. Yang selamat hanya 7 bayi.

“Ada seorang bayi melihat saya terus, rasanya seperti minta tolong sama saya, tapi saya nggak bisa apa-apa. Dia lihat saya terus, lama. Terus pelan-pelan matanya menutup, meninggal dunia. Dulu saya selalu bergetar dan menangis kalau bercerita tentang ini, setelah treatmen baru sembuh.”

Hah, itu ya.. beruntung bisa share sama Kang Budhiana 🙂